Kolera Di Kakus-Kakus Penelitian kolera diselenggarakan di ujung pandang dengan
bantuan WHO. Pemda mendapat bantuan pusat berupa pompa air dragon dan kakus. Sebagian belum berfungsi. karena penduduk
belum terbiasa. (ksh) |
DOKTER John Snow dari Inggeris, tahun 1849 sudah membuktikan
hubungan kolera dengan kakus maupun air minum. Tapi kota Ujung
Pandang, bagai anak yang keras kepala, masih mau membuktikan
lagi. Sejak Maret 1971 sebuah penelitian kolera dengan bantuan
WHO diselenggarakan di kota itu. 3200 orang penduduk terlibat
dalam proyek penyakit tersebut. Mereka dibagi dalam dua kelompok
1600 orang mendapat pompa air dan kakus dengan cuma-cuma. Sedang
yang lain -- yang dijadikan pengontrol dibiarkan mengambil air
dan "pergi ke belakang" dengan cara sebagaimana lainnya. Yah,
hasilnya tak menyimpang dari dugaan. Mereka yang hidup dengan
pompa air dan keadaan pembuangan kotoran yang rapi, memang
terhindar dari penyakit.
Keadaan kota Ujung Pandang sekilas pandang memang memberikan
peluang yang cukup untuk kolera. Lihatlah lorong-lorong di
pinggiran kota air pembuangan yang kurang mengalir dan keadaan
kakus penduduk yang kalau hujan sedikit bisa membikin ampas
manusia mengapung ke mana-mana. Ini keadaan ketika kota tersebut
sudah mendapat komando kebersihan dari tangan walikota Daeng
Patompo. Apalagi dibanding situasi lima atau enam tahun yang
lalu, ketika gerakan masuk kampung --nama lain untuk proyek
perbaikan kampung di kota itu--belum juga dilaksanakan. "Saya
harapkan dalam tahun 1976 keadaan parit dan tempat pembuangan
kotoran akan bertambah baik lagi", ujar walikota Daeno Patompo
ketika menyambut kedatangan Dirjen Pencegahan dan Pemberantasan
penyakit Menular, dr Bahrawi minggu lalu .
Dragon
Makassar--nama terdahulu dari Ujung Pandang - memang membawa
kebanggaan lain bagi penduduknya, barangkali. Nama ini dalam
perguruan tinggi kedokteran mulai dari Berkeley sampai Tokyo
akan selalu disebutkan begitu menelaah masalah penyakit kolera.
Soalnya di kota itu pada tahun-tahun sebelum perang pernah
ditemu kan El Tor. Kuman yang lebih ganas dari kolera biasa,
penemuan dr. Tanamal, seorang ahli bangsa dewek.
Di dalam kantong dr Hasan Anoez, Direktur Daerah Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Menular Sulawesi Selatan, tercatat 25%
pengunjung rumah sakit di daerah itu adalah penderita
muntah-berak. Kolera tentu sudah termasuk di dalamnya.
Orang-orang Sulawesi Selatan, terutama yang hidup di tepi
pantai memang gemar berlayar dan sebagian besar dari menu mereka
adalah ikan laut. Apakah kemungkinan ada hubungan kebiasaan ini
dengan penyakit perut tersebut? Dokter tersebut mengatakan bahwa
ikan laut memang ada yang mengandung kuman yang bisa
mengakibatkan berak-berak, yang tidak selalu berarti kolera.
"Tetapi dalam studi di Ujung Pandang ini, penelitian mengenai
keadaan makanan penduduh belum dilancarkan", katanya. Di Teluk
Jakarta beberapa tahun yang lampau memang pernah diadakan
penelitian mengenai ikan-ikan yang hidup di teluk tersebut--dan
ternyata di antara makhluk itu ada yang membawa kuman vibrio
parahaemolyticus, yang bisa mengakibatkan orang
menceret-menceret.
Tetapi dari catatan yang ada, kenaikan penderita kolera di Ujung
Pandang nampaknya sangat erat dengan iklim . "Penderita kolera
mencapai puncaknya dalam musim hujan, di mana air menjadi keruh
dan kotoran dari kakus menggenang", ulas dr Hasan. Penyakit
tersebut sebagian terbesar menyerang anak-anak di bawah lima
tahun. Untuk mencegah penyakit ini, pemerintah daerah mendapat
bantuan pusat secara besar-besaran dalam bentuk pompa air Dragon
yang berharga hampir Rp 40.000, dan sebuah kakus seharga
Rp 5.000. Untuk tahun 1975/1976 seluruh Sulawesi Selatan akan
mendapatkan 15.600 buah jamban dan pompa air minum.
Gertak Sambal
Sebagaimana biasa, perataan sesuatu proyek untuk kota dan desa
sering menimbulkan keganjilan yang terkadang mengundang tawa.
Jamban dan pompa air ini memang dengan derasnya sudah masuk
sampai ke kampung-kampung terpencil, di mana peralatan yang
berharga puluhan ribu rupiah itu secara menyolok kontradiktif
dengan keadaan rumah penduduk yang masih sangat sederhana. Rumah
kampung boleh dikatakan semuanya masih dalam bentuk panggung,
sedang jamban dan pompa air itu duduk dengan megahnya di luar,
di belakang.
Satu ketika Gubernur Ahmad Lamo mengadakan kunjungan ke
kabupaten Gowa. Gubernur tidak melewatkan kesempatan untuk
memperhatikan keadaan jamban dan pompa air yang didrop ke sana.
Dia memergoki jamban yang masih bersih, seakan-akan belum
terkotori. Sang gubernur mendapat keterangan bahwa jamban-jamban
itu sudah dipasang tiga bulan yang lalu. "Mengapa belum dipakai
juga?. Bupati Gowa. Mas'ud, cepat menjawab: "Penduduk yang
kalau buang air di situ". Ini hanya kelakar bupati, tetapi
bagaimanapun memang mengandung makna bahwa keadaan jamban itu
memang kelewat bagus dibanding rumah-rumah penduduk . "Kami
memang sudah melihat kesukaran yang menyangkut kebiasaan
penduduk tadi. Itulah makanya jamban dan pompa air itu untuk
tingkat pertama kita bangun di rumah tokoh-tokoh masyarakat,
supaya seluruh penduduk bisa mengikutinya. Mengajar mereka
bagaimana sebaikya membuat kakus, meskipun bahannya lebih
sederhana", kata dr Hasan.
Jadi jamban dan pompa air yang sudah jadi proyek pemerintah
pusat itu bukan diberikan cuma-cuma saja. Dia juga mengandung
unsur pendidikan bagaimana hidup sehat dan terhindar dari
penyakit. Terutama kolera. Dengan begitu mereka bisa menirunya
dengan bahan-bahan seperti bambu atau kayu yang sudah tentu
tidak semahal yang didrop pemerintah. Karena memasang kakus
memang tidak menjadi kewajiban. Cuma sebagai gertak-sambal
Bupati Gowa Mas'ud pernah mengatakan: "Siapa yang tidak
membangun kakus adalah penyebar penyakit". Ini barangkali hanya
sekedar teknik lelucon.
|