Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/V/12 - 18 Juli 1975
   
Musik

Festival slp

Festival paduan suara slp se-jakarta diadakan pertama kali, diikuti 115 grup. juara i smp theresia, ii smp negeri viii, iii smp kristen iv. tujuannya mencari bibit muda, mengukur kurikulum kesenian. (ms)

RENCANA semula, Festival Paduan Suara SLP se Jakarta akan
berlangsung pada bulan Oktober sampai Desember. Gagal. Sebab
ternyata pendaftar yang berminat kurang dari jumlah yang
diharapkan. Maklumlah waktu itu banyak kegiatan sekolah.
Misalnya ada ujian-ujian dan kenaikan kelas. Kemudian festival
yang merupakan sebagian dari program Dewan Kesenian Jakarta itu,
berlangsung juga. Finalnya yang diadakan pada akhir Juni yang
lalu, mencatat SMP Theresia dari Jakarta Pusat SMP Negeri VIII
dan SMP Kristen IV (PSKD IV), masing-masing sebagai juara I, II,
dan III. Festival yang pada mulanya diikuti oleh sebanyak 115
grup itu memang kurang berjalan lancar. Terutama bagi peserta
selain kesulitan pengangkutan, juga minimnya pembiayaan yang
tersedia. "Kegiatan ekstra kurikuler itu pembiayaannya tidak
bisa diharap banyak dari dana SPP", ucap Bambang Gunarjo, Kepala
Kabin Kesenian DKI.

Namun, bagaimanapun festival paduan suara SLP yang baru pertama
kali ini dilaksanakan di Jakarta, punya banyak manfaat. Di
samping ada maksud untuk mencari bibit-bibit muda, "festival
bisa dijadikan ukuran untuk mengetahui sampai sejauh mana
kurikulum kesenian itu dilaksanakan di sekolah-sekolah", ucap
Irawati Sudiarso, anggota DKI yang jadi Ketua Festival. Selama
ini, musik dalam kurikulum masih belum mendapatkan perhatian
banyak. "Terus terang saja dengan apresiasi seni mereka yang
sekarang, saya masih belum puas" lanjut Irawati. Sementara bagi
Frans Haryadi, Ketua Juri--anggota yang lain Binsar Sitompul,
Simanungkalit, Alex Pa'at--yang penting kontinuitas pembinaan
seni dipertahankan di sekolah-sekolah. Sebab bagaimanapun,
"festival ini jangan dianggap sebagai sebagian dari kegiatan
kurikulum", ucap Frans Haryadi. Di SMP memang, pembinaan musik
kurang intensif. Apalagi di tingkat SLA. Kata Frans, selama ini
banyak festival paduan suara yang tak jelas tujuannya.
Festival-festival itu diselenggarakan seperti musiman saja,
dengan persiapan yang cuma beberapa bulan. Karena itu dari
festival paduan suara semacam yang mulai dirintis tahun ini
(rencananya akan diselenggarakan tiap tahun), "jangan diharapkan
bisa tampil hasil yang baik". ucap Frans.

Untuk mendukung kontinuitas pembinaan. itu, baik menurut Irawati
maupun Frans Haryadi, yang penting adalah penyediaan tenaga
pengajar. Selama ini memang kurang jelas bagaimana persyaratan
seorang pengajar untuk mata pelajaran musik itu. Tapi kalau toh
masih minim, "dari kami, kemungkinan untuk membantu menatar
selalu terbuka", ucap Irawati. Sebab dari tenaga pengajar
inilah, baik buruknya apresiasi musik anak-anak itu terbina.
Cuma penataran musik yang bakal diberikan, tentu saja mesti
diberikan dalam rencana yang tidak sembarangan. Sebab seperti
Ronald Pohan, Dekan Akademi Musik LPKJ misalnya pernah
mendapatkan tugas menatar guru-guru SPG hanya dalam waktu tiga
hari. "Coba bayangkan bagaimana mungkin pengetahuan musik yang
mestinya diberikan dalam waktu satu tahun, cuma diberikan waktu
tiga hari", ucap Ronald, "bisa sih bisa, tapi kan cuma ala
kadarnya saja".

Tapi apakah festival paduan suara itu ad3 menghasilkan
bibit-bibit muda yang bisa diharapkan tentu saja walaupun tidak
terlalu banyak, beberapa di antaranya bisa dicatat ada harapan.
Pada usia yang SLP, memang tidak bisa diharapkan adanya jenis
suara yang seluruhnya lengkap. Namun pada beberapa grup menurut
Ronald Pohan, sudah ada yang sanggup menghasilkan suara Sopran,
Alto dan Bass. Bentuk pendidikan musik yang cocok buat anak-anak
tingkat SLP, memang paduan suara. "Sebab perkembangan kejiwaan
si anak belum menuntut terlalu banyak kompetisi kemampuan
individuil", ujar Ronald Pohan. Nah, soalnya sekarang adalah
bagaimana mempertahankan festival itu agar bisa diselenggarakan
setiap tahun. Sebab Ali Sadikin kabarnya sudah menyediakan dana
untuk kegiatan itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data