Kabar Dari Daerah Berbagai persoalan yang dihadapi dokter puskesmas di daerah. Mulai datang bangunan belum rampung, obat datang atap belum dipasang, gaji dokter terlambat bertugas sering jalan kaki.(ksh) |
PUSKESMAS itu terdiri dari sebuah ruangan poliklinik. Tak jauh
dari situ berdiri pula sebuah rumah untuk dokter dan dua buah
lagi buat tempat tinggal bidan, perawat dan tenaga kesehatan
lainnya. Dengan anggaran pukul rata (kota Rp 3,5 juta dan daerah
kabupaten Rp 3 juta) pemerintah daerah terkadang menemui
kesukaran ketika membangunnya di desa-desa terpencil. Maklum
pemborong yang dapat rezeki baru dari program ini, lebih senang
memilih pembangunan di kota-kota saja.
Bertambah jauh puskesmas dari kota bertambah banyak persoalan
yang dihadapinya. Mulai dari sudah datangnya dokter sementara
bangunan belum rampung. Masuknya peralatan seperti kulkas dan
obat-obatan padahal atap belum dipasang. Sampai pun kepada gaji
dokter yang Rp 21.300 per bulan, yang terkadang terlambat 4
bulan atau kalau mau menerimanya tepat pada waktunya harus
datang sendiri ke kota setelah safari jalan kaki 34 km seperti
yang dialami dokter Parlilitan di pedalaman Sumatera.
Melihat keadaan puskesmas itu dari dekat, koresponden TEMPO dari
berbagai daerah mengirimkan laporannya sebagai berikut:
BALI
Kota kecil yang bernama Negara sebenarnya sudah sejak lama
memiliki sebuah rumah-sakit, namun sebuah puskesmas disodorkan
juga di situ. Karena kekurangan pasien ia hanya buka pintu 2
kali seminggu . "Pak Mantri lebih banyak duduk dari pada
bekerja", tulis Soerani WS.
Sepinya Puskesmas di sini bukan lantaran tak ada orang yang
sakit. Ini terutama disebabkan oleh predikat "keliling" buat
profesi seseorang di kota kecil itu: ada mantri yang dapat
julukan itu. Mereka keluar-masuk kampung dan mencegat para
penderita penyakit sebelum mereka sempat berangkat ke puskesmas.
Daripada harus jalan kaki jauh-jauh 'kan lebih baik minta
tolong Pak Mantri saja. Lagi pula menurut penduduk, obat yang
mereka berikan sama manjurnya dengan yang diperoleh dari
puskesmas atau rumah-sakit. Kadang-kadang malahan lebih baik.
KALIMANTAN BARAT
Baru 75O bangunan puskesmas INPRES yang rampung dikerjakan di
Kalimantan Barat. Menurut Gubernur Kadarusno keterlambatan
tersebut diakibatkan otorisasi yang datangnya terlambat sampai
satu tahun. Karena pemborong ogah membangun puskesmas di
pedalaman, dalam tender Gubernur mengambil kebijaksanaan
mengawinkan pembangunan puskesmas di kota dengan yang di kampung
pedalaman.
Daerah ini kekurangan bidan untuk mengisi puskesmas Inpres yang
berjumlah 23 buah. Sebaliknya Batu Ampar kelebihan mantri. Tiap
perusahaan penggergajian kayu mempekerjakan seorang mantri.
Gedung puskesmas di sini baru selesai seperempat bagian, karena
itulah dokter yang sudah dinas di situ menganggap belum waktunya
untuk memasang papan nama. Dokter Isnopin Muis anak dan isteri
menginap di penginapan sedangkan obat-obatan yang terlanjur
datang lebih dulu dititipkan di balai pengobatan. Tarif
pengobatan Rp 100, tapi kalau tak mampu gratispun tak apa-apa.
KALIMANTAN SELATAN
Lokasi puskesmas untuk Kalsel benar-benar harus diperhitungkan
karena penyebaran penduduknya yang tidak merata. Harga tanah di
daerah ini yang cukup murah membuat masyarakat setempat rela
untuk menyerahkan sebagian tanah mereka untuk puskesmas, sebab
bagaimana pun pelayanan kesehatan dari situ toh mereka yang akan
mencicipinya.
Di kota Banjarmasin sebagian besar pengunjung terdiri dari
pegawai negeri yang ongkos pengobatannya diganti oleh Asuransi
Kesehatan sampai jumlah tertentu. Dari dokter yang dinas di sini
terdapat beberapa orang wanita. Mereka terkadang menyulitkan
juga. Karena suaminya tinggal di kota maka mereka juga minta
supaya bekerja di kota saja. Karena itulah Kalsel lebih senang
kalau yang bertugas ke sana adalah dokter pria saja.
