Keputusan Shell Perusahaan shell mengadakan perjanjian bagi hasil dengan pn tambang batu bara untuk mengelola tambang batu bara di ombilin dan bukit asam. Modal yang ditanam shell sebesar us$ 1,2 milyar. (nas) |
SELAMA bertahun-tahun batubara merupakan hasil yang tak menjadi
perhatian pemerintah Indoneia. Permintaan yang tak seberapa dan
kerugian yang terus dialaminya, menyebabkan tambang batubara di
Ombilin dan Bukit Asam--Sumatera Selatan nyaris menjadi padang
belukar yang sia-sia. Tapi ketika akhir minggu kemarin
perusahaan "Shell" menandatangani perjanjian bagi hasil dengan
PN "Tambang Batu Bara", dan bermaksud menanam modal sebesar US$
1,2 milyar, maka dengan tiba-tiba masa depan Ombilin dan Bukit
Asam akan berobah.
Modal yang hendak ditanam Shell merupakan modal yang terbesar
dalam pertambangan di luar minyak, bahkan lebih besar dari yang
ditanam "Freeport", yang mengusahakan penambangan tembaga di
Irian Jaya. Dari US$ 1,2 milyar yang hendak ditanam itu, US$ 900
juta akan digunakan untuk keperluan produksi di darat, sedang
sisanya digunakan untuk armada pemasaran. PN Batu Bara akan
berperan seperti Pertamina dalam pembagian hasil penambangan
ini, di mana bagian yang akan diterima PN tersebut akan berkisar
sekitar 40 sampai 65%, tergantung dari jumlah batu bara yang
tergali dari penambangan tersebut, di samping itu, sesudah
beberapa waktu nanti, segala peralatan yang didatangkan Shell
untuk keperluan penambangan itu akan menjadi milik PN Batu Bara.
Produksi pada tahap pertama direncanakan 25 sampai 30 juta ton,
sekitar 30 kali lipat produksi sekarang, dan karena keperluan
batubara dalam negeri tak akan sanggup menghabiskan jumlah
sebesar itu maka akan ada sisa untuk diekspor, yang menurut
perkiraan Menteri Pertambangan Sadli, dengan tingkat harga
sekarang ini US$ 20 per ton di daratan Eropa, devisa tambahan
yang bisa diharapkan Indonesia dari ekspor batubara ini akan
berada sekitar setengah milyar dollar per tahun. Tapi yang
penting dari semua itu, meningkatnya produksi batubara akan
mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak dan tenaga
air, yang selama ini merupakan sumber tenaga utamanya.
Sumbar & Sumsel
Dengan adanya krisis minyak maka alternatip sumber tenaga lain
tiba-tiba mendapat perhatian serius. Tak sulit bagi tambang
batubara di Ombilin dan Bukit Asam memperoleh calon pengusaha.
Sejak Oktober tahun lalu, "Shell", yang merupakan perusahaan
terbesar di dunia di luar AS memperoleh izin untuk melakukan
eksplorasi. Shell sudah menggali sebanyak 150 sumur di daerah
seluas 71.000 Km persegi dengan biaya yang dikeluarkan sudah
melebihi US$ 5 juta. Tadinya "Shell" memperkilakan akan
memerlukan waktu dua tahun untuk eksplorasi ini tapi rupanya
mereka tak usah menunggu selama itu. Dengan rasa optimis,
perusahaan ini menyatakan segera sesudah melakukan eksplorasi
bahwa cadangan yang berhasil ditemukan "sudah cukup komersiil
untuk dieksploitir". Sekalipun angka deposit batubara ini tak
pernah diumumkan dengan resmi, namun disebutkan bahwa jumlahnya
mencapai "jutaan ton".
Kegiatan eksplorasi untuk sementara berhenti waktu itu, dan
kegiatan dipusatkan pada pencarian partner dalam usaha
mengumpulkan modal yang diperlukan besar sekali untuk keperluan
penambangan tersebut. Mendengar penemuan batubara yang
potensiil ini kontan beberapa pengusaha Jerman dan Jepang
menengok dan menyatakan minatnya dalam pengusahaan tambang
Ombilin ini. Sebenarnya Shell bisa berpartner dengan membentuk
konsortium di antara pengusaha-pengusaha lain, tapi mungkin karena
besarnya keuntungan yang diperkirakan akan diperolehnya, dan
mungkin karena segan membaginya dengan orang lain, maka Shell
rupanya memutuskan untuk menanggung sendiri segala keperluan
modalnya.
Tambang batubara Ombilin dan Bkit Asam termasuk tambang yang
tertua di negeri ini. Ombilin mulai dieksplorasi di sekitar
1890-an dan Bukit Asam mulai digali pada 1915. Produksinya
sebelum perang mencapai rata-rata 500. 000 ton setahun, dan pada
1931 produksi mencapai rekor 675.000 ton. Perang dunia dan
kemudian merosotnya ekonomi Indonesia menyebabkan mundurnya
kedua tambang itu. Tapi di samping itu, perkembangan tehnologi
yang makin menggantungkan sumber tenaga kepada minyak memang
akhirnya menggeser kedudukan batubara. Produksi batubara Ombilin
dan Bukit Asam sekarang sekitar 90.000 ton dibanding 67.000 ton
pada 1967. Konsumen utama kedua tambang ini saat ini hanya PJKA
Sumatera Barat.
Faktor keuangan juga ikut menghambat perkembangan produksi
batubara selama ini. Perkiraan Departemen Pertambangan adalah
bahwa usaha pertambangan ini baru mencapai titik impas (untung
nol, tapi uang kembali pokok), kalau produksi mencapai setengah
juta ton, yang berarti bahwa dengan produksi selama ini, usaha
penambangan ini terus rugi. Bila usaha rehabilitasi penambangan
tersebut selesai dengan penanaman modal dari Shell dapat
dipastikan bahwa produksinya akan cepat terserap di pasaran.
PJKA Sumatera Barat akan terus memerlukannya, sementara Jerman
Barat dan Jepang mungkin sekali akan membeli sebagian besar
produksinya, dan pabrik Semen Padang yang masih diperluas itu
akan terus memerlukan lebih banyak batubara. Dengan tingkat
produksinya sekarang ini Semen Padang rata-rata membakar 50.000
ton batubara setahunnya. Namun pada 1979 nanti apabila kapasitas
produksi semennya menjadi 1,8 juta ton, pabrik Semen Padang akan
sanggup menelan 400.000 ton batubara setahunnya.
Di samping itu perluasan jaringan kereta-api di Sumatera Barat,
dan perluasan pelabuhan Teluk Bayur akan berhubungan erat dengan
pengembangan tambang batubara di Ombilin dan Bukit Asam. Dari
barang tambang yang hampir terlupakan, maka batubaralah yang
justru akan merobah wajah pembangunan Sumatera Barat dan
sebagian Sumatera Selatan.
|