Bila Minyak Turun Turunnya harga minyak menyentuh Indonesia, apalagi Jepang
sebagai konsumen terbesar mengalihkan perhatiannya ke minyak RRC. Hal ini menyebabkan pertamina memperhatikan lng untuk ekspor diluar minyak.(nas) |
APA kabar harga minyak? Resminya memang tidak turun. Dan
bertahan pada harga riil 10,46 dollar per barrel. Itu sesuai
dengan keputusan bulat 12 anggota OPEC di Wina akhir tahun lalu.
Tapi belakangan ini beberapa negara minyak Arab seperti Abu
Dhabi dan beberapa Emirat lainnya - merasa sulit untuk bertahan
pada harga itu. Barangkali, negara-negara konsumen besar yang
dipelopori AS mulai berhasil melakukan diplomasi penekanan harga
seperti dianjurkan Menlu Henry Kissinger. Jula suasana resesi
yang belum pulih itu masih membuat banyak pabrik di negara
industri merasa was-was untuk menggalakkan produksi mereka. Tapi
apapun sebabnya, gejala turunnya harga minyak dunia itu juga
menyentuh Indonesia. "Kami sudah tidak lagi bertahan pada harga
12,60 per barrel", kata seorang kontraktor minyak asing di
Jakarta. Kepada TMEPO si kontraktor itu mengakui bahwa harga
sehenarnya yang kini berlaku adalah di bawah itu. "Bahkan kami
pernah menerima dengan 11,30 dollar per barrel", katanya.
Dari kalangan Pertamina sendiri belum diperoleh keterangan
tentang penurunan harga seperti itu. Tapi beberapa kalangan
minyak asing lainnya sekalipun mengelak menyebutkan harga
sebenarnya--mengakui betapa sulitnya untuk bertahan pada harga
yang sekarang. Bagi Indonesia yang mengekpor sebagian besar
minyaknya ke Jepang, gejala penurunan harga itu bisa dimengerti.
Jepang sejak tahun lalu makin senang melirik ke RRT yang-
memiliki minyak sekwalitas Indonesia, tapi berani menjualnya
dengan harga lebih rendah. Siasat "banting harga" RRT itu bisa
saja dengan mudah mereka lakukan mengingat mereka toh bukan
anggota OPEC. Beberapa pengamat Cina beranggapan RRT menjual
murah minyaknya dengan tujuan untuk menyaingi ekspor minyak Uni
Soviet ke Jepang.
Tentu masih ada alasan lain bagi RRT untuk memasang harga
minyaknya sekitar 11,50 dollar per barrel: Tapi jika keterangan
dari sumber kontraktor asing di Jakarta itu benar adanya, tentu
akan membuat fihak Indonesia makin prihatin. Mungkin itu pula
sebabnya, Dirut Pertamina Dr Ibnu Sutowo tidak ingin
menggantungkan kegiatannya pada satu bahan ekspor saja.
Baru-baru ini, selama kunjungannya ke Kalimantan Timur dan Aceh
Dirut Pertamina itu makin menaruh perhatian pada proyek LNG:
gas bumi yang dicairkan yang banyak digunakan untuk industri dan
bahan bakar kebutuhan rumah tangga.
Team JlLCO
Maka agar proyek LNG di lapangan Badak, Kaltim itu bisa selesai
pada waktunya, fihak 'ertamina telah mengetuk pintu pada calon
konsumennya di Jepang agar suka memberi tambahan kredit sebanyak
$ AS 480 juta. Jumlah sebanyak itu kabarnya adalah untuk
menutupi kenaikan harga bahan-bahan yang harus diimpor. Sesuai
dengan perjanjian (kontrak) maka 80% dari produksi LNG lapangan
Arun (Aceh) dan Badak akan dikirim ke Jepang dan hanya 20% untuk
AS. Sedang produksi yang kabarnya akan lebih dulu ke luar dari
Badak, paling lambat diperkirakan sudah bisa dimulai pertengahan
tahun 1978.
Adapun proyek LNG Badak dan Arun, mendapat biaya (modal) dari 2
sumber. Pertama dari OECF--organisasi bantuan ekonomi Jepang
yang diketuai Prof Saburo Okita. Ini sebagai perjanjian tingkat
tinggi G to G sebanyak $ 200 juta dengan bunga serendah 2%
setahun, masa pengembalian 25 tahun termasuk grace period 7
tahun. Yang kedua adalah dari bank-bank komersiil Jepang dan
Exim Bank Jepang sebagai kredit sindikat komersiil sejumlah $ AS
1 milyar. Selain itu para konsumen LNG Indonesia di Jepang telah
membentuk perusahaan gabungan JILCO (Japan Indonesia LNG
Company) untuk mengurus impor LNG yang dikontrak selama 20 tahun
itu. Sedang para pemegang saham yang tergabung dalam JILCO
mencakup 20 perusahaan, dengan saham terbesar di tangan Kansai
Electric, Nippon Steel dan Takyo Electric.
Sampai akhir pekan lalu belum diperoleh keterangan seberapa jauh
permintaan Pertamina itu disambut fihak JILCO. Mereka kabarnya
sudah mengirim sebuah team ke Indonesia untuk melakukan
pengecekan lebih jauh. Sementara itu, Tashio Aoki, kepala kantor
OECF di Jakarta belum bisa bicara banyak tentang hasil dari team
JILCO itu. "Soal itu saya tidak tahu", katanya. Tapi dari
kantornya di gedung Wisma Nusantara, Aoki berpendapat bantuan
yang datang dari OECF itu telah dimanfaatkan dengan baik. "Itu
bisa diketahui dari laporan yang selalu dikirim secara berkala
oleh Pertamina kepada kami", katanya. "Sampai sekarang bantuan $
200 juta untuk infrastruktur itu tidak ada kesulitan".
Adapun permintaan tambahan bantuan itu sendiri, tentunya
berdasarkan dari laporan fihak Bechtel Corporation yang
bertindak sebagai kontraktor utama proyek LNG Badak. Atau
mungkin juga dari subkontraktor yang bekerja di bawah Bechtel.
Sekalipun begitu, sebuah sumber swasta Jepang, masih meragukan
apakah JILCO dapat memenuhi permintaan Pertamina. "JILCO bukan
bank atau maskapai dagang", katanya. "Tapi merupakan gabungan
konsumen LNG yang butuh gas alam cair untuk pabriknya". Benar
juga. Namun keraguan seperti itu tentunya akan hilang kalau saja
fihak JILCO bisa meyakinkan para bankir di negerinya memberi
uluran tangan pada Pertamina .
|