Bukan Pengantin Baru Bank pembangunan daerah kal-bar membantu program pembangunan
daerah yang disebut program penyertaan. kecamatan yang digarap
adalah nanga pinoh. di situ digalakkan sektor peternakan dan
perkebunan. (eb) |
23 September yang lalu, merupakan tanggal yang menggembirakan
bagi direksi dan seluruh karyawan Bank Pembangunan Daerah
Kal-Bar. Dengan satu ketokan Palu, ketua DPRD Kal-Bal drs
Soewardi Puspoyo merubah pasal 8 Perda No. 1/1963 tentang
pendirian BPD Dirut BPD Kal-Bar drs Nurdin yang juga hadir-
dalam rapat Pleno DPRD itu pun tersenyum puas. Karena dengan
demikian disepakati penambahan modal BPD Kal-Bar menjadi Rp 1
milyar .
Tambahan modal itu tidak percuma. Bank yang sekaligus menjadi
pemegang kas propinsi Kalimantan Barat itu kerjanya memang bukan
cuma ngitung duit dan ngitung untung melulu. "Kita punya proyek
yang dinamakan Program Penyertaan", kata dirutnya yang pendek
gempal pada pembantu TEMPO, Ridwan AS. Sebuah kecamatan yang
dirangkul dalam proyek itu adalah Nanga Pinoh, kabupaten Sintang
yang hampir 500 Km jauhnya dari kota Pontianak. Untuk
menjangkaunya dari Pontianak cukup sulit. "Bayangkan saja,
bisa makan waktu sampai seminggu kalau pakai kapal bandung",
ujar Nurdin yang sering hilir mudik ke sana. Yang disbut
Kapal bandung itu merupakan sejenis alat angkutan air di
pedalaman Kal-Bar di mana selain mengangkut penumpang dan barang
ada juga gubuk tempat tinggal taukenya. Bagi yang pengantin baru
enak juga untuk berbulan madu.
Koboi Pribumi
Nah, kembali ke Nanga Pinoh. Meskipun kecamatan itu cukup jauh,
tapi untuk kota selepas Sintang maka penduduk Nanga Pinoh
termasuk relatif besar. Yakni 28 ribu jiwa dengan daerah seluas
1871 KmÿFD. Maksud Program Penyertaan BPD itu adalah mengajak
masyarakat agar membuat daerah yang tidak banyak potenisinya
itu menjadi produktif. Tadinya antara kota Sintang dan kecamatan
Nanga Pinoh itu tumbuh ilalang seluas 300 ribu Ha. ~Menurut ~
Nurdin, ilalang di seluruh Kal-Bar mencapai lebih dari 2 juta
Ha dan yang terbanyak di Nanga Pinoh. Makanya ada tanah negara
di kecamatan itu seluas 1700 Ha yang hampir seluruhnya ditumbuhi
ilalang, oleh BPD diganti-rugi. Baru 700 Ha dari 1700 Ha ilalang
itu dihijaukan di bawah pitnpinan BPD. Dari situ mulailah usaha
BPD mengajak serta masyarakat situ yang belum terjangkau oleh
Dinas-Dinas Pemerintah Pusat maupun Propinsi.
Di atas tanah seluas 700 Ha yang dihijaukan itu BPD dan rakyat
mengusahakan peternakan. Semula cuma 50 ekor sapi, selain itu
ada juga tambahan bibit sapi Bali dan Ongole yang dibeli L3PD.
Tapi dalam 3 tahun saja itu ternak sudah berlipat-ganda menjadi
300 ekor sapi. Berkat dorongan BPD di situ telah berhasil pula
ditanam 800 batang cengkeh. 28 Ha serai wangi (dalam penyertaan
BPD sendiri 5 Ha) lada berumur 2 tahun sebanyak 4000 batang.
Ayam telor 500 ekor. Di samping itu telah berdiri pula pabrik
penyulingan serai wangi seharga Rp 2 juta. Sedang untuk
menjaga 300 ekor sapi itu ada koboi pribumi dengan 10 ekor kuda
pengawal. "Dalam mengelola pekerjaan begitu BPD cuma turun
tangan sementara saja", tutur Nurdim Tapi setelah mampu jalan
sendiri diserahkan kepada Koperasi Ranak Betung yang kini
sudah beranggota 50 orang. dan hanya didampingi tenaga ahli
BPD.
Hasilnya, kegiatan perdagangan di anga Pinoh segera menyaingi
Sintang. Meskipun 2 tahun lalu seluruh propinsi Kal-Bar
kesulitan beras, Nanga Pinoh bahkan mampu menjual surplus
berasnya ke Pontianak. Tapi itu ketika penduduk belum mencapai
jumlah 28 ribu jiwa seperti sekarang ini. Dan memang untuk
pertanian kecamatan Nanga Pinoh itu tidak cocok, ujar dirut BPD
itu. Makanya dia memilih bidang perkebunan dan peternakan.
Kemudian, kegiatan galak-menggalakkan partisipasi rakyat itu
disodorkannya pula ke kecamatan Nanga Semitau yang masuk
kabupaten Kapuas Hulu, 125 Km dari situ. Cuma hasilnya tidak
sehebat apa yang dibikin di Nanga Pinoh, sebab di Nanga Semitau
cuma dicoba penanaman 500 pohon kelapa.
BPD yang mulai beroperasi tahun 1964 itu sekarang telah
mempunyai 10 kantor cabang. Yaitu Pontianak, Singkawang,
Pemangkat, Ketapang, Sanggau, Sintang, Nanga Pinoh, Semitau dan
Putussibau. Seluruh karyawan baik yang di kantor pusat maupun di
pelosok mencapai 150 orang. Untuk mengisi "aki" karyawannya,
tiap tahun BPD mengirimkan 10 orang belajar perbankan di Yayasan
Pengembangan Perbankan Indonesia di Kemang, Jakarta. Adapun
usaha model Program Penyertaan BPD Kal-Barr itu bukan hanya
dilakukan Kal-Bar, tapi juga oleh BPD Sumatera Barat dan
DKI-Jaya. Cuma bentuknya yang berbeda. Lagi pula, usaha di
pelosok terpencil Kalimantan Barat itu memang pantas dipuji.
Lantaran bekerja di daerah yang nyaris pearawan.
|