Ekonomi Batu Merah Industri kecil batu merah menyerap lapangan kerja cukup banyak terutama waktu musim kemarau. usaha ini cukup dengan modal kecil, pemasarannya baik masih dapat bersaing dengan teknologi modern. (eb) |
BATA-BATA alias batu merah memang bukan barang luks,
meskipun dapat dipakai membangun rumah mewah. Dia adalah bahan
bangunan yang sangat vital buat segala bentuk gedung batu.
Pokoknya, batu merah masih baik hari depannya. Meskipun tidak
pernah dipersoalkan sampai ke DPR. Mungkin sebabnya karena untuk
menjadi pengusaha batu merah cukup modal kecil-kecilan. Dan itu
bisa saja dipinjam dari tetangga tanpa perlu merengek-rengek ke
bank atau BKK (Badan Kredit Kecamatan) minta kredit "mini" yang
Rp 5 juta itu.
Mau tahu berapa modal pangkalnya? Andaikan saja anda akan
mencoba membakar 25 ribu batu merah, dengan versi Semarangan
akan diperlukan modal Rp 57 ribu. Atau dibulatkan saja menjadi
Rp 60 ribu. Perinciannya sebagai berikut. Mula-mula sediakan
tanah dekat sungai yang rata dan terbuka, sehingga bisa disinari
matahari secara langsung sepanjang hari. Lantas beli kulit gabah
sebanyak 1 truk seharga Rp 7.500, kotoran ternak sapi, kerbau
dan sisa gergajian seharga Rp 5.000, 25 meter kubik kayu seharga
Rp 15 ribu . kemudian bangun bangunan beratap tanpa dinding
seharga Rp 10 ribu.
Kemudian ongkos pelaksanaannya ongkos mencetak 25 ribu batu bata
(400 perak per seribunya, menjadi Rp 10 ribu. Ongkos menyusun
untuk dibakar, Rp 6.250. Biaya selamatan dan makan minum selama
membakar hanya Rp 750. Biaya membongkar seluruhnya setelah
matang dipanggang matahari & merah dibakar api, seluruhnya hanya
Rp 2.500. Dari situ sampailah kita pada angka Rp 57 ribu itu.
Semen Merah
Sekarang lama pengerjaannya. Biasanya untuk mencetak 25 ribu
batu bata diperlukan waktu sebulan atau kurang, tergantung
jumlah karyawan serta panasnya sinar matahari. Sedang
membakarnya paling lama sehari-semalam. Bila semuanya berjalan
lancar tanpa digusur oleh yang berwenang atau dipunguti biaya
siluman oleh macam-macam petugas,
Kita akan mendapatkan 23 ribu batu bata yang betul-betul utuh,
merah dan kuat. Maklumlah, yang tersusun di pinggir tidak bisa
matang. Hitung saja yang masih mentah atau setengah matang 2000
biji yang dapat dibakar dalam periode berikutnya.
Bagaimana pemasarannya? Tidak terlalu sulit. Sekarang pasaran di
Semarang sekitar Rp 5.000 - Rp 6.000 per 1000 biji. Ambil saja
Rp 5000, maka kita akan terima uang 23 x Rp 5.000, atau total Rp
115 ribu. Jelaslah bahwa degan modal Rp 60 ribu dalam sebulan
kita sudah untung Rp 55 ribu. Di samping itu, masih ada
tambahan penghasilan. Sewaktll membakar di atasnya
bisa ditumpangi gumpalan-gumpalan tanah, yang setelah
matang bisa kita tumbuk dan dijual sebagai "semenl merah".
Mungkin jadinya hanya 3 meter kubik, tapi itupun bisa laku Rp
7.500. Jelas untungnya bisa berjalan lancar. Tapi bila sedang
sial, memang tidak seperti perhitungan di atas. Meskipun
demikian, masasah rugi adalah biasa. Sekali rugi, bisa tertutup
dengan keuntungan produksi berikutnya. Pokoknya, yang berminat
bisa mencoba. Tidak punya tanah sendiri, bisa sewa dengan
membayar 10% dari hasil penjualan batu merah yang dibakar dalam
satu periode.
Bata Jerman
Jenis usaha di atas, bisa membuat kita berlagak sebagai direktur
yang tinggal berdoa saja menghadapi siphoa dirumah. Tapi bila
dikerjakan sendiri, jelas bisa menjadi mata pencaharian tetap.
Namun melihat cara pengolahannya. Maka membuat batu merah
termasuk pekerjaan kotor. Yang hanya mampu dilakukan oleh
orang-orang kecil yang sudah terbiasa dengan yang serba jorok.
Adapun untuk jabatan tukang cetak tidak diperlukan ijazah
--seperti halnya para petani tradisionil. Maklumlah, sampai
sekarang produksi batu merah di Indonesia kebanyakan masih
dilakukan secara tradisionil - kecuali PT Super Bata yang
menggunakan teknologi Jerman di Jakarta. Tapi dengan proses
modern itu, jelas akan memperkecil keuntungan lantaran tersedot
oleh biaya investasi yang jutaan dollar serta ongkos bunganya
yang tergolong tinggi.
Maka anda tinggal pilih, jadi juragan batu yang tinggal
ongkang-ongkang di rumah saja, ibarat tuan-tuan tanah zaman
sekarang yang bermukim di daerah elit di Jakarta, atau ikut
bermain lumpur tanah liat dan mencetak ratusan lembar Sudirman.
Yang jelas, di daerah-daerahl pertanian seperti di Karawang dan
Bekasi, inilah lapangan kerja yang cukup banyak menyedot buruh
dan majikan tani setiap musim kemarau yang kurang hujannya, di
samping pekerjaan menggali pasir sungai Citarum setelah padi di
sawah dituai.
|