Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/V/12 - 18 Juli 1975
   
Investigasi

Dari Peking, Dengan Janji

Pernyataan bersama PM Muangthai kukrit dengan PM RRC di peking. Ditegaskan tentang hubungan kedua negara, tidak saling mencampuri urusan dalam negeri, menghormati kedaulatan keutuhan wilayah masing-masing. (int)

HARI itu dengan resmi Muangthai jadi sahabat RRC yang ke-102.
Kejadian itu berlangsung beberapa hari setelah Kukrit Pramoj
mendarat dengan sambutan di Peking, tanggal 1 Juli yang lalu.
Sebuah pernyataan bersama antara PM Chou En-lai dari RRC dan PM
Kukrit dari Muangthai ditandatangani di rumah sakit tempat Chou
En-lai dirawat. Pernyataan itu tidak begitu berbeda dengan apa
yang dilakukan RRC dengan Malaysia maupun Pilipina beberapa
waktu lampau. Kecuali bahwa pasal-pasal persetujuan dengan
Muangthai ini--terdiri dari 10 pasal-lebih banyak dibandir
Malaysia (6 pasal) dan Pilipina (7 pasal).

Di situ ditegaskan: "kedua negara tidak akan saling mencampuri
urusan dalam negeri, kedua pemerintah berpendapat rakyat
masing-masing berhak memilih sistim politik serta ekonomi dan
sosial tanpa campur-tangan luar, saling menghormati kedaulatan
dan keutuhan wilayah, saling tidak menyerang, sepakat semua
bentuk agresi dan subversi asing tidak akan diizinkan dan akan
dikutuk". Terhadap soal orang-orang keturunan Cina yang ada di
Muangthai, pernyataan itu menyebutkan: "RRC tidak mengakui
adanya kewarganegaraan rangkap". Beberapa sumber di Bangkok
menyebut bahwa dari sejumlah 350.000 Cina perantauan di
Muangthai, sebahagian besar kini mulai mengurus kewarganegaraan
Muangthai. Pada umumnya orang-orang yang berasal dari propmsi
Kwantung dan Fukien itu lebih condong mendukung rezim Taipei
tinimbang penguasa di Peking.

Kecuali di dalam negeri, reaksi terhadap kunjungan Kukrit ke
Peking tidak begitu mengejutkan. Washington menganggap hal itu
wajar sebagai akibat berakhirnya peranan Amerika di kawasan
Indocina. Yang agak keras -- dan ini sudah selayaknya -- adalah
reaksi Departemen Luar Negeri Taiwan. Tindakan Kukrit tersebut
dinilai "tidak bersahabat" oleh Taipei yang disusul pengumuman
pemutusan hubungan diplomatik dengan Bangkok. Meskipun begitu
hubungan perekonomian Taipei dan Bangkok seperti diungkapkan
sendiri oleh PM Kukrit belum terputus sarana sekali. Bangkok
Post menyambut hangat langkah pembukaan hubungan diplomatik
tersebut, meskipun pemerintah Muangthai dinilainya "agak lamban
bertindak".

Bantuan Sealiran

Senada dengan itu adalah tanggapan yang dilontarkan Sekjen
Persatuan Nasional Mahasiswa Muangthai (SCT) Kriangkamol
Laohapairoj. Namun diingatkan oleh pimpinan mahasiswa tersebut
jangan sampai terjadi campur tangan di luar batas dari fhak
Cina. "Sejak sekarang", demikian Kriangkamol yang baru saja
menjabat Sekjen, "kita harus berdiri di atas kaki sendiri dengan
politik luar negeri yang independen". Adapun Suvit Padermchitt
bekas tokoh mahasiswa Muanthai, mengatakan tidak melihat
sedikitpun tanda-tanda kehendak agresi fihak RRC. Suvit yang
pernah mengunjungi RRC tahun lima puluhan menyambut kepergian
Kukrit dengan keyakinan bahwa "hal ini akan mengurangi
pemberontakan kaum komunis di Muangthai". Kalangan yang
beroposisi dengan PM Kukrit pun tak lupa memuji tindakan PM
Kukrit di Peking minggu lalu itu. Sang Pathanothai, pemimpin
redaksi Sathiaraparb dan bekas penasehat almarhum PM P.
Pibulsonggram, mengatakan: "Sekalipun saya menentang
langkah-langkah politik PM Kukrit, tapi saya mendukung
tindakannya membuka hubungan dengan Peking". Sang termasuk
pemain di belakang layar ke arah terbukanya hubungan antara
Bangkok dan Peking sejak tahun 1956 dan tahun 1971.

Bagaimanapun juga PM Kukrit masih dihadapkan pada beberapa hal
yang segera harus mendapat perhatian menyusul pembukaan hubungan
diplomatik ini. Sebagai tamu, nampaknya Kukrit tidak begitu
bergairah mempersoalkan pemberontak komunis baik dalam pertemuan
dengari Chou En-lai maupun dengan Ketua Mao sendiri. Bahkan
fihak tuan rumahlah yang menyampaikan kepadanya tentang "belum
pernah memberi dukungan" kepada, pemberontak, seperti
diungkapkan Kukrit seusai menemui Mao. Begitu pula dibantah
adanya pemancar gelap yang menyebut dirinya "Suara rakyat
Muangthai" dari daerah Kunming. Saran Mao agar "diambil
langkah-langkah pendekatan" terhadap partai Komunis Muangthai
mungkin saja dimaksudkan juga sebagai syarat dari Peking untuk
mengurangi bantuannya terhadap komunis. Setidak-tidaknya Peking
tentu berusaha menghindari kesalahan yang diperbuatnya terhadap
Malaysia, sehingga ia dituduh "telah mengingkari janji". Bagi
Sang Pathanothai, bantuan untuk kaum pemberontak komunis
Malaysia betapapun sulit buat mengeremnya. "Kita jangan berharap
Partai Komunis Cina menghentikan bantuannya kepada kaum
pemberontak, sebagaimana kita pun tidak mungkin menyetop bantuan
untuk orang-orang Budha, Kristen, Islam, dan kaum sosialis
kepada sealirannya di sini", begitu kata Pathanothai.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data