"Mereka Mungkin Masih Takut" Sejak peristiwa malari dan beberapa tokoh mahasiswa kena
hukuman akibat peristiwa tersebut, kegiatan mahasiswa lesu, meskipun diberi kebebasan. diperkirakan mereka masih takut atau kurang percaya. (nas) |
PERKARA Aini Chalid, aktivis mahasiswa GEMIRI Yogyakarta, kini
tinggal menunggu putusan hakim pengadilan Jakarta Pusat.
Sebelumnya Hariman Siregar dan Sjahrir dari Universitas
Indonesia, sudah dijatuhi hukuman oleh pengadilan yang sama
sehubungan peristiwa 15 Januari tahun silam: masing-masing
dihukum 6 tahun dan 6« tahun potong tahanan. Beberapa lagi
mahasiswa seperti Yudil Herry, Remy Leimena, Bambang Sulistomo
dan Yusuf AR belum diketahui apakah akan diajukan juga ke depan
meja hijau. Tapi selagi petugas hukum terus memeriksa kebenaran
atas tuduhan yang ditimpakan kepada mereka-mereka itu, kalangan
pemerintah di ibukota nampaknya mulai melihat adanya gejala
sikap apatis dari mahasiswa yang masih bebas di kampus-kampus
universitas. Hal ini paling tidak tercemmin dari ucapan Kas
Kopkamtib Laksamana Sudomo dalam ceramahnya di depan warga UI di
Jakarta awal bulan Juli lalu.
Masa bodoh.
Dengan judul panjang: "Stabilitas nasional sebagai prasyarat
untuk menjamin kelangsungan dan suksesnya pembangunan nasional,"
Sudomo mengatakan bahwa "sikap apatis mahasiswa tidak
dikehendaki oleh pemerintah. Sebab jika sikap itu terjadi,
"kalau diukur dengan tingkatan keamanan, merupakan keadaan yang
gawat", demikian Kas Kopkamtib yang akhir-akhir ini lebih
sering muncul di daerah-aerah daripada di kantornya di Jalan
Merdeka Barat Jakarta. Karena itu ia' mengajak mahasiswa untuk
tetap peka terhadap masalah-masalah kemasyarakatan. Lewat harian
Kompas, seorang mahasiswa menyambut bahwa pernyataan Kas
Kopkamtib tersebut "memberi kelegaan kepada kita. Bahwa masa
diam yang cukup lama berlangsung ingin diakhiri. Bukan oleh
mahasiswa sendiri, tapi oleh orang yang cukup pegang peranan
kuat di negeri ini", demikian Zulhasril Nasir.
Adakah sikap mahasiswa selama ini memang ber-masa-bodoh seperti
yang tersirat di balik ucapan Sudomo itu? Baik rektor UI Prof.
Mahar Marjono maupun mahasiswa Zulhasril membantah anggapan
semacam ini. Mahasiswa tak akan pernah masa- bodoh," kata
Zulhasril. Mungkin benar, katanya lebih lanjut, bahwa "sikap
masa bodoh yang dimaksud itu terhadap pemerintah atau penguasa "
Sebab mahasiswa UI misalnya, sebagaimana dikatakan rektornya
Mahar Marjono di depan wartawan di Bina Graha seusai menemui
Presiden Soeharto pekan lalu, "tetap bebas mengadakan diskusi
dengan topik apa saja. Termasuk yang bersifat
keritikan-keritikan". Ikut sertanya mahasiswa dalam pemilihan
senat dan dewan -kabarnya korum tercapai sampai tujuh puluh
persen -- maupun kegiatan di bidang olah raga dan kesenian,
serta kebebasan mengajukan pertanyaan dalam acara studium
generale, adalah contoh yang dikemukakan Mahar Marjono dan
pembantu rektor bidang kemahasiswaan Dr. Edi Swasono sebagai
bukti tidak adanya sikap masa bodoh mahasiswa. "Kita ingin
terus memupuk keritik-keritik yang sehat dari mahasiswa", tambah
Mahar. "Tapi jangan main asal kritik" Meskipun ahirnya juga
diakui bahwa dengan kebebasan yang diberikan selama ini, pihak
mahasiswa sendiri belum mengambil inisiatif berdiskusi lagi.
"Mungkin mereka masih merasa takut", demikian Mahar Marjono.
Mungkin juga masalahnya bukan takut--tapi kurang percaya.
|