Biaya MTQ Itu MTQ tingkat nasional yang diselenggarakan tiap tahun dianggap terlalu sering, dan memakan biaya. Sebaiknya biaya itu digunakan untuk membangun mesjid, sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan sebagainya. (kom) |
TULISAN ini dimaksud untuk mengajak merenung sejenak dengan
segala keterbukaan hati, tanpa diawali prasangka apa-apa.
Semogalah dapat kita perbincangkan bersama.
Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ ) di Indonesia diadakan setahun
sekali. Mungkin karena di Kuala Lumpur MTQ Internasional juga
diadakan setahun sekali. Namun karena jalurnya kita mulai dari
tingkat desa--kecamatan--kabupaten -- propinsi sampai ke
tingkat Nasional, waktu setahun terasa singkat sekali. Baru
selesai mengikuti MTQ Nasional, kita harus bergegas bersiap
menyambungnya dengan MTQ tingkat desa, kecamatan, kabupaten
propinsi guna MTQ Nasional berikutnya. Demikian seterusnya,
entah sampai kapan . .
Suatu estafet yang melelahkan juga Sehingga ada daerah yang
belum beres melunasi biaya MTQ yang lalu, terpaksa menyusun
lagi ancang-ancang untuk mengumpulkan dana bagi MTQ mendatang.
Memang ada baiknya kesibukan marathon ini, sehingga Al-Quran
setidak-tidaknya selalu diingat masyarakat. Tapi karena waktu
yang terlalu memburu, maka tidah cukup kesempatan untuk
meningkatkan mutu. Jika terus demikian mungkin MTQ nanti jadi
membosankan, sebab hanya merupakan kegiatan dari itu ke itu saja
. . . monoton. Samrpai-sampai ada bisikan: "Apa bedanya dengan
festival penyanyi pop . . ."Mungkin sentilan ini keterlaluan,
setelah bagaimanapun membaca ayat-ayat Tuhan berpahala adanya.
Tapi dari sudut lain mungkin ada juga benarnya: sang qari dan
qariah yang dielu-elukan melagukan ayat suci dengan irama merdu
merayu, dengan tepukan riuh mengiringi . . . padahal kita
diwajibkan tunduk diam dan memperhatikan bila ayat Tuhan
diperdengarkan.
Di setiap menjelang MTQ, mulai tingkat desa sampai ke tingkat
Nasional, terasa semangat kerja ummat Islam di mana-mana buat
mensukseskan. Suatu kegairahan yang patut disyukuri dan
dibanggakan. Memang berlomba-lomba dalam kebajikan di suruh
Tuhan, asal pada tempatnya- sebab toh kita nanti tak akan
mempertandingkan kontes sholat, misalnya .... Cuma patut
disayangkan banyak yang hanya menggandrungi pelaksanaan MTQ
saja, dan sedikit yang gandrung mendalami Al-Qurannya sindiri.
Bahkan dikhawatirkan ada diantara panitia-panitia yang karena
begitu diasyiki MYQ, terkadang terlupa membuka A-Qrannya di
rumah seminggu sekali saja. Hingga sang Qur'an tertutup
debu...sedih juga. Namun akan hal ini terpulang pada niat
masing-masing sahaja. Dalam pada itu bagi daerah-daerah di mana
kegiatan lain kurang terlihat MTQ lebih merupakan wadah rekreasi
dari pada sasaran ideal yang dituju. Masyarakat
berbondong-bondong sebagian hanya ingin hiburan, dan suara qari
dan qariah tenggelam ditengah hiruk pikuk manusia....begitulah.
Andaikata tiap kabupaten memerlukan biaya MTQ hanya Rp 3 juta
saja (termasuk beaya MTQ desa dan kecamatan) maka untuk satu
propinsi yang rata-rata punya 10 kabupaten, ditambah biaya MTQ
tingkat propinsi sendiri minimun 10 juta, semuanya akan
berjumlah 40 sampai 50 juta rupiah. Jika yang mengikuti MTQ
hanya 20 propinsi saja, maka tiap ahun dikeluarkan biaya
minimum 1 milyar rupiah. Belum terhitung biaya MTQ Nasional.
Memang sebagian besar dana itu dari umat Islam sendiri. Namun
satu milyar rupiah cukup fantastis.. Apa lagi pada saat yang
sama, di Indonesia yang nota bene 90% penduduknya beragama
Islam, terdapat jutaan pemuda putus-sekolah. Pada saat yang sama
di tanah air tercinta ini ribuan mesjid belum selesai terbangun.
Pada saat yang sama di persada pertiwi ini ratusan Panti Anak
Yatim belum punya bangunan yang memadai, rumahsakit-rumahsakit
Islam belum terwujud sempurna, missi da'wah kekurangan dana,
dan lain-lain.
Sungguh tragis bila mengingat lebih 1 milyar rupiah terhambur
kurang terarah..Mungkin dengan uang 1 milyar rupiah dapat
dibangun Sekolah Pembangunan yang modern di tiap propinsi,
mengingat dana untuk sekolah-sekolah Inpres cuma sebesar 2« juta
rupiah perbuahnya. Dengan uang 1 milyar mungkin di tiap propinsi
dapat dibina perpustakaan lengkap yang terasa sangat kurang.
Atau mungkin dapat didirikan Pusat Pendidikan Kejuruan atau
Pusat Latihan kerja bagi pemuda-pemuda putus-sekolah. Atau
bahkan mungkin dibikin komplek pesantren yang sepurna. Semua ini
dapat didirikan dari dana ummat Islam sendiri.... sungguh hebat.
Saya sama sekali tiak berpendapat MTQ sebaiknya dihapuskan.
Malah alangkah baiknya bila selalu ditinggikan nilainya, baik
pembacaannya maupun penghayatannya. Agar MTQ betul merupakan
sarana pembangunan mental bangsa. Cuma bagaimana bila tidak usah
diselenggarakan setahun sekali. Mungkin cukup dua tahun sekali,
atau tiga tahun sekali misalnya. Akan halnya yang mewakili
Indonesia di forum MTQ Internasional, bisa digilirkan di antara
para para pemenang periode yang sama.
Sedang dana yang dikumpulkan setiap tahun, walaupun mungkin
tidak sebanyak yang diperhitungkan - cukup separuh atau
sepertiganya, mungkin dapat dimanfaatkan bagi pendidikan
generasi muda. Atau kalaupun akan diarahkan guna mendalami Quran
mungkin dapat digunakan sebagai subsidi bagi penerbitan
tafsir-tafsir Quran, sehingga kita dapat menyediakannya dengan
harga murah. Mengingat walaupun orang sudah begitu gandrung MTQ
sayang sampai saat ini belum setiap rumah sanggup membeli tafsir
Quran yang baik. Mungkin juga bisa dibuatkan gedung/aula-aula
yang representatif tempat mengajar Tafsir, di mana staf
pengajarnya dibayar dengan imbalan yang tinggi dari dana tahadi.
Manfaat yang langsung terasa. Dalam menjabarkan pola hidup
sederhana sekarang, mungkin lebih baik bila kita efisien. Karena
Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.......inna-Hu
la juhibbul musrifien (7:31).
Namun akhirnya semua terpulang pada panitia pelaksana, serta
siapa saja yang berwenang memutuskan. Dan entah bagaimana
pendapat Menteri Agama Republik ini.
LATIEF F. HANAFIAH
Jalan Kahuripan 4
Amuntai, Kalimantan Selatan.
|