Kadet Akbar, Menjelang 1 Oktober Seorang penumpang gelap menyerang awak kapal MS AS Carya 30 september malam. Orang tersabut diduga bernama Syaiful
Akbar, seorang kadet AIP. Kini ia menghilang keluarganya tak percaya orang tersebut Syaiful. (krim) |
TANGGAL 30 September malam di atas kapal MS Ascarya terlihat
penumpang gelap. Ia secara bertubi-tubi memukuI jurumudi Rauf
dan bunyi ini terdengar telinga Mualim II Saleh Hidayat Tapi
Saleh juga diserang penumpang itu sehingga ia terpaksa
mengundurkan diri. Rauf melarikan diri untuk lapor pada mualim
I. Kayu pemukul sepanjang 1« meter dibuang penumpang gelap yang
kemudian turun ke dek sekoci kapal berbendera Panama itu.
Begitulah berita telepon dari nakhoda kapal yang sedang dalam
perjalanan antara pelabuhan Tanjung Priok dan Semarang. Dari
laporan-laporan selanjutnya diketahui bahwa penumpang gelap itu
adalah kadet AIP, Akademi Ilmu Pelayaran, bernama Syaiful Akbar.
Setelah sampai di Semarang penumpang gelap ini baru dicari.
Usaha ini juga dilakukan ketika kapal singgah beberapa jam di
Surabaya. Tapi sia-sia nah, atas dasar inilah pimpinan Marine
Departement PT Samudera Indonesia. Ir Syafaril membikin
beberapa kemungkinan mengenai hilangnya Syaiful Akbar. Mungkin
turun di Semarang atau sembunyi di kapal. Mungkin juga
menceburkan diri ke laut. Kemungkinan terakhir ini dinilai
sendiri oleh Syafaril scbagai sangat tipi kecuali kalau memang
Syaiful punya gejala abnormal
Syaiful, menurut surat Syafaril kepada Direktur AIP, sebenarnya
sudah bisa ditangkap. Tapi Saleh Hidayat mengurungkan niat
tersebut, karena ia sangsi apakah pemuda ini bersenjata atau
tidak. Lagipula alur pelayaran ramai. Jalan fikiran ini agak
membingungkan sebab jika Syaiful bersenjata tentu ia tidak perlu
mengambil papan kayu yang kemudian dibuangnya itu. Kemudian
tengah malam jam 24.00 seorang taruna AIP lainnya, Sudjud,
ketika sedang makan angin pada dek kanan belakang bertemu dengan
Syaiful. "Semalam saya dimutasikan oleh kantor ke kapal ini.
Saya tidur di kamar dekat anjungan", begitu jawaban Syaiful
ketika ditanya Sudjud. Dari surat Syafaril kepada Direktur AIP
timbul kesan seolah-olah kepastian bahwa penumpang gelap itu
adalah Syaiful baru diperoleh setelah keesokan harinya Sudjud
memberikan laporan. Sebab Rauf dan Saleh Hidayat, yang diserang
penumpang gelap itu menyatakan belum pernah kenal dengan Syaiful
Akbar. Begitu sebagian isi laporan Syaiful. Namun orangtua
Syaiful yang mengumpulkan bahan-bahan di Semarang memperoleh
keterangan bahwa belum lama setelah kapal meninggalkan dermaga
Tanjung Priok, Saleh Hidayat sudah menjamu Syaiful.
Sebagai seorang kadet yang sudah beberapa bulan ditugaskan di PT
Samudera Indonesia. Syaiful tentu tidak mungkin naik ke kapal
MS Ascarya tanpa izin atau persetujuan atau janji salah seorang
yang berwenang, misalnya kapten kapal, chief mualim atau
pejabat di kantor pusat PT Samudera Indonesia yang mencarter
kapal tersebut. Itu kata Nazaruddin, ayah Syaiful, kepada TEMPO
minggu lalu. Malah timbul dugaan bahwa Syaiful, yang
panggilannya di rumah Aki, justru dipancing dengan fasilitas
yang baik di kapal. Maklum Syaiful memang sudah kepingin kembali
dituaskan di kapal yang berlayar ke luar negeri. Tanggal 2
Oktober yang lalu sebenarnya Syaiful ditugaskan ikut kapal
Darpo Satu tapi sampai saat yang ditentukan nakhoda belum
bertemu dengan Syaiful. Sehari saja Syaiful mendapat cuti, yakni
tangal 27 September 1975, setelah bekerja keras di kapal Darpo
Satu. Mata Aki sampai begkak-bengkak", kata azaruddin
teringat keluhan anaknya yang ditugaskan 36 jam hampir tanpa
istirahat. Sedangkan fasilitas di kapal tersebut yang hanya
melayani jalur antar pulau lebih payah dari pada kapal berjalur
internasional.
Terbang
Syaifu ditempatkan di Darpo satu terhitung sejak 25
September 1975. "Itupun dengan pertimbangan untuk tidak
mematikan karirnya", begiu kata Syafaril. Perusahaaa pelayaran
itu masih memberikan tugas kepada Syaiful setelah yang
teakhir ini membuat pernyataan tertulis mengaku bersalah dan
menyesal atas perbuatannya sebelum itu. Penilaian oleh nakhoda
kapal Pancaran Sinar, yang dua kali membawa Syaiful berlayar ke
Jepang, menyebutkan Syaiful tidak mempunyai minat terhadar
pekerjaannya dan sama sekali tidak mempunyai inisiatif.
