Bermain Minyak & Lumpur Cina diketahui mengebor minyak sejak 1100 m, kemudian
dilanjuntukan cara lebih modern oleh orang AS. Di Indonesia sejak 80 tahun lalu menggunakan lumpur pelumas untuk membor sumur minyak. (ilt) |
ORANG pertama yang mengebor kulit bumi untuk mencari minyak
adalah orang Cina. Begitu menurut catatan sejarah, tahun 1100 M.
Mereka menemukan "emas cair" itu pada kedalaman 3500 kaki.
Alatnya sederhana: "mata bor" dari besi berat yang digantung
pada tali. Melalui sebuah menara tali itu ditarik turun-naik dan
mata bornya pun naik-turun membolongi kulit bumi.
7 1/2 abad kemudian, persisnya tahun 1854, Drake dari
Pennsylvania, AS, berhasil membor kulit bumi dengan cara yang
lebih maju, meski mirip dengan cara orang Cina pendahulunya.
Drake mengganti tali dengan kawat. Dari kedalaman 62,5 kaki itu
minyak sudah menyembur. Sistim ini termasuk murah tapi kerjanya
sangat lambat dan penuh risiko. Yaitu bahaya ledakan karena
kebocoran (blow-out) yang sangat ditakuti orang-orang minyak.
Adapun di negeri kita, pemboran minyak pertama dilakukan orang
80 tahun yang lalu. Sumur minyak pertama terletak di Telangga
Tunggal, dekat Pangkalan Brandan.
Naik-turun
Menentukan di mana membor minyak sangat sulit. Tidak bisa
sembarang tebak saja. Pertama-tana harus ditentukan letak
lapisan batu sedimen perangkap minyak. Penyelidikan itu bisa
dilakukan dengan pemotretan dari angkasa, penyelidikan geologis
di atas atau di bawah muka bumi, serta di lepas pantai. Apabila
sudah bisa ditentukan di mana minyak berada, mulailah disiapkan
alat-alat yang diperlukan. Didirikan menara dari kerangka baja.
Pada dasar menara ada meja yang bisa berputar. Melalui lubang di
tengah meja berputar itu dimasukkan sebatang pipa baja yang di
ujungnya sudah disekrupkan mata bor mirip pahat gurdi tukang
kayu.
Sebuah diesel menggerakkan meja putar yang sekaligus
menggerakkan pipa baja (kelly) dan mata bor pun mulai berputar
menggenjot tanah. Apabila mata bor sudah menusuk hingga
kedalaman 20-30 kaki, dia ditarik kembali dan sebuah pipa baru
dipasangkan diantara kelly dan mata bor. Pipa-pipa baja serta
mata bor itu bersama-sama merupakan "rantai bor". Setelah
diselipkan pipa baru tadi, rantai bor kembali diturunkan untuk
menggerogoti tanah. Pada kedalaman tertentu dia ditarik lagi ke
atas, dan pipa baru disekrupkan lagi di bawah kelly, sehingga
rantai bor semakin panjang.
Pada saat pemboran sedang berlangung sejenis lumpur istimewa
dipompakan melalui pipa-pipa gurdi. Lumpur itu akan kembali ke
atas melalui ruang di antara pipa bor dengan dinding lobang
sambil mengangkut keratan-keratan batu & tanah. Setelah
disaring, lumpur itu kemudian disalurkan kembali ke dalam pipa
bor. Untuk menjaga agar dinding lobang tidak longsor, sebatang
pipa dimasukkan ke dalam lubang. Kecepatan bor tergantung pada
jenis tanah. Kadang-kadang bisa mencapai 200 kaki per jam,
adakalanya hanya I kaki/jam. Di sini lumpur pelumas itu
memainkan peranan penting dalam melunakkan lapisan tanah di
dasar lubang, mendinginkan mata bor serta membersihkannya nun
jauh di bawah sana. Untuk membor sumur minyak sedalam 10 ribu
kaki, diperlukan 100 ton lumpur pembasuh, dan 100 ton lumpur
bor. Tanpa lumpur pelumas berkwalitas tinggi itu. bisa terjadi
blow-out di mana jutaan dollar terbakar percuma.
Lumpur pelumas itu tentu saja tidak bisa begitu saja diciduk di
rawa-rawa. Tapi lalus khusus dibikin dengan berbagai bahan
campuran. Sebelum 1974, lumpur itu harus diimpor dari luar
negeri seharga jutaan dollar, yang dikenal sebagai "pasir
Brazil". Untunglah mulai akhir 1974 beberapa pabrik lumpur
didirikan di Merak, P. Batam, P. Masalembo, dan Ujungpandang.
Yang terbesar terdapat di Merak berada dalam lingkungan
pangkalan minyak. Di sana dihasilkan 35 jenis lumpur untuk
berbagai keperluan. Mulai dari yang melumas, mencuci, mencegah
longsor, melunakkan tanah, menjaga temperatur mata gurdi,
memindahkan tanah hasil pengeboran, mengurangi kecepatan
pengendapan tanah bekas pengeboran, dan sebagainya.
Bahan yang digunakan untuk lumpur pelumas itu dapat dibagi dalam
3 kelas. Yang pertama tanah liat (bentonite dan attapulgite),
yang kedua batu-batuan (batu barite, galena serta batu kapur),
dan yang ketiga adalah 17 macam bahan kimia tambahan. Termasuk
tepung tempurung kelapa serta serat sabut kelapa. Jadi
kelihatannya, main-main lumpur ini bukanlah monopoli para
pembuat genteng dan batu bata saja, tapi juga orang-orang
minyak. Hanya sayangnya, di Indonesia ahli lumpur pelumas begini
masih sangat langka. Bahkan Pertamina sendiri belum
memilikinya.
|