Ditiup Angin Buritan Terusan suez telah dibuka lagi tapi ongkos melewati terusan itu naik. tarif angkutan laut dalam negeri juga naik. menteri perhubungan Emil Salim menolak usulan untuk menurunkan tarif tadi. (eb) |
TERUSAN Suez telah dibuka dengan resmi oleh Presiden Mesir
Anwar Sadat, 5 Juni yang lalu. Itu berarti, perdagangan
Indonesia dengan negeri-negeri Eropa, Laut Tengah dan Timur
Tengah bisa tambah ramai. Namun sebelum penggalakan pelayaran
armada Indonesia lalu-lalang di terusan itu bisa dicanangkan,
para pengusaha nasional diminta bersabar dulu oleh Dirjen Perla
Haryono Nimpuno. Sebab apa gunanya waktu pelayaran yang lebih
singkat ketimbang putar haluan melewati Tanjung Pengharapan
kalau ongkosnya tidak lebih murah? Sekarang ini, demikian Dirjen
Nimpuno, ongkos lewat terusan itu sudah naik 100% dibandingkan
dengan sebelum pertempuran 6 hari tahun 1967. Sebuah kapal
Jakarta Lloyd yang ditaksir bernilai $ AS 3 juta, sekarang ini
masih dipungut upeti $ AS 3800 bila melintasi terusan di wilayah
Mesir itu. Karena itu misi khusus Dirjen Perla yang mewakili
Pemerintah Indonesia menghadiri pembukaan terusan itu, adalah
minta keringanan ongkos lewat itu.
Sebelum itu berhasil, para anggota INSA terpaksa bersabar dulu
melayani trayek konvensionilnya. Yakni di dalam negeri plus ke
pelabuhan negeri-negeri tetangga seperti Singapura, Bangkok dan
Hong Kong. Berabenya, sebelum bisa menikmati buah peredaan
ketegangan (sementara) di Timur Tengah, masih ada perbedan
pendapat yang tajam antara INSA dan Departemen Perhubungan soal
kenaikan tarif yang diusulkan. Sehari sebelum Menteri
Perhubungan Emil Salim mengumumkan kenaikan tarif angkutan darat
& udara yang baru, awal Mei yang lalu, delegasi INSA yang baru
saja pulang dari Pelabuhan Ratu menghadap Menhub Emil,
mengajukan usul kenaikan tarif angkutan laut. Konon kenaikan
yang diminta besarnya 36,69% dari tarif lama. Tapi sampai
sekarang ditolak Menteri. Masuk akal, mengingat persentasi
kenaikan yang diminta INSA besar. Sedang menurut perhitungan
Menteri, pengaruh kenaikan bahan bakar itu hanya 3% bagi tarif
angkutan laut.
Walaupun begitu, tarif angkutan ferry antara Merak dan Panjang
diam-diam sudah menaikkan tarifnya lebih dari pada yang
diusulkan INSA. Yakni antara 50-80% untuk ongkos angkut
penumpang dan barang. Kenaikan ini di luar kompetisi INSA, sebab
sarana pengangkutan satu-satunya di Selat Sunda itu dikelola
oleh PJKA, yang sudah lebih dulu dinaikkan tarif angkutannya.
Lalu dari Banjarmasin diterima berita, bahwa akibat kenaikan
harga bahan baku, perlengkapan dan tarif listrik, jasa-jasa
pelabuhan pun telah dinaikkan tarifnya, ketentuan mana mulai
berlaku sejak 6 Mei yang lalu. Contohnya adalah kenaikan ongkos
pemakaian alat-alat pemadam kebakaran dan pompa air di pelabuhan
yang bergelimpang dengan kayu itu. Tapi anehnya, berbagai faktor
yang mestinya mendorong INSA untuk bergegas-gegas menyusun
rumusan tarif angkutan laut yang lebih rasionil dan dapat
diterima oleh Menteri, tetap juga tidak melahirkan kompromi
antara pemerintah & swasta.
Angin & Hujan
Dalam keadaan gencatan senjata ini, ada saja yang kepingin
meraih keuntungan. Yakni pemilik kapal layar yang tergabung
dalam Pepelra (Persatuan Pelayaran Rakyat), yang berdiri di luar
INSA. "Silakan saja tarif angkutan laut dinaikkan, karena dengan
begitu angkutan barang akan menyerbu perahu layar", ujar Basoman
Nur dari Pepelra. Keuntungan kapal-kapal tak bermotor itu,
adalah tarifnya yang tidak perlu dinaikkan mengiluti kenaikan
harga minyak. "Bahan bakar kami kan angin, yang selalu bertiup
sepanjang tahun di atas permukaan laut Indonesia", katanya
tertawa. Malah dengan kenaikan tarif angkutan laut, udara dan
darat, dia mulai mengimpikan "boom" angkutan perahu layar.
Sebelum kenaikan tarif ini, hanya 20 dari barang yang keluar
Jakarta diangkut dengan perahu layar. Berbeda dengan yang dari
luar Jakarta diangkut ke Jakarta, yang mencapai saham 80% dari
seluruh volume barang. Adapun tarif angkutan perahu layar itu,
meskipun tidak berbanding lurus dengan perubahan harga bensin &
solar toh berubah-ubah secara musiman. Contohnya ongkos angkut
antara Banjarmasin dan Jakarta. Pada bulan-bulan musim angin
Barat (musim hujan) ongkos angkut melonjak menjadi Rp 10,5
ribu/m3. Bulan Maret turun lagi menjadi Rp 6 ribu dan terus
turun di bulan-bulan berikutnya sampai Rp 4,5 ribu/m3. Turunnya
tarif itu karena banyaknya perahu layar yang parkir di pelabuhan
Banjarmasin. Maklumlah di musim kemarau begini laut relatif
tenang dan hembusan angin Timur dapat mendorong kapal layar maju
sepesat 9 hingga 11 mil laut per jam.
Unilever
Selain perahu layar, Basoman Nur mengharapkan boom angkutan laut
itu juga dinikmati oleh kapal-kapal motor kecil di bawah 175 ton
bobot mati, yang juga menjadi anggota Pepelra. Menurut Nur,
angkutan dengan kapal motor kecil begini akan sangat
menguntungkan pemilik barang. Pertama, karena kapal itu mudah
menyusup ke pelosok-pelosok, dan yang kedua karena pemilik
barang tidak usah terlalu lama menunggu pemuatan barangnya ke
kapal. "Sedang dengan kapal besar, untuk mengangkut barang
sebanyak 100 ton kapal itu masih harus antre lama menunggu
pemuatan barang lain guna memenuhi ruang palkanya", ujar
Basoman. Apa yang dikatakan oleh orang Pepelra itu bukan kecap.
Sebab banyak pabrik-pabrik besar di Jakarta sudah menggunakan
jasa perahu layar dan kapal mini itu. Misalnya Unilever, yang
menggunakan armada kapal pribumi itu untuk cepat memencarkan
sabun, deterjen dan produk-produk lainnya ke seluruh Indonesia.
Begitu pula angkutan bahan bangunan yang vital seperti semen
sudah lama dikerjakan oleh awak kapal layar yang tidak cuma
berurusan dengan angkutan kayu Kalimantan, kopra dan ikan.
|