KALIMANTAN TIMUR
Pemerintah daerah memberikan insentif Rp 5000 untuk tiap dokter
puskesmas. Puskesmas di dalam kota ternyata tidak mengurangi
arus pasien ke Rumah Sakit Umum. Puskesmas kecamatan tidak mampu
mencapai seluruh penduduk. Sebuah kecamatan terdiri dari kampung
yang letaknya berserakan. Untuk mengatasi hal ini pemerintah
daerah merintis pembangunan pos-pos kesehatan di tiap kampung
seperti di Kabupaten Pasir misalnya. Sulitnya mengirimkan dokter
ke sana menjadi problem lagi.
SULAWESI TENGAH
Berpenduduk 1.100.000 jiwa Sulawesi Tengah memiliki 17
puskesmas. Dia hanya mampu mencapai 40O penduduk berhubung
lalulintas yang berat. Fasilitas perhubungan yang masih buruk
membuat pengiriman obat-obatan menjadi kurang lancar. Dokter dan
perawat yang berniat memberikan penerangan terpaksa menangguhkan
niatnya. Penyakit yang banyak menyerang penduduk di sini adalah
malaria, filaria, muntah berak dan penyakit yang menyerang
saluran pernafasan.
Kaum ibu memperoleh manfaat yang besar dari fasilitas kesehatan
ini, sebab untuk melahirkan mereka tak perlu berjalan kaki
terlalu jauh lagi.
SULAWESI SELATAN
Di Kabupaten Takalar dokter dan pembantunya mengunjungi penduduk
dengan boncengan naik sepeda. Itu dulu, Tapi sekarang sudah
datang bantuan yang "mengagetkan". Sebuah ambulans Toyota Crown
diturunkan ke sana. Namun akhirnya dia bikin sulit juga, karena
tak bisa masuk ke pelosok desa. Jalan belum disiapkan buat alat
angkutan macam itu.
Di Kecamatan Pallangga, Gowa, keadaan gedung puskesmas memang
bagus, cuma peralatannya yang belum bisa dikatakan memadai.
Alat-alat yang dipakai sekarang adalah peninggalan balai
pengobatan yang lama. Karena peralatan praktek yang kurang,
banyak pasien yang terpaksa dikirim ke Sungguminasa atau
langsung ke Ujung Pandang.
RIAU
Selain mengobati para penderita petugas di sini menjalankan pula
vaksinasi TB atau kolera. Secara teratur memeriksa kesehatan
anak-anak sekolah sekaligus memberikan penerangan mengenai
kesehatan. Keadaan ekonomi penduduk yang baik (di sini berdiri
perusahaan minyak Caltex) membuat tingkat kesehatan penduduk
cukup menggembirakan. Pencegahan penyakit tidak hanya ditujukan
kepada orang, binatang piaraan juga kebagian Mereka semua dapat
suntikan vaksinasi anti rabies. Di kompleks perumahan dilarang
memelihara ayam atau kambing.
SULAWESI UTARA
Untuk tahun 1974-75 Sulut memperoleh 13 puskesmas, yang akan
ditambah lagi 10 buah tahun ini. Sedangkan puskesmas lama yang
berjumlah 34 sudah waktunya diperbaiki. Universitas Sam
Ratulangi, Manado kebanyakan menghasilkan dokter yang wanita.
Sementara stok puskesmas terletak di daerah terpencil. Inilah
kesukarannya.
Bantuan Unicef berupa alat-alat perawalan dan pemeriksaan
diagnose sangat membantu. Sedangkan kenderaan untuk mencapai
penduduk terpencil harus diusahakan oleh dokter sendiri. Bekerja
di puskesmas dirasakan dokter di sini sebagai beban, mereka
lebih senang tinggal di kota dan buka praktek.
SUMATERA BARAT
Puskesmas Inpres berjumlah 23 semuarlya sudah punya dokter,
sedang puskesmas lama yang berjumlah 40 hanya punya 35 dokter.
Di Sei Puar, Kabupaten Agam masyarakat yang bergotong-royong
membangun puskesmas non Inpres menjadi jengkel, karena dokter
yang belum muncul-muncul juga. Puskesmas didirikan tidak jauh
dari sekolah. Gubernur Harun Zain jadi pusing karena
kepala-kepala desa pada berebut untuk mernperoleh jatah
puskesmas.
Untuk meningkatkan mobilitas dokter ada rencana untuk memberikan
mereka sebuah Honda. Maklumlah turun-naik di daerah
berbukit-bukit memang melelahkan.
|