Menyambut Tun Razak Pm malaysia, tun abdul razak, disambut demonstrasi mahasiswa malaysia ketika berkunjung ke selandia baru dan
australia. mereka antara lain menuntut pembebasan para tahanan politik di malaysia. |
RATUSAN mahasiswa Malaysia telah mengelu-elukan kedatangan PM
Tun Abdul Razak di Selandia Baru awal pekan lalu. Namun bukan
seperti yang diidam-idamkan oleh PM Malaysia itu. Sebab begitu
tiba di Wellington hari Senin 13 Oktober, para mahasiswa sudah
siap berdemonstrasi di depan hotel tempat Tun Razak menginap.
Sebelum kedatangannya, seorang mahasiswa Malaysia yang kuliah di
Universitas Victoria, Rubert Pui telah mengirim surat protes
atas nama kawan-kawannya ke alamat PM Selandia Baru, Bill
Rowling karena bersedia menjadi tuan rumah bagi kepala
pemerintahan yang katanya "sangat tidak demokratis" dan
"melanggar Piagam Hak-Hak Azasi PBB".
Kantor berita Reuter dari Wellington memberitakan, tujuan demo
itu adalah untuk memprotes penghapusan hak-hak politik mahasiswa
Malaysia. Mereka juga menuntut pembebasan semua tapol di
Malaysia, penghentian kegiatan mata-mata politik terhadap
mahasiswa Malaysia di luar negeri, serta pencabutan semua
keputusan legislatif yang menindas rakyat Malaysia. Sambutan
yang serupa, juga diorganisir oleh Persatuan Mahasiswa Australia
(AUS) ketika PM Tun Abdul Razak meneruskan perjalanannya ke
Australia dalam trip 5 hari ke kedua negara itu.
Di Selandia Baru mahasiswa Malaysia berjumlah 2000. Sedang di
Australia, merekalah yang mendominir kegiatan seksi OSS
(Overseas Students Service) dari AUS. Hanya 2« bulan sebelum
muhibah Tun Razak itu, tepatnya dari tanggal 28 Juli sampai
dengan 1 Agustus, seksi OSS/AUS baru saja menyelenggarakan Pekan
"Solidaritas Internasional" guna mendukung perjuangan politik
mahasiswa Malaysia dan Singapura di dalam & di luar negeri.
Sebagai puncak acara, para mahasiswa mengadakan rapat akbar di
Melbourne dan Sydney. Dalam kesempatan itu mereka mengajukan 12
pasal tuntutan. Isinya antara lain tuntutan pembebasan sejumlah
tahanan politik dari kalangan mahasiswa dan dosen, dan yang
paling banyak disebut-sebut adalah Khoo Ee Liam, Juliet Chin,
Tan Wah Piow, dan Prof Syed Hussein Ali. Selanjutnya mereka
menuntut pencabutan UU Keamanan Dalam Negeri yang selalu
dijadikan dalih untuk menahan para pembangkang dengan
semena-mena, serta Amandemen UU Perguruan Tinggi tahun 1975 yang
berusaha mengebiri semua hak politik mahasiswa dan perguruan
tingginya setelah demonstrasi bulan Desember 1974 di Malaysia.
Masih banyak lagi tuntutan mahasiswa dalam Pekan Solidaritas
Internasional itu. Misalnya pembubaran Perjanjian Pertahanan 5
Negara yang ditetapkan setelah Inggeris menarik pasukannya dari
Malaysia & Singapura--hanya untuk digantikan pasukan kulit putih
Australia & Selandia Baru. Kebijaksanaan pemerintah Malaysia
yang menurut mereka "hanya menganak-maskan" ras Melayu juga
mereka kecam sebagai kedok untuk mempertahankan kepentingan
pribadi tokoh-tokoh politik, usahawan dan bangsawan Melayu,
sambil mempertajam ketegangan rasial di Malaysia. Dan sebagai
gantinya mereka menuntut pembagian tanah untuk semua buruh tani,
serta sistim ekonomi yang lebih berdikari dengan membatasi
eksploitasi manusia dan sumber alam Malaysia oleh investor
asing. Khususnya PMA Inggeris, Amerika. Jepang, dan Rusia yang
diam-diam mulai menyusup pula ke dalam perekonomian Malaysia.
