Menguber Penderita TBC Menurut WHO, Indonesia termasuk kategori high-pre- valence country thd TBC. Karena itu pengobatan dilaksanakan secara intensif. Akibat sampingan berakibat budek, atau muntah-muntah. (ksh) |
MASIH ngendonnya penyakit menular, seperti TBC, sering digunakan
orang untuk menilai maju tidaknya sesuatu negara. Indonesia
bagaimana? Menurut WHO negara kita ini termasuk kategori
high-prevalence country atau negeri dengan tingkat penularan TBC
yang tinggi. Saban tahun orang yang terbunuh karena penyakit ini
berkisar antara 30.000 sanpai 40.000 orang. Serentak dengan itu
tiap tahun muncul pula penderita baru sekitar 200.000 orang
banyaknya. Para penderita baru tersebut tentu tidak seluruhnya
punya kemampuan untuk menularkan penyakit kepada orang lain,
walaupun mereka sendiri tak suka. Tapi yang merasakannya sebagai
penyakit pun hanya 60 dari jumlah tadi -- sementara sisanya
kalem-kalem saja, tak merasakan apa-apa.
Buat negara-negara sudah berkembang atau katakanlah
negara-negara Eropa, penyakit ini tidak menjadi persoalan lagi.
Ada memang penduduk di sana yang mengidapnya, tetapi penyakit
tersebut hanya terpandang sebagai penyakit pribadi dan bukan
penyakit masyarakat seperti di sini atau di negara-negara yang
tingkat kemajuannya kurang lebih sama. Sebaliknya, penghasil
obat anti TBC, negara-negara Eropa malah kejangkitan penyakit
baru. Yaitu bagaimana memasarkan obat hasil produksi fabrikan di
sana. Apalagi cara pengobatan penyakit paru-paru ini
terus-menerus memperoleh kemajuan. Mulai dari sistim operasi
sampai pada penggunaan obat suntik dan pil seperti INIH,
Streptomycin dan PAS. Pemasaran obat-obatan jadi lebih banyak
mengalir ke negara-negara terkebelakang.
Tetapi pada tahun-tahun belakangan ini, obat-obat tadi mulai
dianggap konvensionil -- dengan ditemukannya Rifampicin, yang
dianggap jauh lebih cepat daya sembuhnya. Dan lebih murah. Untuk
meyakinkan penguasa-penguasa di bidang kesehatan di sini,
CibaGeigy sebagai produsen Rifampicin dengan merek Rimactane
melakukan percobaan klinis di beberapa tempat. Yang terakhir
berpusat di Malang dengan 300 penderita, meliputi 200 orang di
Kabupaten Malang dan 100 lagi dari Bali. Di sini obat baru
tersebut diperbandingkan daya sembuhnya dengan obat-obat TBC
yang lain. Caranya: ada pasin yang mendapat obat TBC
konvensionil dan ada pula yang mendapat obat mutakhir. Lama
percobaan klinis ini sampai 3 tahun. Maklumlah, untuk
mengumpulkan penderita TBC yang sama sekali belum memperoleh
obat anti TBC memang agak sukar.
Plastik & Dahak
Departemen Kesehatan, sebagai lembaga yang berkewajiban
menyelamatkan masyarakat dari penyakit menahun ini, sudah barang
tentu menyambut baik usaha perusahaan farmasi yang manapun.
Malahan departemen duduk sebagai teman kerjasama dengan
perusahaan yang sudah disebut dalam melaksanakan percobaan
klinis itu. Prof Sulianti Saroso yang dulu menjabat Direktur
Jenderal Pencegahan & Pemberantasan Penyakit Menular, dan
sekarang Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan, ikut terbang ke Malang pertengahan bulan
Agustus yang baru lalu untuk membuka secara resmi percobaan obat
TBC tersebut.
Sebelum sampai pada acara resmi-resmian, percobaan itu sendiri
sebenarnya sudah dimulai sejak Januari tahun ini. Namun,
berjalan sampai 8 bulan, pasin yang dapat dikumpulkan untuk
Malang baru 45 orang. Sedang untuk daerah Bali cuma 26 orang.
Dari sinilah keterangannya mengapa dr RA Handojo sebagai
pelaksana proyek percobaan ini akan mengambil jalan pintas untuk
mencukupi jumlah pasin yang 300 orang. Yaitu dengan melaksanakan
program active case finding yang berarti mencari pasin secara
aktif dan tidak tinggal tunggu di rumahsakit seperti semula.
Dokter Handojo merasa yakin bahwa jumlah yang 200 untuk Malang
dan 100 untuk Bali akan dapat dipenuhi, berhubung penderita TBC
untuk Jawa Timur saja berjumlah lebihkurang 180.000 orang.
"Untuk tujuan ini kita akan mengirimkan petugas untuk
menyebarkan kantong plastik ke rumah orang yang tercatat sebagai
penderita TBC. Ke kantong plastik itu penderita tadi diminta
sudilah kiranya membuang sputum (dahak) di situ, kemudian
diambil lagi oleh petugas lantas diperiksa di laboratorium --
apakah sputum itu positif atau tidak", urai Handojo.
Beberapa orang penderita sudah selesai menjalani kewajiban minum
obat-obatan yang digunakan dalam percobaan tersebut secara
gratis. Setelah pengobatan usai, mereka masih tetap diharuskan
datang ke pusat percobaan untuk mendapat obat-obatan lanjutan
seperti vitamin-vitamin. Di antara mereka ada yang berat
badannya sudah bertambah 4 kg, ada pula yang tambah lima kilo.
Pokoknya lumayan. Seorang dari penderita ternyata pelajar SMP
yang baru berumur limabelas tahun.
Obat-obatan itu diberikan secara langsung ke dalam mulut si
pasien. Jika di antara mereka ada yang berhalangan, ada petugas
yang datang ke rumah dan mendulang obat tadi langsung juga ke
dalam mulut. Tiap obat memang punya pengaruh samping. Seorang
dari 26 pasin di Malang itu menjadi budek telinganya setelah
berkali-kali menelan Rifampicin. "Dia terpaksa tidak
diikutsertakan lagi, atas nasihat seorang dokter ahli Telinga,
Hidung dan Tenggorokan", kata Handojo. Memang dalam tiap
percobaan klinis, berat untuk mempertahankan tidak seorang pasin
pun yang jebol karena berbagai alasan. Percobaan sebelumnya pun,
dengan obat yang sama di Yogyakarta, dengan jumlah pasin hanya
82 orang, ternyata ada yang putus pengobatan sebanyak 3 orang.
Sebab, pengaruh sampingan memang kadang-kadang cukup berarti.
Misalnya muntah-muntah, ataupun pindah rumah dan parahnya
kondisi pasin sampai-sampai dia harus mondok -- sedang si pasin
tak mau meninggalkan rumah dan sanak keluarganya. Tapi inilah
dia: rakyat sekarang sedang diburu-buru obat.
|