Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 14/V/07 - 13 Juni 1975
   
Pariwisata

Soal "Love" Burung

Perhimpunan burung indonesia beranggota sekitar 100 orang, berhimpun atas dasar perasaan "love". beberapa keterangan tentang motif memelihara burung oleh para pengurus perhimpunan. (pws)

SAYA merasa rugi kalau hari libur pergi ke luar kota
meninggalkan burung-burung peliharaan saya. kata Soemakso
Bendahara Perhimpunan Burung Indonesia. Saya selalu rindu pada
kicau burung koleksi saya. Tapi pegawai tinggi bank negara yang
besar di Jakarta yang bersama partner turut ke Pulau Rambut dan
P. Dua itu tak menganggap rugi bepergian ke luar kota yang ada
kaitannya dengan dunia perburungan. Seperti yang dilakukannya
awal April dan Mei lalu. Dan bagi Hendrarta Sekretaris
Perhimpunan tak menganggap berat dan merepotkan bila setiap
bulan koceknya terogoh Rp 2000-Rp 3000 untuk makanan hewan
berparuh dan bersayap koleksinya yang berjumlah kurang lebih
40-an.

Apa yang membuat mereka begitu gandrung? Akan didapat banyak
jawaban. "Itu tergantung selera masing-masing", kata
Dr.(ornithologist) Soendji, yang diperkuat HM Kamil Oesman,
Ketua Perhimpunan. Juga Haji Budiarjo, penasihat, turut
mengangguk. "Penggemar perkutut, cinta burung karena suaranya.
Meski terbatas pada perkutut", tutur Budiarjo, bekas Menpen. Ia
sendiri cinta burung karena sifat "sadis"nya sebagai pemburu
(dengan bedil) telah dibuangnya. "Tapi alasan pokoknya adalah
love, lanjut Budiarjo yang mengisi masa pensiunnya dengan
kegiatan dunia anggrek. wayang dan burung atau kehidupan alam.
"Love bukan hanya dalam arti sex", katanya.

Perhimpunan Burung Indonesia. Menurut Kamil Oesman, Ketuanya
beranggotakan sekitar 100 orang, baru berdiri sejak September
1973. Berhimpun karena berperasaan love pada makhluk berparuh
dan bersayap itu. Tak selalu punya koleksi. Budiarjo tidak (dulu
punya). Dan Soendji hanya mengumpulkan kalau berpasangan.
Sedang Hendrarta karena sejak kecil gemar burung yang banyak
berkeliaran di Tangerang tempat kelahirannya. Koleksi itu
berasal dari membeli atau tukar-menukar antara teman perhimpunan
atau siapa saja.

Apakah koleksi burung (hidup) mengancam pengawetan alam? "Justru
sering terjadi, pemilik koleksi menyelamatkan kemusnahan. Karena
si pengumpul itu, memeliharanya dengau kasih sayang". kata
Hendrarta. Kasih sayang itulah pangkal pengawetan, jadinya .


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data