Horas Asahan!! Menyiapkan Diri Di "Ujung Dunia" Proyek asahan kontraknya diteken di tokyo. proyek ini dibiayai jepang dengan izin usaha selama 30 th produksi awal th 1981. Manfaat bagi Indonesia, membuka lapangan kerja, menumbuhkan industri baru.(eb) |
"Ada apa bang?", tanya Tio. Membangunkan Ronggur dari
kebisuannya.
"Aku tidak tahu, Tio", sahutnya. "Ada sesuatu yang kurasakan.
Yang timbul dari air terjun ini. Perasaan itu melumpuhkan segala
ketakutanku pada air terjun ini Malah tumbuh dibuatnya sesuatu
rasa bersukur".
"Kenapa begitu?"
"Perasaan itu seperti membisikkan padaku, bahwa air terjun ini
mengandung sesuatu manfaat. Menjanjikan sesuatu kebahagiaan pada
manusia".
RONGGUR, pemuda itu, telah nekad. Ia tak percaya bahwa sungai
Titian Dewata akan bermuara di ujung dunia. Ia menolak
kepercayaan para orang tua di kampungnya, lalu menempuh
perjalanan panjang mencari ujung sungai itu bersama isterinya,
Tio. Ia sampai pada kenyataan: ujung Titian Dewata adalah air
terjun yang mengerikan. Tapi secara intuitif dirasakan bahwa air
terjun itu, di suatu masa kelak, akan bermanfaat. Akhirnya tokoh
dalam novel Penakluk Ujung Dunia, yang diolah Bokor Hutasuhut
dari legenda Batak ini, memang bisa memberikan kepada semua
marga "tanah habungkasan" .... Ia benar.
Awas Spekulan Tanah
Ia juga benar tentang air terjun yang besar itu. Sejak bulan
lalu, orang baru bisa lebih yakin, bahwa air sungai Titian
Dewata--atau Asahan--itu akan bisa dimanfaatkan buat manusia:
Batak, Melayu, lain-lain, dan juga - tentu saja manusia Jepang.
7 Juli, setelah berunding 3 tahun dengan banyak harapan dan
kekecewaan, perjanjian tentang proyek Asahan ditandatangani di
Tokio oleh pemerintah Indonesia dengan wakil para pengusaha
Jepang. 23 Juli wakil-wakil trio Golkar, PDI dan PPP
menghaturkan "syukur dan terimakasih" mereka di hadapan Gubernur
Marah Halim sebagai wakil pemerintah yang juga ikut menyaksikan
penandatanganan di Tokio itu.
Habis itu berpidatolah Marah Halim. Sebagaimana biasanya,
dengan suara datar dan parau (dia bukan orator) berkisahlah ia
mengenai beberapa isi perjanjian antara pemerintah Indonesia dan
konsortium 12 maskapai Jepang itu. Yakni bahwa biayanya $ AS 870
juta: 280 juta dollar untuk PLTA Asahan, $ 498 juta untuk pabrik
peleburan aluminium di Kuala Tanjung, dan $ 92 juta untuk
pelabuhan, jalan dan prasarana lainnya. Juga bahwa dalam
perjanjian induk itu investor dibolehkan menaikkan produksi
peleburannya dari 225 ribu metrik ton aluminium menjadi 360 ribu
metrik ton. Untuk itu para investor boleh membangun 2 stasiun
listrik lagi yang mengatrol listrik Asahan dari 600 Mega Watt
(Sigura-gura & Siharimau) menjadi 750 Mega Watt.
Tahap pertama mulai berproduksi tahun 1981, entah mulai dengan
berapa ribu ton aluminium lebih dulu. Izin usaha diberikan
selama 30 tahun, terhitung mulai saatnya pabrik pelebur
aluminium itu memuntahkan batangan (ingot) logam ringannya.
