Semua Ngamuk Rumah pm muangthai dirusak polisi keamanan, ribuan mahasiswa menyerbu universitas thammasak. tuntutan mereka minta pesangon, lapangan kerja baru, alasan pembebasan tahanan oleh pemerintah. |
KEDIAMAN resmi Perdana Menteri Kukrit Pramoj diobrak-abrik oleh
para demonstran Selasa malam pekan silam. Dan orang yang
mengamuk itu adalah orang-orang yang justru harus menjaga
keamanan. Mereka adalah polisi yang berpangkat kolonel ke bawah.
Mula-mula mereka cuma berada di luar halaman, menanti ke luarnya
Kukrit yang lagi berembuk dengan beberapa menteri. Menanti,
tidak mendapat jawaban pasti, mereka mulai melemparkan batu.
Kukrit kemudian memang ke luar, tapi pagar halaman sudah sempat
rusak. Desakan agar Kukrit pergi ke Lamphun untuk menjelaskan
alasan pembebasan sembilan tahanan, ditolak Perdana Menteri.
"Yang membebaskan mereka bukan pemerintah, tapi jaksa Lamphun",
kata Kukrit. Dan massa yang tidak sabar itu, disertai oleh
bekas-bekas pengawal pangkalan Amerika (mereka minta tambahan
pesangon dan lapangan kerja baru) akhirnya menyerbu masuk ke
rumah Kukrit. Untung saja tuan rumah dan tamu-tamunya sudah
sempat lolos lewat pintu belakang.
Keesokan harinya, suasana semakin jadi panas. Ribuan mahasiswa
teknik musuh lama mahasiswa Thammasak yang berada di balik
pembebasan sembilan tahanan yang dibebaskan - menyerbu kampus
Universitas Thammasak. Mendobrak pintu dengan bis bajakan,
membakar sebuah gedung, merampok dan terlibat tembak-menembak
dengan mahasiswa Thammasak, para penyerbu kemudian ke luar
dengan kemenengan. Sementara semua ini berlangsung, di bagian
utara Muangthai, ribuan polisi yang mogok telah menduduki balai
kota dan kantor polisi. "Kami ingin dengar sendiri dari Kukrit
alasan pembebasan itu", kata seorang juru bicara mereka di
Bangkok. Lewat agitasi yang panas, perwira polisi ini
menjelaskan bagaimana sembilan petani dan mahasiswa itu telah
melakukan berbagai tindak kriminil-- membakar hutan, merampas
tanah--tapi akhirnya dibebaskan setelah pemerintah menyerah pada
tekanan Persatuan Nasional Mahasiswa Muangthai (NSCT). Kemarahan
polisi pada NSCT itulah yang kemudian digunakan oleh para
mahasiswa'teknik untuk melanjutkan permusuhan lama mereka,
sembari menuntut agar Kriangkamal Laohaphairoj, sekjen NSCT,
ditahan.
Menghadapi situasi kacau ini, Kukrit tidak punya pilihan lain
kecuali mengadakan sidang darurat terbatas kabinet. Kehadiran
Jenderal Kris Sivara, Kasad Muanthai, serta Menteri Pertahanan
Adireksan, menimbulkan spekuIasi bakal munculnya keadaan
darurat. Di luar sidang, Adireksan membenarkan rencana untuk
itu, tapi Kukrit kemudian menundanya sambil menanti
perkembangan. Rabu siangnya, Kukrit muncul di depan pers.
Katanya: "Soal sudah selesai, polisi-polisi itu sudah kembali ke
tempat masing-masing". Dan Menteri Dalam Negeri Boonteng
Thongsawadi sudah pula diperintahkan untuk ke Lamphun untuk
berbicara dengan para demonstran di sana.
Tanpa diduga oleh Kukrit, pada saat yang sama, para mahasiswa
Thammasak muncul pula di jalan-jalan raya. Mereka ini nampaknya
tidak menerima penyerbuan kampus mereka oleh para mahasiswa
teknik. Keadaan semacam ini nampak makin menjadi kisruh oleh
tuntutan para bekas penjaga pangkalan Amerika yang terus
menuntut tambahan pesangon serta lapangan kerja setelah
pangkalan-pangkalan itu ditutup oleh pemerintah Jenderal Kris
Sivara yang telah menyiap-siagakan polisi militernya, mengecam
polisi yang tidak bisa mengatasi keadaan. Tapi sampai akhir
pekan silam, belum nampak tanda-tanda bahwa kalangan militer
akan turun tangan, meskipun para pengamat politik di Bangkok
makin kurang yakin terhadap kemampuan Kukrit untuk mengatasi
keadaan dalam negeri sementara di seputar perbatasan Muangthai
perjuangan terhadap subversi Komunis terus pula berlangsung
dengan jatuhnya korban baru.
|