Bakal Naik Lagi Pertemuan menteri opec di gabon menghasilkan kenaikan harga minyak, karena nilai dolar as merosot dasar harga selanjutnya dipakai sdr,yaitu nilai rata-rata 16 mata uang, patokan dolar AS dilepas. (eb) |
MINYAK menjadi ramai lagi ketikaa para menteri negara-negara OPC
yang baru melakukan pertemuannya di Gabon awal bulan ini
merekomendasikan kenaikan harga minyak lagi selambat-lambatnya
Oktober tahun ini. Sebagai alasan usul kenaikan itu adalah terus
merosotnya nilai dollar AS yang sampai sekarang menjadi dasar
perhitungan penghasilan negara OPEC dari ekspor minyaknya. Tapi
putusan terakhir tentang kepastian kenaikan harga itu sendiri
masih harus diputuskan pada pertemuan tingkat tinggi para
menteri OPEC bulan September nanti di Wina.
Suara Iran
Kemerosotan nilai dollar sudah lama merisaukan negara pengekspor
minyak. Sejak September tahun lalu, nilai dollar terus menerus
merosot. Dan kemerosotan ini sudah mencapai 13% terhadap Gulden
Belanda, Mark Jerman, dan Franc Belgia. Terhadap mata uang franc
Perancis nilai dollar anjl-og dengan 20% satu titik terendah
kemerosotan dollar untuk pertama kalinya sejak 1973. Kemerosotan
dollar ini diperkirakan menurunkan nilai riil penghasilan negara
pengekspor minyak dengan sekitar 30% sejak Oktober 1974. Tapi
sementara itu perkiraan menunjukkan bahwa harga minyak, kalau
jadi naik, akan naik dengan sekurang-kurangnya 15% September
tahun ini. Kenaikan harga ini nampaknya tak akan bisa
ditahan-tahan lagi. Satu argumen yang cukup keras telah
dikemukakan Shah Iran baru-baru ini. Dalarn satu wawancaranya
dengan majalah TIME Shah Iran antara lain menyatakan: "Sulit
sekali sekarang ini mengatakan berapa persen harga minyak akan
naik. Tapi tak akan sebesar 35%. Tapi kalau kami memberi kesan
kepada anda bahwa anda akan bisa mengendalikan inflasi,
sementara kami kehilangan daya beli 35% setiap tahun, dan anda
hanya rugi 20% maka dalam waktu kurang dari enam tahun anda akan
mendapat untung 100%. Dan dalam waktu enam tahun pula nilai
minyak kami akan menjadi nol".
Reaksi yang keras segera datang dari AS. Dalam satu konperensi
persnya, Presiden Ford menyatakan tidak bisa menerima kenaikan
harga minyak sampai US$ 4 per barrel seperti yang direncanakan.
Kenaikan harga minyak ini menurut Ford akan menimbulkan krisis
ekonomi dunia, sesuatu yang menurut Ford tidak dikehendaki OPEC
sendiri. Ford juga mengatakan bahwa kenaikan harga minyak
tersebut bahkan akan menjadi "senjata makan tuan" buat OPEC
sendiri. Memang harus diakui bahwa satu kenaikan harga minyak
lagi, sekalipun ini akan merupakan buah yang akan dinikmati lagi
oleh negara pengekspor minyak akibat yang ditimbulkannya tetap
akan merupakan realita yang pahit, bukan saja bagi negara-negara
industri, tapi juga bagi negara berkembang yang tak punya
minyak. Akhir tahun ini, oleh beberapa ekonom AS terkemuka
diramalkan sebagai titik tolak resesi dan mulainya pertumbuhan
ekonomi. Apabila harga minyak naik, maka jelas ramalan ekonom
tersebut perlu direvisi kembali.
Harga pupuk sudah menunjukkan penurunan akhir-akhir ini--harga
pupuk phosphat bahkan sudah naik sekitar 50% dari harga setahun
yang lalu - tapi kalau harga minyak naik lagi, berarti harga
pupuk bisa naik lagi. Ini akan merepotkan lagi negara berkembang
yang tak punya minyak tapi yang perlu banyak pupuk untuk
produksi pertaniannya. Dan resesi negara industri akibat naiknya
harga minyak akan mempersempit pasaran hasil ekspor negara
berkembang yang tak punya minyak ini. Bayangan yang tak enak
inilah barangkali yang mengetuk hati Muamar Ghadafi, Presiden
Libya, yang keluar dengan usulnya tentang dua harga minyak: satu
untuk negara maju, dan satu untuk negara berkembang. Yang
pertama tentunya lebih tinggi dari yang kedua.
Usul yang simpatik ini malangnya mungkin sulit dilaksanakan.
Yang pertama, belum tentu perusahaan minyak yang memonopoli
pemasaran minyak di negara berkembang setuju dengan harga yang
diusulkan. Yang kedua, taruhlah ada dua harga minyak, tapi
bagaimana mengontrol bahwa negara berkembang yang dapat jatah
minyak tak menjualnya kembali kepada negara maju dengan harga
yang lebih tinggi. Problim dua harga ini sama sulitnya dengan
problim dalam satu negara yang pemerintahnya - misalnya utuk
tujuan pengendalian inflasi -- melakukan dua harga untuk sesuatu
barang, harga resmi dan harga pasaran. Pengalaman menunjukkan
betapapun efektifnya administrasi pemerintah, akan selalu
menemui kesulitan dalam mengawasi dua harga berbeda untuk satu
jenis barang di pasaran. Barangkali satu kompromi dari usul
Ghadafi ini bisa dilaksanakan. Negara pengekspor minyak dari
kelebihan penerimaan minyaknya menyisihkan sebagian untuk suatu
dana khusus yang digunakan untuk membantu negara-negara
berkembang yang terpukul oleh adanya harga minyak yang naik.
Satu usul lain lagi dari pertemuan Gabon adalah dilepaskannya
dollar AS sebagai dasar perhitungan penghasilan minyak. Mereka
mengusulkan digunakannya SDR sebagai unit perhitungan gantinya.
SDR sebagai unit hitungan mungkin akan lebih stabil dari pada
satu mata-uang tertentu, karena nilai SDR yang dihitung atas
dasar nilai rata-rata 16 mata uang terkemuka tidak akan
merupakan objek fluktuasi dan bisa terlindung dari kegoncangan
moneter. Dus knperensi Gabon telah keluar dengan semacam
pembaharuan yang menentukan nasib negara penghasil minyak.
Sekurang-kurangnya, konperensi puncak OPEC yang akan bedangsung
di Wina September nanti, sudah mempunyai satu pegangan yang
pasti, dalam satu keadaan yang masih diliputi ketidak pastian.
|