Menurut Gubernur, "proyek Asahan akan punya impact yang cukup
besar bagi perkembangan ekonomi Sumatera Utara. Khususnya
industri. Tidak dijelaskan sudah sampai di mana Pemda mengajak
para usahawan swasta di sana (atau di Jakarta) dalam menghadapi
kedua proyek raksasa itu nanti. Walau demikian, pada upacara
syukuran itu, yang sangat diingatkan Marah Halim adalah soal
tanah milik rakyat di sekitar Proyek Asahan. Selain jangan
sampai jatuh ke tangan cukong, "jangan dijadikan arena spekulasi
yang tidak sehat dan merugikan rayat di sekitarnya'. "Pemakaian
tanah untuk proyek ini", katanya, "tidak akan begitu saja
diambil". Makanya diharapkan agar rakyat "turut berpartisipasi"
dan membantu memberikan tanahnya agar pelaksanaan proyek itu
sukses kelak. Wakil-wakil rakyat yang duduk di depannya hanya
mengangguk-angguk. Dan kesibukan menyambut Proyek Asahan pun
selesai sampai di situ.
"Ini kan uang Jepang"
Berbeda dengan di Medan dan Jakarta yang santai, kesibukan lebih
banyak berpusat di Tokio. Di sana, 12 pimpinan perusahaan sedang
berembuk tentang apa & bagaimana menyusun perusahaan kongsi
yangakan dinamai Nippon Asahan Aluminium Company, sebagai
partner pemerintah Indonesia dalam PT Indonesia Asahan
Aluminium. Ke-12 perusahaan itu adalah 5 perusahaan aluminium
yang sejak semula berminat membangun Proyek Asahan -- yakn
Sumitomo Chemical, Nihon Kei Kinsho (Nippon Light Metal), Showa
Denko, Mitsubishi Chemical Industries, dan Mitsui Aluminium.
Serta 7 maskapai dagang (sogo shosha), yang mulai terlibat dalam
pembicaraan persiapan proyek Asahan awal tahun ini, yakni
Sumitomo Shoji Kaisha, C. Itoh, Nissho-lwai Company, Nichimen
Cumpany, Mitsubishi Corporation dan Mitsui. Menurut jadwal waktu
mereka, perusahaan baru itu sudah. harus terbentuk bulan ini,
supaya segera dapat dilanjutkan dengan pembentukan PT Indonesia
Asahan Aluminium yang diharapkan rampung bulan Oktober 1975.
Baru perusahaan itu bisa mulai mengarahkan alat-alat beratrnya
untuk membuka jalan ke Sigura-gura dan Tangga, itu desa dekat
sampuran Siharimau.
Sementara dari fihak Indonesia belum diumumkan siapa atau
instansi mana yang akan mendampingi partner Jepang dalam
maskapai swasta itu, dari Tokio sudah disepakati bahwa orang
Sumitomo-lah yang akan memimpin mereka. Hal mana dibenarkan oleh
wakil Sumitomo Shoji Kaisha di Jakarta, K. Fukuoka. Dalam masa
resesi ekonomi dunia begini, Jepang memamg agak mengherankan
bila secepatnya memulai proyek ini. Tapi "kami menganggapnya
sebagai proyek nasional bangsa Jepang sendiri", kata Fukuoka.
Mengapa? "Karena langsung dibiayai oleh pemerintah Jepang,
hingga untuk itu kami akan betul-betul bekerja secara ekonomis".
Ini nampaknya akan mereka buktikan, walaupun secara psikologis
akan ada rakyat Jepang yang tidak senang. "Ada pendapat di
kalangan orang Jepang, bahwa segala perlengkapan Proyek Asahan
harus didatangkan dari Jepang". Alasannya, "ini kan uang
Jepang", tutur wakil Sumitomo itu. Tapi kalau prinsip itu akan
menyebabkan ongkos produksi meninggi, perusahaan baru yang
dibentuk oleh konsortium itu tidak akan menempuhnya. "Jangan
heran", kata Fukuoka, "kalau traktor merek Komatsu tidak akan
meraung di belantara Asahan, bila Caterpillar jauh lebih murah".
"Yang pasti, dalam pelaksanaan pembangunan akan dibuka tender
internasional", kata orang Sumitomo itu. ini tidak otomatis
membuat girang para usahawan swasta di Medan dan Jakarta.