Sebagai taruna dalam latihan, ia menolak bekerja melebih
jam-jam yang ditentukan dan tidak mau mengadakan latihan
kecakapan laut melebihi syarat mini mum. Enggan mengikuti
latihan sekoci yang diwajibkan bagi seluruh awak kapal dan
enak-enak saja tidur di kamar walaupun sudah diperintahkan
bangun oleh mualim. Sikapnya yang acuh tak acuh dan tidak mau
menghomati atasannya inilah yang menyebabkan nakhoda Pancaran
Sinar memulangkan Syaiful dar Singapura ketika kapal itu sedang
berada disana. Pengusiran itu terjadi tanggal 26 Juli yang lalu
dan pada saat itu juga Syaiful terbang dari Singapura menuju
Jakarta.
Tengah Malam
Menurut Syafaril ada permintaan dari Syaiful agar hal ini tidak
dilaporkan kepada AIP supaya tidak dipecat dan supaya masih
diberi tugas proyek laut. Oleh ayahnya, Syaiful disuruh kembli
ke AIP Bila memang tidak ada kecocokan hati dengan awak kapal
Pancaran Sinar supaya minta pindah tugas saja. Pernah Syaiful
berusaha minta ditempatkan di kapal yang melayani trayek
internasional. Tapi belum ada yang berkenan membawanya.
Di balik hilangnya Syaiful ternyata banyak awak kapal Samudera
Indonesia yang punya hubungan tidak baik dengan kadet tingkat
IIitu. Baik kapten mau pun chief atau mualim sampai staf di PT
tersebut - yang berwenang menempatkan kadet-kadet AIP yang
ditugaskan menjalani proyek laut. Karena itu bila Polisi hendak
mengusut peristiwa ini barangkali mereka perlu mengusut
orang-orang ini Secara resmi polisi baru mengetahui perkara ini
setelah Nazaruddin melaporkan ke Komdak Metro Jaya. Yang agak
beda adalah sikap nakhoda kapal Ascarya ini. la hanya melapor ke
Samudera Indonesia. Kepada syah bandar atau yang berwajib di
Semarang tidak disampaikan laporan mengenal peristiwa tengah
malam 30 September menjelang 1 Oktober itu. Begitu juga ketika
kapal singgah di Surabaya. Tanpa ada laporan kepada penguasa di
sana. Menurut Ir. Syafaril laporan lengkap tertulis akan
dikirimkan nakhoda setelah kapal tiba di Jepang.
Memijit-mijit
Mungkin ada perimbangan komersiil mengapa perkara hilangnya
Syaiful tidak segera dilaporkan kepada yang berwajib. Namun
Nazaruddin segera mengerahkan perkara ini kepada lembaga
Bantuan Huhum Jakarta, supaya bisa menyelesaikan soal hilangnya
Syaiful ditinjau dari kacamata Perdata dan Pidana. Sebab sesuai
dengan perkiraan Syafaril sendiri bila penyerang itu normal,
sulit ditebak apa motifnya untuk menyerang seseorang tidak
dikenal tanpa sesuatu alasan. Surat Syafaril kepada Direktur
AIP, L. Moniaga, dibikin tanggal 10 oktober 1975 setelah ada
permintaan dari AIP dan setelah perkara ini dimuat di beberapa
koran.
Nazaruddin amat mendongkol karena dalam surat Syafaril itu
disebutkan identitas Syaiful sebagai "taruna yang, berambut
gondrong ini". Bagian ini selain dinilai tidak ada sangkut
pautnya dengan perkara juga tidak pantas dikemukakan apalagi
tidak sesuai dengan kenyataan. "Seolah olah orang yang rambutnya
gondrong boleh begitu saja dibuang," kata Nazaruddin, yang
tinggal di Jalan Batu III, Jakarta. Anaknya, menurut Nazaruddin
berambut biasa dan sehari sebelum meninggalkan Jakarta berfoto
bersama keluarga dengan rambut pendek. Kakak kandung Syaiful
sangsi apakah adiknya berani berbuat senekat itu "Adik saya itu
sifatnya lembek dan malah agak penakut", begitu kakak
kandungnya. Jika kebetulan ada di rumah, Syaiful sering
memijit-mijit ibunya Dengan siat-sifatnya itu keluarga
Nazaruddin nyaris tidak percaya Aki nyelonong ke kapal Ascarya
bila tidak ada apa-apa. Pada akhir bulan September kemarin
memang kapal tersebut, yang akan berangkat ke Semarang, Surabaya
dan Yokohama, merapat di Tanjung Priok di mana kapal Darpo Satu
tempat tugas Syaiful juga berada. Aki yang punya 3 adik dan 2
kakak ini di tingkat I AIP mempunyai nilai yang baik dan tidak
memiliki kesalahan di resimen.
|