Sakit Tidak, Sehat Pun Tidak Sebagian penduduk Indonesia kekurangan gizi (malnu trition), hingga mereka sehat tidak, sakitpun tidak untuk mencegahnya depkes mendrop vitamin a,e, yang dapat membantu 25% penyembuhan penderita. (ksh) |
KECUALI "4 sehat 5 sempurna" yang masyhur itu, jagoan gizi Prof
Poerwo Soedarmo pernah pula memperkenalkan ungkapan tentang
"tidak sehat/tidak sakit". Meskipun kalah populer ungkapan
terakhir itu sesungguhhya amat penting. Dia menggambarkan bagian
terbesar penduduk Indonesia yang kalau dikatakan sakit tidak
benar, dan kalau disebutkan sehat pun tidak tepat. Lukisan macam
itu muncul dari keadaan yang diakibatkan kekurangan gizi atau
malnutrition. Mereka yang tergolong sehat-tidak-sakit-pun-tidak
dengan jelas dapat dilihat dari gejala-gejala seperti muka
pucat, kurus, otot dan lemak di bawah kulitnya kurang
berkembang. Kulit kering dan bersisik sedang rambut mereka
biasanya tidak mengkilap. Kalau bekerja ogah-ogahan dan tidak
kreatif. "Dalam bahasa Belanda sindroma, atau gejala lunum macam
ini, dinamakan 'indolentie'. Karena banyak orang Indonesia yang
menunjukkan gejala-gejala ini maka ditariklah kesimpulan 'de
Inlander is indolent' " ural Poerwo Soedarmo, 71 tahun, dalam
pidatonya minggu lalu, ketika menerima gelar Doctor Honoris
Causa dalam Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran UI.
Indolentie atau lamban yang dituduhkan Belanda itu sebenarnya
tidak hanya menjadi milik orang-orang dewasa. Ketika masih kecil
anak-anak kita yang miskin itu sudah menunjukkan gejala
kekurangan gizi. Mereka cengeng dan malas bermain. Dan kalau
ditimbang bobot tubuhnya kurang dari semestinya. Kalau
diselidiki lebih dalam nyatalah bahwa di antara mereka ada yang
menderita Anaemia atau kekurangan darah, sedangkan mata mereka
menderita Xerophthalmia atau kabur penglihatan. "Secara kasar
dapat ditaksir bahwa lebih dari 1.000.000 anak kecil menderita
Xerophthalmia dan hidup dalam ancaman kebutaan", kata profesor.
Dalam catatan Departemen Kesehatan pada tahun 1972 saja ada
kira-kira 120.000 orang buta yang kebanyakan diakibatkan
Xerophthalmia.
Mereka yang menderita akibat kekurangan- gizi itu memang jelas
tidak sehat, tetapi dalam kenyataan sehari-hari mereka tidak
sakit. Lihatlah, saban hari mereka tetap bekerja dan anak-anak
tetap pergi ke sekolah atau madrasah. Mereka, tambah professor
lagi, memang merasakan kelemahan tetapi dianggapnya biasa saja,
karena kawan-kawan di sekitarnya pun sama seperti dia juga.
Tubuh dan wajah segar yang dilihatnya pada para pedagang, turis
dan pembesar-pembesar yang datang dari kota dianggapnya
seolah-olah bukan hak mereka. Mereka menempatkan diri pada suatu
tingkat kesehatan yang lebih rendah daripada orang-orang asing
itu. Begitupun dalam hal makanan, kata Pak Poerwo, mereka
menganggap daging adalah hidangan pesta-pesta, makanan ningrat,
dokter dan para pejabat tinggi yang datang dari kota. Takhyul,
seperti anak kecil pantang makan daging dan ikan yang dianggap
sebagai pembawa penyakit cacingan, semua itu berakibat buruk
terhadap kesehatan penduduk yang berpenghasilan rendah tadi.
Kesatria dan Kurawa
Dalam menghadapi bencana kekurangan izi yang antara lain
berakibat penglihatan kabur, pemerintah memang sudah menemukan
jalan. Sejak beberapa tahun yang lalu Departemen Kesehatan sudah
mendrop kapsul-kapsul berisi vitamin A dan vitamin E.
"Berdasarkan penelitian dengan tindakan ini frekwensi
Xerophthalmia dapat diturunkan sampai 25% pada anak kecil", kata
Poerwo Soedarmo yang kini te]ah pensiun dan dulu menjabat guru
besar llmu Gizi pada FKUI. Karena itu oleh para ahli diangkat
sebagai Perintis Ilmu Gizi dan Perintis Utama perkembangannya di
Indonesia.
Vitamin A dan E dari pemerintah itu diberikan cuma-cuma kepada
anak-anak di bawah lima tahun begitu pula para ibu yang sedang
menetekkan bayi. Tetapi dalam hal pemberantasan penyakit di
kalangan orang-orang yang menderita kekurangan darah lantaran
kekurangan makanan dalam jangka waktu yang lama, lebih rumit.
Sampai sekarang belum ada gerakan dari pemerintah, kecuali
rencana peningkatan produksi bahan makanan dari tahun ke tahun
yang diharapkan menyelamatkan mereka.
"Tidak sehat/tidak sakit" yang diketengahkan Poerwo Soedarmo itu
tidak hanya tertuju kepada bagian terbesar penduduk yang secara
ekonomis memang lemah, tetapi pun kepada mereka yang justru
hidup dalam serba cukup. Berbanding terbalik dengan penduduk
yang dituduh indolent tadi, mereka ini tergolong orang yang
pintar, penuh kesibukan dan suka bekerja. Malahan terkadang
berlebihan. Makanan mereka juga berlebihan. Doyan makan
lezat-lezat dan gurih. Senang jajan di antara waktu makan utama.
Minum alkohol dan bukan mustahil juga perokok yang berat. Mereka
tampaknya memang sehat. Tetapi kalau diperiksa, kata Poerwo
Soedarmo, maka bobot tubuh mereka melebihi normal, denyut
jantung lebih cepat, tekanan darah dan kadar kolestrol tinggi.
Mungkin pula ada kenaikan kadar gula dalam darah mereka.
Untuk keadaan "tidak sehat/tidak sakit" yang berjangkit di
kalangan penduduk berpenghasilan rendah jalan melalui pendidikan
adalah cara terbaik. Sedang bagi para penderita dari kalangan
berpunya adalah menumbuhkan kesadaran untuk menahan diri. Petuah
nenek moyang yang menyuruh hidup sederhana, bertirakat,
prihatin, puasa Senen-Kemis, matang puluh dan mengurangi daging
dan lemak ada baiknya untuk diamalkan. "Kurus adalah baik, gemuk
adalah buruk. Bukankah dalam wayang semua kesatria bertubuh
kurus dan semua kurawa bertubuh gemuk?" ujar Poerwo.
|