Praktek tender internasional yang sudah dijalankan untuk
beberapa proyek nasional tidak jarang membuat kecut pengusaha di
sini. Lihat saja, siapa pemenang tender Jagorawi? Kontraktor
Korea. Siapa yang kebagian order mendampingi Nindia Karya dalam
Proyek Restorasi Borobudur? Kontraktor Pilipina. Bahkan
Pertamina sendiri dalam pembuatan jalan vital untuk ekspor
produknya dari Aceh memberikannya pada kontraktor Malaysia dan
Singapura. Makanya tidak banyak yang optimis bisa memenangkan
tender internasional untuk menjadi sub-kontraktor atau sub-sub
kontraktor Proyek Asahan. Kecuali untuk melever bahan-bahan
bangunan seperti semen, batu-bata, batu koral, kabel, konstruksi
besi dan kerangka baja.
Tapi di situ pun saingan dari Jepang bisa muncul. "Kita mau apa
kalau nanti Jepang lebih senang menggunakan semen cap Asano, dan
bukan hasil Indarung atau Gresik", tukas seorang pengusaha
semen. Kekhawatiran itu timbul karena banyak hal. Antara lain
dekatnya Belawan dan Kuala Tanjung dengan Singapura, itu saingan
berat bagi pradusen Indonesia. Mantapnya pabrik kongsi Jepang
berakar di bumi kita sendiri, dan teknologi Jepang yang memang
ibarat karung kado di mana tersedia sesuatu buat setiap fabrikan
Jepang. Contoh konkritnya Karang Kates, di mana kawat transmisi
listriknya pun buatan Jepang yang standar teknologinya memang
berbeda dengan para investor Eropa Barat yang menanamkan duitnya
dalam industri kabel di Jakarta. "Jadi kalau kita tidak
hati-hati", ujar seorang konsultan di Jakarta, "sampai kebutuhan
. korannya pun bakal disuplai dari Singapura". Mungkin itu
terlalu berlebihan. Sebab paling tidak, untuk urusan perut
Sumatera Utara tidak perlu menoleh ke luar. Kebutuhan sayur
Singapura dan pulau Penang, tidak sedikit yang disuplai oleh
petani kol Simalungun. Jadi boleh diharapkan bahwa kebutuhan
pangan 6500 karyawan konstruksi Proyek Asahan nanti--yang di
saat klimaksnya bisa menyerap 10 ribu tenaga kerja bisa ikut
menggendutkan perut petani Batak di hinterland Proyek Asahan.
Adapun penyerapan tenaga kerja itu sendiri, orang di sana
tentunya mengharapkan bahwa para penganggur dan calon penganggur
di Sumatera Utara sendiri yang diberi prioritas. Baru setelah
tidak mampu disuplai dari Sumatera Utara sendiri, kekurangannya
didatangkan dari Jawa. Fukuoka pun tidak keberatan atas usul ini.
"Tapi kami terikat dan tunduk pada keputusan Departemen Tenaga
Kerja", katanya lebih lanjut pada Mansur Amin dari TEMPO. "Kalau
harus ada transmigran, ya kami akan mematuhinya. Kalau harus dari
daerah sekitar Asahan, akan kami laksanakan juga".
Pertanyaannya adalah: sanggupkah daerah hinterland itu sendiri
menyiapkan kebutuhan karyawan sebanyak 6500 - 10.000 orang itu?
Angka sensus pengangguran, angkalan kerja, dan lowongan kerja
yang tersedia di Sumatera Utara, mungkin bisa bercerita banyak.
Namun dari pengamatan sepintas kilas di kota Medan sendiri ada
beberapa petunjuk yang cukup menyolok. Jumlah pelacur sudah jauh
meningkat dari 10 tahun yang lalu. Komposisinya pun tidak hanya
para pendatang dari Jawa saja, tapi sudah lebih merata di antara
penduduk Sumatera Utara sendiri. Juga armada tukang becak jauh
meningkat, yang tidak lagi keren-keren seperti dulu (berjaket
kulit dengan koran terpacak di kendali). Jadi berdasarkan 2
indikator yang sederhana ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa
kemiskinan dan pengangguran memang semakin banyak menjerumuskan
orang ke profesi yang kurang disenangi ini. Sehingga satu
lowongan kerja sebesar Proyek Asahan, dengan sendirinya akan
diserbu oleh wanita, perjaka dan para kepala keluarga yang ada
di sana.
