Lebah sosial Nyuh tebel berhasil meraih juara desa tingkat kab. karangasem. Berkat memelopori sistem KB vasektomy, pembangunan SD. Gotong-royong, yang khas usaha peternakan lebah untuk menambah pendapatan warganya. (ds) |
SEKALIPUN Bali telah menjadi daerah wisata yang utama, namun
tidak semua desa di pulau itu mendapat penghasilan dari turis.
Contohnya desa Nyuh Tebel Kecamatan Manggis, Kabupaten
Carangasem. Desa ini miskin. Toh tahun ini berhasil meraih gelar
desa terbaik tingkat Kabupaten Karangasem. Dan karenanya
mewakili Kabupaten dalam lomba desa tingkat Propinsi Bali.
Nyuh Tebel yang terdiri dari 3 Desa Adat yaitu Pesedahan, Nyuh
Tebel dan Sengkidu masyarakatnya kompak. "Mungkin karena merasa
satu keturunan", ujar Nyoman Suweca, Kepala Desa Nyuh Tebel yang
pernah terkenal karena memelopori KB sistim pemandulan
(vasectomy). Diberikan contoh, misalnya Desa Adat Sengkiduh yang
membutuhkan sebuah gedung SD. Ketiga Desa Adat ramai-ramai
bergotong-royong. Selain mengumpulkan kelapa ada yang nyumbang
kapur, bata merah dan kayu seseh. Hasilnya, lebih baik dari SD
Inpres, terdiri dari 6 ruang belajar, 1 ruang guru lengkap
dengan wc. Sebagai Kepala Desa, Nyoman Suweca membanggakan
swadaya masyarakat ini dan di hadapan Gubernur Soekarmen bulan
lalu dikatakan "SD itu bernilai Rp 7 juta":
Luas desa ini cuma 442,045 Ha. dan 14,1 hektar berupa sawah.
Hasil sawah tidak mencukupi kebutuhan penduduk yang 4507 orang,
karenanya hasil ladang ditingkatkan. Misalnya kelapa, nenas,
pisang dan mangga. Peningkatan industri rumah tangga seperti
pembakaran kapur dan pembuatan bata merah.
Lebah
Ada lagi yang khas di Nyuh Tebel dan tak terdapat di desa-desa
lainnya di Bali yaitu peternakan lebah. Usaha ini dipelopori
oleh I Simpen penduduk asal Pesedahan sejak tahun 1960. 'Waktu
itu punya 50 sarang, belum diperik madunya, cuma untuk sayur", I
Simpen bercerita. Lama kelamaan I Simpen yang punya 1 isteri dan
4 anak bosan pada sayur lebah, atau pepesan anak lebah. Sarang
lebah mulai tak dikutik Selang sebulan, rumah lebah diambil.
Kebetulan bulan Desember yang musim madu. Dari 30 sarang lebah
didapat 1 botol besar madu. Saat itulah I Simpen memperluas
ternak lebahnya yang cepat diikuti penduduk setempat. Sekarang
di Pesedahan saja ada 2.000 sarang lebah, tergantung di pinggir
jalan, di kebun, atau di pojok rumah. Setiap bulannya dari sini
dipasarkan 75 botol madu. Jika musim yng kebetulan musim nenas,
sekitar 300 botol madu siap dilempar ke Denpasar. "Tapi di
Denpasar tak ada yang tahu itu madu asli Nyuh Tebel. Tahunya
cuma madu asli Sumbawa", gerutu I Simpen.
Beternak lebah tentu saja tak sama hasilnya dengan "beternak
hotel". Namun secara tak langsung "masyarakat lebah" di sini
rupanya telah turut menyumbang dalam pembangunan desa manusia.
Di Desa Adat Pesedahan, setiap rapat yang sebulan sekali (bulan
Bali 35 hari), tiap KK membawa satu irisan rumah lebah. Setelah
dikumpul dilelang. Atau ditunjuk salah seorang untuk memetik
madunya. Menurut I Simpen hasilnya setahun sekitar Rp 75.000 dan
"uangnya dipakai memperbiki Balai Banjar'.
Mengingat usaha beternak lebah di Bali masih dalam taraf
permulaan, apa yang diperlukan di sini adalah bimbingan. Buku
petunjuk, atau nasehat dari yang tahu belum pernah ada setelah
15 tahun peternakan itu dirintis. Pernah melalui Kelompok Siaran
Pedesaan Srota Karya, I Simpen mengajukan pertanyaan, tetapi
"jawabannya tidak kena dan lebih kolot dari ini". Pejabat yang
datang ke Nyuh Tebel sebenarnya banyak, dan sering berkomentar
sarang yang terbuat dari pohon enau atau ke lapa masih kuno.
Namun "pejabat itu tak memberi tahu bagaimana yang moderen",
kata I Simpen.
|