Pelayanan Kesehatan Untuk Rakyat Pembangunan kesehatan rakyat berarti pelayanan kesehatan
kepada rakyat. usaha memberi penerangan, menyebar pusat-pusat
kesehatan, penyediaan sarana dan obat-obatan untuk mengatasi
ancaman penyakit.(fk) |
NAMANYA saja "rumah sakit". Dengan begitu, adanya bangunan ini
bukanlah pertanda suasana sehat. Tapi fikiran manusia telah
begitu berkembang dengan aneh, hingga meningkatkan kesehatan
diartikan sama dengan mendirikan rumah sakit. Tapi di zaman
sekarang ini memang begitulah: yang dimaksudkan dengan
"pembangunan spirituil" seringkali adalah berdirinya bangunan
tempat beribadah - bukan tumbuhnya ketenteraman rohani yang
bebas.....
Memang mencemaskan, bahwa yang disebut "pembangunan" ternyata
sama dengan hanya mendirikan "bangunan". Pembangunan di bidang
olahraga akibatnya hanya pembangunan stadion. gedung untuk senam
atau bulutangkis kolam renang. Pembangunan kebudayaan atau
kesenian hanya berarti didirikannya kompleks kesenian.
Pembangunan pendidikan: berdirinya sekolah. Akibatnya,
pembangunan yang utama adalah pembangunan untuk para pemborong
dan arsitek. Tanpa melecehkan peran prasarana, tanpa mengejek
para pemborong dan arsitek, kecenderungan pembangunan yang
semacam itu agaknya tidak terlalu senonoh. Terutama bila kita
bicara tentang pembangunan kesehatan rakyat.
Memang patut dihargai sepenuhnya usaha pemerintah buat
menyebarluaskan pusat-pusat kesehatan (bukan "rumah sakit")
hingga makin mendekati rakyat. Tapi betulkah rakyat memang
membutuhkan puskesmas? Atau lebih tepat: sampai sejauh mana
puskesmas, yang standarnya ditentukan dari atas sesuai dengan
kebutuhan nyata rakyati Pelayanan kesehatan kepada rakyat bisa
hanya berarti pembentukan ketergantungan kepada benda-benda baru
-yang sebetulnya belum tentu memang mereka butuhkan--ataukah itu
tenaga ahli, ataukah itu peralatan ataukah itu obat-obat yang
sering kali lebih banyak promosinya dibandingkan dengan
manfaatnya. Para dokter yang di pelosok sering menemui anekdot
terkenal ini: orang datang minta disuntik, supaya sehat - tak
peduli itu cuma suntikan air putih sekalipun. Singlatnya,
pelayanan kesehatan kepada rakyat bisa cuma berarti menyunglap
rakyat hanya jadi konsumen dari pabrik obat dan para dokter
"komersiil".
Apakah hal itu yang kini tengah terjadi? Mudah-mudahan tidak.
Ada usaha, meskipun masih sedikit, untuk memberikan penerangan
kesehatan kepada rakyat. Yang semoga berarti penyedaran akan
kemampuan diri sendiri, dan lingkungan sendiri, untuk mengatasi
suatu ancaman bagi kesehatan.
Laporan utama kali ini ditulis oleh Martin Aleida. Ia dibantu
oleh sejumlah koresponden dan pembantu TEMPO di pelbagai daerah:
Sihar Tobing (Pekanbaru), Muchlis Sulin (Padang), Soerani WS
(Negara, Bali), Ridwan AS (Pontianak), RE Nadalsyah (Banjarmasin),
Dahlan Iskan (Samarinda), Phill M. Sulu (Tomohon, Sulawesi Utara),
Husni latas (Palu, Sulawesi Tengah), Sinansari Ecip (Ujung
Pandang). Putu Setia, wartawan Den Pasar--satu diantara 3
wartawan daerah, lainnya Syahran R (Banjarmasin) dan Syahril
Chili (Yogya) yang oleh LP3ES selama 6 minggu di kirim
mengikuti latihan kerja di TEMPO juga ikut serta dalam
berbagai wawancara di Jakarta.
|