Sukses Panas Bumi Energi panas bumi dimanfaatkan di filipina sebagai tenaga
listrik. saat ini ada 3 sumber panas bumi, tiwi, tongonon, dan los banos. diidentifikasi 40 medan termis, 30 sumber air panas yang berpotensi. (tek) |
PENELITIAN panas bumi di Jawa Barat sebentar lagi akan
dilanjutkan oleh Pertamina Unit III. Sementara itu, pemboran
sumber uap panas di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah yang
dirintis oleh PLN belum terdengar kemajuannya. Apa sebabnya?
Apakah dana yang tersedia untuk penelitian dan pengembangan
sumber enerji pengganti minyak bumi ini makin menipis? Ataukah
prioritas telah bergeser ke sumber enerji lain, yang belakangan
ini makin sering dipropagandakan oleh BATAN, yakni tenaga
nuklir?
Seperti halnya Indonesia, tetangga kita di Utara, Pilipina juga
sudah menaruh harapan cukup tinggi pada PLTN (pusat listrik
tenaga nuklir). Malah pembangunan PLTN Pilipina yang pertama
berkekuatan 600 Mega Watt sudah di-Inpres-kan di sana 3 tahun
yang lalu. Meskipun demikian, tetangga Indonesia yang sama-sama
terletak pada zone vulkanis Zircum Pacific yang melintang dari
Jepang s/d Selandia Baru (lihat TEMPO, 15 Maret, Laporan Utama)
tidak melupakan sumber enerji panas bumi yang berlimpah ruah
ini. Malah seperti halnya dalam riset tenaga nuklir di bidang
panas bumi negeri yang miskin-minyak itu sudah maju beberapa
langkah.
Disadarkan oleh letusan gunung api Taal di Luzon Selatan tahun
1963, mulailah penelitian sumber panas bumi di pulau itu. Dan 4
tahun berikutnya. Komisi Vulkanologi Pilipina (COMVoL) berhasil
mengebor sumur uap panas yang cukup kuat di desa Tiwi, yang
dapat menggerakkan turbin listrik sekuat 3 Kilowatt. Pengeboran
selanjutnya berhasil menaikkan kapasitas PLTP (pusat listrik
tenaga panas-bumi) itu menjadi 2000 Kilo Watt, yang kini
digunakan dalam industri garam yang dulunya hanya mengandalkan
sinar surya. Pengelolaan listrik panas bumi itu, sejak 1970
mulai dikelola oleh National Power Corporation (Pilipina)
bekrjasama dengan Philippine Geothermal Inc., anak perusahaan
Union Oil dari California, AS.
Usaha memburu sumber tenaga baru itu segera mengangkat nama desa
Tiwi yang sebelumnya hampir tak dikenal itu. Namun bagi penduduk
Tiwi sendiri, panas bumi itu bukanlah barang baru dan sudah lama
menjadi "sahabat" mereka. Makanan mereka biasanya dimasak tepat
di atas lubang dalam batu padas dari mana gas panas atau air
mineral menyembur. Dengan mudahnya penduduk memasak ayam dan
telurnya di sana, sementara batu silikat yang merah membara di
sana digunakan untuk membuat kopra dan mengeringkan padi-padian
mereka. Pokoknya, baik kepentingan rumah tangga maupun bisnis
mereka, banyak tertolong oleh berkah panas bumi di situ.
Saingan Asahan
Kini, usaha rakyat itu sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh
teknisi asing dan bangsa sendiri yang makin banyak beroperasi di
Tiwi. Pemburuan enerji geothermis makin berderap maju. Itu
perusahaan Amerika, sudah diperkuat oleh tukang-tukang bor
Australia dari maskapai Richter Bawden. Team Australia itu,
telah membor 5 sumur baru, 4 di antaranya menyemburkan uap panas
yang cukup kuat untuk menggerakkan generator ukuran menengah.
Sedang satu di antaranya, tergolong sumur geothermis yang paling
sukses di dunia. Bayangkan saja: dari kedalaman 1.900 meter
sumur itu menyemburkan uap panas begitu dahsyatnya, cukup untuk
memprodusir 12 sampai 15 Mega Watt listrik.
Sukses di Tiwi itu segera mengundang usaha pemboran lainnya di
berbagai tempat yang berpotensi. Tidak kurang dari 41 medan
termis dan 30 sumber air panas telah diidentifisir oleh COMVOL
tersebar tidak beraturan di seluruh Luzon, Visayas, dan Mindanao
Selatan. Dua daerah telah dipilih sebagai prioritas pengeboran,
yakni Tongonon di pulau Visayas, dan Los Banos - yang juga
terkenal karena Pusat Penelitian Padinya--di Luzon Selatan.
Penemuan sumber panas bumi di Tongonon itu begitu menguntungkan,
sehingga di sana direncanakan satu PLTP yang cukup kuat untuk
menghidupkan tanur listrik pabrik aluminium di tahun 1977. Ini
calon pesaing yang cukup kuat bagi proyek Asahan, yang ditaksir
baru akan mulai beroperasi 7--8 tahun lagi. Proyek ini
dikerjakan dengan bantuan pemerintah Selandia Baru -- yang juga
merupakan pendamping Pertamina -dalam rangka Rencana Colombo.
Menurut ramalan COMVOL, PLTP-PLTP yang akan mulai beroperasi
tahun 1977 itu, dalam dasawarsa terakhir abad ke-20 ini akan
menekan ketergantungan negeri itu pada minyak bumi dari 76%
sekarang ini menjadi 25% di tahun 1990. Pada saat itu, 3 sumber
panas bumi yang utama sekarang (Tiwi, Tongonon dan Los Banos)
akan ditunjang dengan produksi 1 sumur baru di Bantoc, Luzon
Tengah, 3 di Visayas dan 3 di Mindanao. Dan yang lebih
menggembirakan lagi adalah: berbeda dengan sumber minyak bumi,
sumur panas bumi yang langsung menembus kulit bumi itu tidak
pernah bisa "kering". Kecuali bilamana perut bumi mendingin
--kemungkinan mana kecil sekali.
Tiwi sendiri, medio tahun depan akan memprodusir 150 MW -- yang
akan meningkat lagi sampai 600 MW di awal 1990-an. Potensi satu
sumur itu saja akan mampu mendukung seluruh kebutuhan jaringan
listrik seluruh Luzon, termasuk metropolis Manila. Akibat "boom"
enerji panas bumi itu, turisme telah mekar di bekas dusun itu,
dan harga tanah & bangunan meroket dengan pesatnya. Satu hal
yang juga bisa terjadi di banyak dusun di negeri kita, di mana
masih banyak sumber panas bumi yang belum tergarap (lihat box).
Malah jauh melebihi potensi Pilipina. Sebab untuk apa hanya
mengutuk dan mengeluh tentang bahaya gunung api & gempa bumi,
kalau penyebab musibah itu justru bisa disulap jadi anugerah?
|