Agen Cina
Melihat sikap anti politik-Melayu Tun Razak, serta kenyataan
bahwa figur-figur pembangkang itu banyak terdiri dari mahasiswa
Malaysia turunan Cina, bisa timbul kesan bahwa latar belakangnya
hanyalah rasa terdesaknya golongan Cina dalam pentas politik
Malaysia. Dan sebaliknya, para mahasiswa pembangkang itu mudah
sekali dicap "agen Komunis RRT" oleh polisi Special Branch
Malaysia. Namun kalau ditinjau secara lebih mendalam sejarah
pergerakan Malaysia sejak 1974--tampaklah bahwa sangkaan itu
tidak seluruhnya benar. Mewarisi sistim Anglo-Saxon di bidang
pendidikan dan politik, kebebasan mimbar memang sudah merupakan
satu tradisi yang sangat dihargai di kampus-kampus Singapura dan
Malaysia.
Dari kampus-kampus itulah lahir tokoh pergerakan mahasiswa dan
sarjana - yang pada mulanya kebanyakan berasal dari golongan
Cina yang mampu, serta keluarga bangsawan Melayu. Kebanyakan
mahasiswa aktif dalam gerakan mahasiswa intra-universiter,
sedang dosennya ada yang sekaligus menjadi "otak" Partai
Sosialis Rakyat Malaysia. Belakangan ini, sudah muncul pula
tokoh-tokoh muda Islam yang terhimpun dalam ABIM (Angkatan Belia
Islam Malaysia). Sedang generasi muda Cina yang tidak senang
terhadap apa yang mereka anggap "peng Melayu-an" seluruh sektor
kehidupan di Malaysia, sebagian ada yang pergi belajar di
Singapura, dan menjadi aktivis USSU (University of Singapore
Students Union). Gerakan ekstra-parlementer yang bersumber dari
kampus makin keras suaranya. Kritik-kritik sosial yang mula-mula
hanya disuarakan lewat mimbar kampus dan mimbar mesjid kemudian
mencapai puncaknya, ketika serentetan demonstrasi melanda
seluruh Malaysia Barat Desember tahun lalu.
Tahanan Taiping
3000 orang polisi menyerbu masuk ke kampus Universitas Malaya
tanggal 7 Desember, dan menangkapi mahasiswa dan dosennya. Di
hari-hari yang menyusul masih banyak lagi dosen dan mahasiswa
yang diciduk, termasuk 5 aktivis USSU yang dipanggil pulang dari
Singapura dengan tuduhan mendukung para penghuni liar di Tasek
Utara serta berkampanye buat partai Komunis bawah tanah
Malaysia. Dari 41 orang yang ditangkap, kebanyakan sudah
dibebaskan secara bersyarat, tapi 18 orang masih dalam tahanan
untul jangka waktu minimaI 2 tahun tanpa melalui proses
peradilan. Dari nama-nama mereka yang kebanyakan masih mendekam
dalam kamp tahanan Taiping itu tersiar nama ketua ABIM Annuar
Ibrahim, anggota DPP Partai Sosialis Rakyat Malaysia Dr Syed
Hussein Ali, Sekjen USSU Juliet Chin, dan seorang puteri Melayu
yang jadi redaktris majalah Truth yang sudah dicabut SITnya,
Sahiba Abdul Samad, serta Ibrahim Ali, Hamzah Kasim,
Kamaruzaman, dan lain-lain, 8 orang di antaranya malah tidak
pernah disebut-sebut namanya oleh pers.
Nasib mereka itulah yang ingin dipersoalkan para mahasiswa
Malaysia yang menyambut kunjungan Razak ke Australia dan
Selandia Baru. Mungkin karena tak bisa bersuara di dalam negeri.
Dan bagaimana reaksi Razak? Kepada yang berasal dari Malaysia,
dan punya ambisi politik, dianjurkannya agar "belajar keras,
cari ijazah, lantas pulang". Dia tidak lupa memperingatkan
mereka, bahwa aksi politik mereka bisa merenggangkan hubungan
Malaysia dengan Selandia Baru. Setidak-tidaknya mengakibatkan
pemerintah Malaysia membatasi pengiriman mahasiswanya ke
Selandia Baru. Sedang dari Menteri Pendidikan Malaysia,
Mohammad Mahatsir mengancam akan menangkap para mahasiswa
pembangkang itu setelah pulang ke Malaysia nanti. Pokoknya,
Razak cukup tidak enak menghadapi demonstrasi mahasiswanya yang
dibantu mahasiswa tuan rumah. Jadwal acaranya agak terganggu,
namun pembicaraan dengan PM kedua negara itu antara lain
tentang Timor dan Brunei yang bakal merdeka -- tetap berjalan
tanpa disiarkan apa kesimpulannya.
|