Setelah Tirai Dibuka Untuk mencegah turunnya harga timah, sidang ITC (International Tin Council) memutuskan pembatasan ekspor negara produsen. Namun kemerosotan harga timah tak terbendung karena resesi dunia. (eb) |
SIDANG ITC (International Tin Council) di London baru-baru ini
kembali memutuskan perpanjangan pengawasan ekspor timah sampai
akhir Desember. Ini merupakan pembatasan ekspor yang ke-3
kalinya, untuk mencegah merosotnya harga timah. Namun jatah
ekspor secara total, dinaikkan menjadi 35 ribu ton. Jatah
tersebut dibagi-bagi 43%, untuk Malaysia, 18% untuk Bolivia,
13% untuk Indonesia dan 12% untuk Muangthai. Sisanya sebanyak
12% dibagi-bagi antara Australia, Nigeria dan Zaire. Tapi Zaire
yang dapat jatah 1.376 ton hanya sanggup mengekspor 1.176 ton.
Kekurangan ini akhirnya dibagi-bagi antara beberapa negara
produsen di mana Indonesia kebagian jatah tambah 29 ton -- yang
tidak banyak artinya melihat besarnya kemampuan produksi PN
Tambang Timah.
Kendati demikian, kemerosotan harga tetap tak bisa terbendung.
Sejak negara produsen menikmati harga tertinggi melebihi œ 4000
per metric ton lahun lalu, bulan lalu di bursa London harganya
turun sampai œ 3150, dan di Penang, Malaysia hanya M$ 991 per
pikul. Malah beberapa hari setelah sidang ITC usai harga kian
anjlok. Harga serendah itu sempat mengancam tambang timah
Bolivia karena ongkos produksinya lebih tinggi dari harga jual
selain karena harus melebur bijih timah berkadar rendah hingga
butuh bahan bakar lebih banyak, hampir seluruh bijih timah
Bolivia dilebur di Texas. Kebangkrutan dapat dihindari karena
pemerintahnya cepat turun tangan. Pabrik peleburan Vinto yang
sudah tua akan diperluas kapasitasnya dari 7.500 ton menjadi 25
ribu ton. Bagaimana dengan Indonesia?
Dilarang menimbun
Gara-gara pembatasan ekspor timah, 2 kontraktor PN Tambang
Timah, yakni Koba Tin dan BHP terpaksa menghentikan sebagian
karyawannya. Untuk masa 9 bulan sampai Desember 1975 Indonesia
hanya mendapat jatah ekspor 12,9 ribu ton. Sedang produksi tahun
lalu 25 ribu ton--23 ribu ton diekspor, dengan nilai $AS 172
juta. Dari seluruh produksi tahun lalu itu, hanya 15 ribu ton
dilebur di Muntok, selebihnya di Penang. Kalau saja tahun
depan 3 tanur berkapasitas 18 ribu ton selesai, semua bijih
timah yang ditambang oleh PN Tambang Timah, Koba Tin maupun
perusahaan swasta nasional di pulau Kundur - akan dilebur di
Muntok. Sedang BHP sampai kini masih taraf penjajakan
kemungkinan investasi. Sebelum pengumuman pembatasan ekspor oleh
ITC, sasaran produksi PN Tambang Timah tahun ini berjumlah 26,5
ribu ton--yang tidak mungkin akan dicapai. Mengapa? "Karena
setiap negara produsen tidak boleh menimbun, dan untuk itu
diawasi secara ketat oleh ITC" sahut satu sumber TEMPO.
Menurut dia, tahun ini betul-betul merupakan tahun prihatin.
Memburuknya harga timah di pasaran dunia jelas akan mengurangi
pendapatan PN Tambang Timah. Merosotnya harga timah itu karena
resesi ekonomi dunia. Pabrik-pabrik mobil yang banyak
menggunakan timah belum pulih dari berbagai krisis. Di samping
itu pelepasan cadangan timah AS yang selama semester pertama
tahun lalu meliputi 21 ribu ton juga merupakan penyebab turunnya
harga timah di pasaran dunia. Tidak hanya itu. RRT yang masih
berdiri di luar pagar ITC, diam-diam telah melemparkan timahnya
ke AS, Eropa dan Jepang. Jumlahnya pun cukup besar. Sampai
September lalu Cina telah mengekspor 11 ribu ton, sementara 8000
ton lagi akan dilemparkan sebelum akhir tahu ini. Diperkirakan
tambang timah RRT yang terletak di Yunan itu dapat menghasilkan
18--20 ribu ton setahun yang menempatkan RRT sebagai anggota 5
besar setelah Malaysia, Bolivia. Indonesia dan Muangthai. Lantas
apa gunanya kwota Indonesia terus ditekan, sementara AS dan Cina
terus menerobos pintu belakang?
|