Saudagar Dari Sekura Thamrin, seorang guru SMEP Sekura, berdagang meja bundar. Dia juga terjun dalam usaha bangunan. usahanya yang lain adalah mendirikan pabrik es dengan biaya Rp 8 juta, sebagian berasal dari kredit. (eb) |
15 tahun yang lalu Thamrin cuma seorang guru SMEP Sekura,
kecamatan Teluk Kramat. Kemudian pengusaha pribumi yang
berijazah SMEA Negeri itu mencoba berdagang meja bundar dari
kayu banir yang banyak didapat di Sekura ini kebanyakan dipakai
di warung-warung kopi yang bertebaran di seluruh Kalimantan
Barat. Jualannya itu segera mendapat sambutan hangat di
kalangan pengusaha warung kopi. Baik di Sekura, Sambas,
Pemangkat, Sing kawang dan Pontianak. Makanya tak heran kalau
Thamrin setiap bulan hilir mudik ke Pontianak.
Waktu itu harga meja bundar sekitar Rp 1.250. "Tapi sekarang
sudah mencapai Rp 8.500", kata seorang pemilik kedai di Sekura.
Mungkin karena melihat penerimaan dari dagang meja bundar itu
sudah mulai jenuh dan ketinggalan zaman walaupun kelihatannya
antik juga - Thamrin mulai berpikir lebih jauh. Dia buka usaha
lain yang lebih besar: borong-memborong bangunan Sambutan pun
cukup baik bagi pemborong satu-satunya di Sekura itu. Dia baru
saja menyelesaikan beberapa bangunan SD Inpres baik di Sekura
maupun di Paloh.
Tauke Melayu
Begitu selesai, dia ambil langkah maju lagi. Terfikir olehnya
bahwa kebutuhan es di Sekura dan sekitarnya datangnya dari jauh
sekali. Yakni dari Sambas, yang memakan ongkos dan harga jadi
melambung. Berkat kegigihannya, ia memperoleh kredit mini (KIK)
untuk membangun sebuah pabrik es, yang bangunannya saja memakan
biaya Rp 8 juta. Dia sendiri masih punya modal. Makanya kredit
yang Rp 5 juta itu dia belikan generator 20 KVA dengan kompresor
buatan Jerman merek Bithzer. Bangunan pabrik yang sudah selesai
dikerjakan itu letaknya persis di hidung bioskop Sekura.
Mengapa Thamrin tertarik mengerjakan pekerjaan ini? "Untuk
kecamatan Telok Keramat saja setiap harinya diperlukan 3 ton
es", sahutnya. Soalnya penduduk di situ sudah mencapai 65 ribu
jiwa. mlenurut rencana, akhir bulan lalu pabrik itu sudah mulai
berproduksi. Mesin pembuat esnya yang bermerek Virnag buatan
Jerman dapat memprodusir 2 ton es sehari. Usaha barunya itu
segera menambah panjang daftar usahanya yang membelikan julukan
"tauke Melayu" padanya. Mulai dari menjual meja bundar untuk
warung kopi atau meja makan di rumah-rumah Cina, berdagang
rotan, obat-obatan. mengusahakan angkutan perahu bermotor, dan
memboyong pekerja dari daerahnya untuk disalurkan ke pabrik
penggergajian yang duhulu sedang jaya-jayanya.
Walaupun urusannya lebih banyak di Singkawang atau Pontianak,
dia tetap berdomisili di Sekura sambil mengajar murid-muridnya
ilmu dagang. Untuk urusan dagangnya itu dia cukup memakai sebuah
scooter Vespa 150 cc dengan helm dan jaket kulit yang selalu
melekat di badannya. "Itu perlu untuk menahan angin, hujan dan
panas antara Sekura-Singkawang-Pontianak sepanjang 250 Km",
katanya.
|