Yang, mungkin bisa terjadi, adalah pelapisan tenaga kerja yang
dapat ditampung dalam Proyek Asahan. Seperti yang terjadi di
tambang nikel PT Inco di Soroako, ada 3 golongan penduduk yang
bekerja di sana. Tenaga kasar alias buruh harian, kebanyakan
berasal dari Ujungpandang. Tnaga menengah lepasan STM, SMEA
dan-SMA, umumnya didatangkan dari Tana Toraja -- yang selain
lebih dekat ke Soroako juga kaya dengan sekolah-sekolah kejuruan
kepunyaan Misi dan Zending. Sedang untuk tenaa pimpinan yang
langsung berada di bawah insinyur-insinyur Kanada dan Indonesia,
didatangkan dari Jawa di mana mereka biasanya lepasan
proyek-proyek gede seperti Jatiluhur dan Karangkates.
Stratifikasi begini, juga tampak dalam proyek LNG di Arun, Aceh.
di mana penduduk setempat umumnya hanya dapat menyediakan tenaga
kasarnya, sementara urusan supervisi proyek banyak dipegang oleh
orang Batak dan Jawa. Untunglah perbedaan-perbedaan begini
diharapkan tidak terlalu kentara dalam Proyek Asahan, di mana
pusat-pusat pendidikan Kristen seperti di Balige dan Tarutung,
Tapanuli Utara cukup banyak menghasilkan tenaga berpendidikan
menengah.
Namun yang perlu difikirkan dari sekarang, begitu menurut Drs
Wanton Gultom, seorang bekas aktivis WAY Indonesia asal Samosir,
"adalah penciptaan lapangan kerja baru di luar Proyek Asahan".
Mengapa? "Karena pagi-pagi sudah perlu kita fikirkan efek
penciutan lapangan. kerja setelah PLTA dan pabrik aluminium
Kuala Tanjung sesudah berproduksi, yang hanya membutuhkan 2200
orang". Berarti minimal 4300 orang yang tadinya bekerja
membangun proyek itu, akan sibuk mencari kerjaan baru setelah
1983. "Kalau mereka tidak tersalur dan menganggur, mereka bisa
merepotkan nanti", kata Gultom yang mengaku mengerti psikologi
sukunya. Setidak-tidaknya mereka hisa mengadukan nasihnya pada
Bupati Tapanuli Utara, yang berkuasa atas 90% wilayah danau
Toba, sumber tenaga utama seluruh proyek peleburan aluminium
itu. Dan lebih celaka lagi, kalau timbul gangguan terhadap
kelancaran aliran air ke PLTA Asahan.
Penciptaan lapangan kerja baru itu akan bisa terlaksana, asal
pemerintah pandai-pandai saja memanfaatkan sisa tenaga PLTA
Asahan yang tidak disedot Jepang. Yakni, berkisar antara 30 - 40
MW, bak kata Ir Suhud. "Listrik itu tidak akan kami transmisikan
ke Medan atau kota-kota lain, tapi PLN harus mengambilnya
sendiri di Sigura-gura atau Tangga", kata Fukuoka. Sedang harga
penjualan dari PT Indonesia Asahan Aluminium pada PLN, jauh di
bawah harga pasar PLN. "Soalnya biaya produksi listrik Asahan
akan sangat murah, karena ongkos bunga pinjaman dari Pemerintah
Jepang juga murah sekali. Jadi pemerintah Indonesia silakan
mengambil keuntungannya sendiri", tambahnya lagi. Dengan bekal
senjata pertama ini-dan pinjaman selanjutnya untuk mengolah sisa
tenaga listrik sungai Asahan yang kolosal itu - industrialisasi
bisa digalakkan di Sumatera Utara. Sebab menurut Ir Suhud yang
juga Wakil Ketua BKPM itu, "potensi mineral, pertanian dan
intelektuil Sumatera Utara cukup tinggi. Tinggal sekarang
bagaimana pemerintah juga membantu memperbaiki iklim berusaha di
daerah, dengan sedikit mengendorkan birokrasi perizinan dan
perbankan".
Nikel Lebih Cerah?
Tapi Suhud tidak melihat Proyek Asahan dari segi kepentingan
Sumatera Utara saja. "Sebab kalau kita mau betul-betul
mengembangkan industri yang berpangkal pada aluminim dan yang
menopang produksi aluminium, cakupannya bisa nasional sifatnya",
katanya lebih lanjut (lihat: Wawancara dengan' Ir Suhud).
