Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/V/13 - 19 September 1975
   
Ekonomi dan Bisnis

Kabar Baik Dari Detroit

Indonesia tak dapat mempertahankan ekspornya, bila ekonomi dunia terus dilanda resesi. Ekspor karet Indonesia tergantung pada industri mobil di AS (detroit). Kenyataan harga karet mulai naik. (eb)

DENGAN ekonomi dunia yang masih terus dilanda resesi, dapatkah
tahun ini Indonesia mempertahankan ekspornya yang mencapai rekor
AS 6.5 milyar tahun lalu? Data yang terkumpul sampai Juli
kemarin menunjukkan bahwa Indonesia tak akan mungkin
mempertahankannya. Ekspor termasuk minyak, selama semester
pertama merosot dengan $AS 700 juta dibanding semester pertama
tahun lalu, dan kemerosotan ini nampaknya akan terus bertambah
karena resesi dunia diperkirakan baru akan berakhir tahun depan.
Minyak ternyata mulai kehilangan pamornya sebagai bahan ekspor.
Dalam enam bulan pertama ekspor minyak Indonesia turun dengan
$AS 339 juta dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara
ekspor minyak sampai Juli kemarin hanya mencapai $AS 2187 juta.
$AS 500 juta lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu.

Karena harga minyak tidak turun, maka turunnya nilai ekspor
berarti turunnya volume yang diekspor dan ini merupakan
pencerminan dari masih adanya resesi di negara pengimpor minyak
Indonesia. Terutama Jepang. Atau tindakan bersama negara maju
dalam menghemat pemakaian bahan bakar mulai berhasil, yang
mengakibatkan permintaan mereka akan minyak berkurang, seperti
yang ditunjukkan oleh berkurangnya ekspor minyak dari
negara-negara penghasil minyak lainnya. Diperkirakan industri
Jepang dan Amerika kini hanya bekerja dengan kapasitas 75, dan
selama industri ini belum mencapai kapasitas penuh, selama itu
pula permintaan minyak mereka tak akan naik.

PMA Merosot

Tapi kemerosotan yang lebih parah terjadi pada ekspor bahan lain
selain minyak, yang selama pertengahan pertama hanya mencapai
$AS 413 juta, satu penurunan sebesar $AS 364 juta dari enam
bulan pertama tahun lalu. Bulan Juli kemarin ekspor bahan-bahan
ini hanya mencatat $AS 99 juta, sementara bulan Juli tahun lalu,
ekspor bahan non-minyak ini mencapai $AS 184 juta. Resesi jelas
memukul hampir semua bahan ekspor Indonesia. Situasi ekspor yang
tak sebaik tahun lalu rupanya masih- harus ditambah dengan
mengeringnya aliran devisa dari pemasukan modal akibat anjloknya
PMA selama tahun ini.

PMA yang tercatat sampai April ini hanya mencapai $AS 35 juta,
sedangkan sampai April tahun lalu, PMA ini masih membanjiri
Indonesia dengan $AS 511 juta. Kenapa modal asing tiba-tiba
menjadi seperti terhenti'? Mungkin pembatasan untuk ruang gerak
modal asing sudah lebih ketat, atau perangsangnya sudah tak
menarik seperti dulu, atau karena memang masih adanya resesi di
negara asal modal asing. Suka atau tidak suka, berkurangnya
aliran modal asing mengakibatkan bahwa bagian impor yang
dibiayai oleh sumber devisa dalam negeri menjadi makin besar
satu keadaan yang kurang menguntungkan pada rekening modal,
dalam neraca Pembayaran bunga dan cicilan hutang Indonesia
kepada negara-negara IGGI, tiap tahun bertambah.

Untunglah, gambaran neraca pembayaran Indonesia dan
kemungkinan-kemungkinannya tidaklah sehitam data yang muncul
terdahulu. Ekspor karet Indonesia yang nasibnya tergantung dari
industri mobil di AS, mungkin akan merupakan bahan ekspor yang
akan mengalami perbaikan paling dulu dibanding bahan ekspor yang
lain. Para pengamat ekonomi umumnya berpendapat bahwa AS akan
merupakan negara industri pertama yang pulih dari resesi
sekurang-kurangnya awal tahun depan. Industri perumahan dan
mobil--motor penggerak pertumbuhan ekonomi - sudah mulai
menunjukkan gejala meningkat. Pedagang karet di sini barangkali
akan lega mendengar kabar dari Detroit bahwa penjualan mobil di
AS selama bulan Juni merupakan angka penjualan yang tertinggi
selama 11 bulan terakhir pertanda bahwa kemerosotan industri
mobil sudah melewati titik terendah nya. Stok mobil yang belum
terjual mulai berkurang, dan pabrik-pahrik mobil mulai memanggil
kembali buruh-buruh yang selama ini dirumahkan. Dan memang harga
karet sejak beberapa bulan terakhir ini memang tak semurung
harga bahan ekspor lainnya. Di kala harga bahan ekspor lain
anjlok, harga karet ternyata stabilbahkan mulai menunjukkan
gejala naik.

Lagi pula neraca pembayaran Indonesia mungkin akan tertolong
oleh berkurangnya impor tahun ini dibanding tahun lalu. Yang
jelas dengan dihentikannya impor beras dan tekstil, satu
penghematan sudah dimulai. Pupuk pemakan devisa terbesar,
impornya tahun lalu hampir mencapai $AS 900 juta. Namun dengan
mulai turunnya harga pupuk di luar negeri dan bertambahnya
produksi dalam negeri, satu penghematan devisa akan terjadi
lagi. Memang kalau merosotnya ekspor diimbangi oleh penghematan
devisa pada impor, pengaruh resesi akan bisa dinetralisir,
sekurang-kurangnya sampai akhir tahun ini. Selebihnya akan
merupakan teka-teki, seperti halnya teka-teki ekonomi tahun 1976
bagi para ekonom.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data