Korban Satu Lagi Sugiyanto, pekerja pabrik karung PT Karuna ditangkap polisi & kemudian diketahui meninggal. Sebab kematiannya belum jelas, tapi badannya penuh luka. Ia ditangkap dengan tuduhan mencuri sepeda motor. (krim) |
SUGIYANTO mungkin sedang mimpi ketika tiga orang yang mengaku
polisi masuk ke kamar tidurnya. Ia segera dibawa oleh
orang-orang yang tidak dikenal itu, meskipun orangtuanya
berusaha keras menghalanginya. Tindakan orangtua Sugiyanto
tampaknya bisa dibenarkan karena para tamu tidak bersedia
menunjukkan identitasnya. Dan juga tidak bisa menunjukkan surat
perintah penangkapan. "Ibu tidak perlu tahu", begitu seorang
dari mereka menjawab ketika ibu Sugiyanto menanyakan mengapa
ada tengah malam itu juga anaknya harus diangkut. Dipesankan
kepada wanita itu agar keesokan hari saja datang ke Komdak.
Benar, keluarga Sugiyanto keesokan harinya 23 September 1975,
menanyakan nasib pemuda itu ke sana. Ternyata tidak ada tahanan
bernama Sugiyanto. Usaha pencarian juga dilakukan ke Komwil 74
Jakarta Selatan, Komsekko 742 Tebet, 744 Mampang Prapatan dan
745 Pasar Minggu. Hasilnya nol besar. Tapi kemudian si ibu
mendapat kabar yang agak menggembirakan dari polisi yang
ditemuinya bahwa anaknya sudah pulang. Buru-buru Ny. Suratman
pulang untuk melihat anak sulungnya itu. Kini ia dikecewakan
lagi karena berita itu tidak terbukti benar. Selang beberapa
lama, baru datang beberapa polisi Komdak. Kali ini beritanya
sangat mengejutkan. Sugiyanto sudah meninggal. Suratman yang
sedang bekerja di kantor disusul untuk diberitahu nasib anaknya.
Uang Duka
la menanyakan kepada seorang kapten, perwira operasi,
sebab-sebab kematian anaknya, Sugiyanto, 23 tahun. Kapten ini
sudah siap dengan jawaban begini. Sugiyanto mengalami kecelakaan
lalu lintas ketika berusaha melarikan diri dari kendaraan yang
mengangkutnya. Suratman menguber dengan pertanyaan, di mana
kecelakaan itu terjadi dan kalau begitu, tentu masih ada tersisa
bekas tetesan darah, walau sedikit. Untuk kali ini sang kapten
tidak bisa memberikan komentar kecuali minta ijin untuk pergi.
Dan sementara itu muncul seorang mayor yang menenteramkan
keluarga Suratman bahwa kematian Sugiyanto adalah satu musibah.
Itu musibah bisa terjadi pada siapa saja begitu sang mayor
menasehati. Tapi kemudian datang larangan bagi keluarga Suratman
untuk melihat mayat korban. kecuali bagian muka.
Larangan itu tentu hanya menambah kecurigaan keluarga korban.
Dari Rumah Sakit Persahabatan diperoleh keterangan bahwa
Sugiyanto meninggal hanya beberapa saat setelah diserahkan
polisi. Sejumlah petugas kepolisian mengajak musyawarah dengan
keluarga Suratman. Tapi Suratman sendiri masih belum siuman
sehingga diwakili oleh 3 orang familinya. Hasil musyawarah telah
disepakati bahwa penguburan ditangani oleh kepolisian dan
kendaraan juga disediakan Komdak. Selain itu polisi berbaik hati
dengan memberikan uang Rp 50 ribu sebagai tanda duka. "Tapi uang
itu sekarang masih utuh. Saya simpan kalau-kalau ada apa-apa",
kata Ny. Suratman kepada TEMP0 awal- bulan ini. Semua uang yang
dipergunakan bukan pemberian polisi.
Dalam perkara Sugiyanto ini belum jelas apa yang menyebabkan
kematiannya. Yang kelihatan hanya luka bakar di kaki, juga luka
di dahi, dada dan bibir. Bagian atas telapak kakinya nampak
luka seperti terkena benda keras. Akan nasib Dulkamid, yang
ditangkap bersama dengan Sugiyanto, belum ketahuam Keduanya
ditangkap karena tuduhan terlibat dalam pencurian sepeda motor.
Teman Sugiyanto itu kabarnya sekarang masih meringkuk di kamar
tahanan Komsekko 711 Jatibaru.
Untuk menentukan siapa yang ber-salah dalam perkara matinya
Sugiyanto, Komdak Metro Jaya sedang memeriksa dua informan dan
seorang polisi. Sang polisi, bila kedapatan cukup dasar hukumnya
tentu akan bernasib sama dengan rekan-rekannya yang menyebabkan
kematian Martawibawa dua tahun yang lalu. Tampil ke Mahkamah
Militer Jakarta-Banten untuk diperiksa. Namun sementara itu
Suratman mengadukan soal kematian anaknya ini ke Lembaga Bantuan
Hukum Jakarta. Anak sulung ini punya 9 orang adik dan sampai
meninggalnya masih berstatus perjaka. Sekitar lima tahun sudah
ia bekerja di pabrik karung PT Karuna, tidak begitu jauh dari
rumahnya di Kelurahan Pejaten Pasar Minggu. Menurut ibunya,
Sugiyanto tiap bulan memberinya sisa uang gaji, walau sedikit,
sebab gaji Sugiyanto memang hanya sedikit. Pergaulannya dinilai
biasa saja dan tidak nampak berfoya-foya sehingga ibunya agak
heran ketika anaknya kena tuduhan mencuri motor. Sugiyanto
sendiri menyimpan sebuah motor di rumah dan perkenalannya dengan
Dulkamid melalui Halim, pemilik bengkel sepeda motor yang sering
memperbaiki motor Sugiyanto. Tidak jelas bagaimana Sugiyanto
dapat memiliki motor. Ada yang mengatakan bahwa hidupnya tidak
sebersih yang disangka ibunya. Tapi itu belum terbukti - dan ia
sudah mati. Pemuda malang ini 24 September sudah dimakamkan
tidak jauh dari rumahnya. Tempat ini pilihan keluarga almarhum
yang kurang setuju dengan tempat di kuburan Karet seperti
dipilihkan oleh Polisi .
|