Menggusur Jalan Raya PT Kayu Mas Timber membangun pabrik industri kayu di loa kulu. Untuk itu beberapa bangunan digusur termasuk jalan raya samarinda-tenggarong. Dibuat jalan lain pengganti
berkelok-kelok, berlumpur. (ds) |
DESA ini sangat terkenal di Kaltim. Loa Kulu, 12 Km di ilir ibu
kota Kabupaten Kutai memiliki rumah sakit - megah, gedung
bioskop, villa-villa dan juga pembangkit listrik yang cukup
besar. Bahkan kota Samarinda mengambil aliran listriknya dari
desa ini. Itu tahun limapuluhan ketika Belanda masih
berasyik-asyik di sana dengan tambang batubaranya. Ketika itu,
Loa Kulu menjadi semacam kota satelit, yang mungkin seperti
Cilegon sekarang. Sebuah desa, yang oleh karena suatu proyek
mewah mempunyai fasilitas-fasilitas yang cukup.
Tapi saat desa itu bagaikan baru terlanda perang. Menyedihkan.
Pusat tenaga listriknya tinggal puing-puing, demikian pula
gedung bioskop. Akan hal rumah sakit, mungkin sudah menjadi
tempat hantu. Yang tersisa hanyalah villa-villa di atas bukit
yang secara otomatis menjadi milik bekas pegawai proyek
batubara. Dan Loa Kulu yang jaya, berangsur-angsur padam sejak
OBM diambil alih oleh pemerintah Indonesia tahun 155. Bukan
pemerintah Indonesia tidak becus, tapi lantaran harga batubara
di pasaran internasional yang anjlog disaingi minyak bumi.
Ya Ampun
Sementara masa jaya itu memang sudah tidak diharap lagi oleh
penduduk sana, PT Kayu Mas Timber memilih Loa Kulu menjadi pusat
industri kayu (plywood & shawmill)nya. Tapi buat masyarakat
setempat tidak banyak manfaat -- kecuali beberapa orang sekitar
menjadi buruh kasar. Di samping banyak rumah yang kena gusur dan
juga sedikit ricuh urusannya, industri kayu ini juga menduduki
jalan raya yang menghubungkan Samarinda-Tenggarong.
Maka itu, kalau biasanya bangunan digusur untuk pelebaran jalan,
di Loa Kulu. Ini justru sebaliknya yang terjadi: Jalan raya
digusur untuk bangunan. Dan Pemda Kutai mengizinkan saja praktek
begini. "Soalnya, jangan sampai pengusaha kayu merasa sulit
untuk mendirikan industrinya di sini. Sebab sebenarnya mereka
itu lebih senang mendirikan industrinya di luar daerah" ujar
Bupati Kutai Drs H. Ahmad Dahlan. Dan memang bupati Dahlan tidak
mengizinkan begitu saja. Tapi ada keharusan PT Kayu Mas
membuatkan jalan baru.
Jalan itu, setelah dua tahun terputus, memang dibuat akhir-akhir
ini. Tapi, ya ampun! Berkelok-kelok, berkubang-kubang, berbatu
dan berlumpur. Sebuah pemandangan yang menyedihkan - tapi
kadang-kadang juga menggelikan karena banyak orang yang
terpeleset. Suasana ini akhirnya melengkapi pemandangan di Loa
Kulu yang serba mati setelah ditinggal batubara tadi.
|