Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/V/25 - 31 Oktober 1975
   
Kesehatan

Malahan Jadi Pembunuh

Penyakit anjing gila menyerang desa rumoong & lansot, kec. tareran, minahasa. beberapa orang meninggal, tapi ada dugaan, suntikan anti rabies yang dilakukan seorang mantri juga penyebab kematian. (ksh)

ANJING memang terkenal kesetiaannya. Dia bisa juga menjadi amat
galak, karena itu orang suka menggunakannya sebagai polisi
rumah. Di Manado, orang memelihara binatang ini tidak hanya
untuk mengambil manfaat dari sifat-sifatnya itu, di sini
dagingnya pun bisa naik ke atas meja makan menjadi santapan nan
tari'is menurut dialek orang di sana. Tetapi minggu lalu daging
binatang ini tiba-tiba menjadi pusat kecemasan, setelah penyakit
rabies atau anjing-gila menyerang desa Rumoong dan Lansot,
Kecamatan Tareran, Minahasa. Lima orang meninggal dan limapuluh
lainnya terpaksa istirahat di rumah sakit. Namun yang meninggal
bukan hanya lantaran gigitan anjing gila, satu usaha vaksinasi
anti-penyakit gila juga punya andil dalam membunuh beberapa
orang. Pembantu tetap TEMPO di Tomohon Phill M. Sulu
mengirimkan laporannya sebagai berikut:

Kisah maut ini bermula dari seorang anak kecil. Namanya Sandi
Tenda, usia 3 tahun. Satu hari yang sial dia digigit oleh seekor
anjing milik Ronny Kumaat. Mantri kesehatan setempat J Kondoj
segera memberikan pertolongan dengan menyuntikkan ATS. Dia juga
mengingatkan kalau anjing yang menggigit itu mati dalam 14 hari,
si pemilik harus memberitahukannya. Malangnya si pemilik lupa
melaporkan bahwa anjing mati sebelum masa yang
diancang-ancangkan. Beberapa hari kemudian Sandi terserang demam
parah dan mulutnya berbusa. Tak salah lagi ini tentu akibat
gigitan anjing gila tadi. Sandi segera memperoleh suntikan
vaksin anti rabies seri no 209 yang biasa dibeli oleh mantri
Kondoj dari sebuah toko obat milik seorang Tionghoa di Manado
Sandi tak sempat tertolong, dia meninggal.

Biofarma

Ronny Kumaat si empunya anjing gila menyesal setengah mati,
lantaran anjingnyalah yang telah membunuh seorang anak yang
masih muda sekali. Tapi dia sendiri sebenarnya mulai was-was,
sebab anjingnya itu pernah menggigitnya suatu hari. Secepat
kilat Ronny minta suntikan vaksin anti rabies. Namun ketika
datang melayat Sandi, tiba-tiba dia terserang demam dan mulutnya
berbusa persis seperti yang diderita anak yang tinggal jasad
itu. Karena peristiwa ini, seisi kampung menjadi panik. Semuanya
segera berangkat minta vaksin anti penyakit anjing-gila pada
mantri Kondoj. Tak terkecuali mereka yang hanya digigit oleh
kucing, termasuk Selvian Tenda suami isteri, orang tua dari anak
yang malang tadi. Alasannya hanya karena pernah menjamah mayat
anaknya. Karena itulah mereka menjadi cemas kalau-kalau mereka
ketularan. Tentang nasib Ronny Kumaat, dia sempat dirawat di
rumahsakit Manado sebagai penderita radang otak dan meninggal
dunia juga sekalipun sudah disuntik sebanyak 14 kali dengan obat
anti anjing gila.

Kemudian kabar kematian dengan didahului gejala-gejala terserang
penyakit anjing gila datang beruntum Nyonya Tumbel yang mendapat
suntikan vaksin anti rabies 209 buatan Biofarma, Bandung juga
meninggal. Nyonya Sumayouw dari desa Rumoong yang juga
memperoleh vaksin anti anjing gila tiba-tiba terserang radang
otak. Ibu ini meninggal, setelah dirawat 3 minggu lamanya di
Rumahsakit Gunung Maria, Tomohon. Nyonya Rumangu Sumakul
mendadak demam dan sekujur tubuhnya lumpuh. Nah, mulailah orang
curiga, jangan-jangan suntikan anti rabies itu sendiri yang
menyebarkan maut. Kecurigaan itu mendapatkan alasan yang kuat
dengan adanya keluhan kepala sering pusing dari 50 orang
penduduk yang pernah mendapatkan vaksin. Bayangkanlah, Selvian
Tenda ayah dari anak yang meninggal terdahulu, tiba-tiba pulang
ke akhirat, padahal dicium anjing pun dia tak pernah. Dari
sinilah keterangannya mengapa fihak petugas di daerah Minahasa
sudah menyita sisa vaksin yang ada di tangan mantri Kondoj dan
dikirimkan langsung ke Bandung untuk diperiksa. Sampai sebegitu
lama Bandung sendiri belum mengeluarkan keterangan mengenai
hasil penelitian terhadap vaksin yang dibeli dari toko Tionghwa
tersebut.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data