Seperti yang dibeberkan oleh stafnya, Siahaan, kebutuhan Kuala
Tanjung sedikit-dikitnya 450 ribu ton alumina (Al203)
setahun--yang pada gilirannya dimurnikan dari 900 ribu ton
bauksit. Teoritis, ini bisa dipenuhi dari dalam negeri. Sekarang
saja ekspor bauksit kita ke Jepang ada 1,2 juta ton setahun.
Sedang untuk pemurnian bauksit itu, dibutuhkan bahan pelengkap
sebanyak 100 ribu ton soda api (caustic soda). Dan untuk
memperlancar peleburan alumina menjadi aluminium di Kuala
Tanjung nanti, dibutuhkan 60 ribu ton petroleum coke setahun -
bahan mana sesungguhnya bisa disisihkan dari Impas-ampas
penyulingan minyak bumi. Kalau kita menarik garis lebih ke
belakang lagi maka kelihatan, bahwa untuk memprodusir 100 ribu
ton soda api, dibutuhkan 200 ribu ton soda, yang pada gilirannya
melalui elektrolisa dengan listrik murah diperoleh dari 400 ribu
ton garam.
Itu baru industri pra-aluminium. Setelah jadi aluminium, perlu
disiapkan industri pengolah 85 ton ingat aluminium yang
diwajibkan oleh pemerintah Indonesia untuk dipasarkan di dalam
negeri. Sampai sekarang ini, baru 2 pabrik pengolah aluminium
berdiri di Jakarta, yakni milik Alcan Kanada) dan Showa Denko
(pendukung Asahan). Di Medan, sebijipun belum berdiri. Padahal
setelah tahap ini diselesaikan, profil, pelat, batangan dan
extrusion aluminium itu dapat dimanfaatkan untuk konsumsi pabrik
panci, bahan bangunan, mobil, notor dan pesawat terbang. Tapi
itu semua baru di atas kertas. Sebab pabrik pemurnian bauksit
pun kita belum punya. 3 tahun yang lalu PN Aneka Tambang sudah
punya rencana membangunnya di pulau Bintan, sebagai rangkaian
dengan Proyek Asahan. Untuk itu perusahaan negara itu minta
bantuan trio importir bauksit Indonesia di Jepang, Showa Denko,
Sumitomo & Mitsui.
Namun swasta Jepang lebih berminat menanam modalnya dalam
pemurnian nikel PN Aneka Tambang di Pomalaa (Sulawesi Tenggara),
mumpung harga nikel sedang lebih cerah ketimbang aluminium. Maka
ke sanalah mengalirnya pinjaman sebanyak $ AS 150 juta, yang
cukup untuk membangun satu pabrik pemurnian (ref nery) alumina
pensuplai Proyek Asahan. Dengan demikian, Kuala Tanjung
"terpaksa" berpaling ke Australia -- pensuplai utama kebutuhan
aluminium Jepang selama ini. Dan Indonesia hanya akan melever
listrik murahnya. Kecuali apabila Aneka Tambang cepat-cepat
mencari modal sendiri untuk membangun pabrik alumina di pulau
Bintan. Atau menanti Alcoa menambang bauksit dan memurnikannya
sekaligus di Tayan, wilayah konsesi PT Alcomin di hilir sungai
Kapuas, Kal-Bar.
Jadi sementara Jepang asyik memetik untung dari pembangunan
proyek Asahan, sembari memindahkan sebagian biang polusinya ke
luar negeri, Indonesia pun tidak bisa ongkang-ongkang saja
menanti PLTA dan pabrik itu rampung. Melainkan mengadakan
persiapan yang integral. Artinya, melibatkan semua instansi
swasta & pemerintah yang berkepentingan dengan industri pra-
dan purna-aluminium, untuk memetik manfaat Titian Dewata secara
optimal. Kalau tidak, komentar seorang pengamat Jepang di
Jakarta, "proyek Asahan hanya akan jadi'Permenpengaman
investasi Jepang lainnya di Indonesia, yang lebih penting
artinya dari pada aluminium. Terutama minyak bumi, LNG, kayu,
ikan dan barang-barang konsumennya. Sebab aluminium sendiri,
yang disuplai dari Asahan nantinya hanya 10% dari seluruh
konsumsi industri Jepang".
|