Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/V/28 Juni - 04 Juli 1975
   
Nasional

Versi Sumi & Versi Gelandang

Pendapat tentang kemewahan oleh sumi hakim, peragawati. baginya kemewahan itu relatif. pendapat lain dari hasan, 55 th, gelandangan. komentarnya: hidup senang atau mewah mesti dirasakan merata. (nas)

SIAPA tidak kenal Sumi Hakim? Pernah dapat gelar ratu foto ratu
sekuter, ratu kebaya, ratu baju bodo dan sekarang peragawati
Cipta Busana di samping mengucapkan "inilah rahasia dan juga
rahasia anda" dalam iklan Viva Cosmotic "Dulu orang menganggap
televisi, lemari es dan sebangsanya barang mewah", kata Sumi,
"sekarang anggapan itu tidak ada lagi. Ini menunjukkan soal
kemewahan itu relatif. Menurut pendapat nyonya muda asal
Periangan ini, "sepanjang usaha mencapai kebutuhan itu tidak
merugikan atau mengganggu orang lain, cara hidup seseorang tak
ada urusannya dengan soal mewah atau tidak mewah". Singkatnya
"ap akah orang itu sehari-hari pakai mobil, bisa beli ini itu,
tapi kalau uang itu hasil jerih payahnya sendiri, itu tak bisa
dikatakan bermewah-mewah" Karena itu Sumi Hakim berpendapat tak
ada salahnya orang pakai mobil Roll Royce, "kalau orang itu bisa
membelinya dengan uang hasil jerih-payahnya sendiri".

Bagaimana dengan instruksi Presiden untuk hidup sederhana?
"Setuju!". jawabnya dalam satu kata.

Pendidikanya Hollandsche Volkschool sampai kelas 5. Agama:
menurut Bala Keselamatan. Isteri dua yang tua di kampung, yang
muda namanya Kamisah dinikahinya 2 tahun yang lalu. Kekayaannya
sebuah arloji merek Kent, 2 radio transistor -- 1 Telesonic 1
band dan 1 Silver mini 3 band. Alamat sejak 2 tahun yang lalu:
emper toko di suatu jalan raya di Jakarta Status: gelandangan.
Sumber penghasilan tetap: menjual kertas-kertas bekas. Itulah
Hasan, 55 tahun, yang sebelum ke Jakarta, penjaga sebuah
restoran di Semarang. Kertas-kertas bekas ditadahnya dari rekan
sesama gelandangan plus hasil mengumpul sendiri. Lalu dijual ke
Pasar Nangka, Tanjung Priok. Hasil sendiri rata-rata Rp 700.
Bagi yang rajin menyaksikan pertunjukan drama modern di TIM
mungkin pernah melihat Hasan dan Kamisan, karena suami-isteri
ini pernah dumanfaatkan oleh seorang sutradara memegang peranan
dalam lakon yang sedang dipentaskannya.

Selalu lolos dari razia pembersihan dengan membayar Rp 200
kepada petugas. "Kalau sudah di kantor kecamatan tarifnya Rp
1.000" katanya pasti. Menurut Hasan ia pernah melapor untuk ikut
ditransmigrasikan tapi ditolak petugas. Alasannya "bapak sudah
terlalu tua". Liwat koran-koran bekas Hasan juga mengikuti
pembicaraan masalah kemewahan dan instruksi pola hidup
-sederhana. Komentarnya: "Belum waktunya bapak-bapak itu untuk
hidup bermewah-mewah. Hidup senang atau mewah itu musti
dirasakan merata".

Uang yang didapatnya di Jakarta. Katanya sebagian ditanamnya di
kanpung Kamisan yang masih punya orang tua dan 2 petak sawah.
"Saya tidak mau terus menerus seperti ini" katanya. Ia akan
pulang "kalau sudah bisa bikin rumah di kampung dan ada modal.
Kalau sudah lebih mampu dari itu buat saya artinya saya sudah
hidup mewah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data