Tertib Sumur Penduduk bandung di sekitar pabrik tekstil kekurangan air. ini disebabkan pabrik-pabrik tekstil telah membuat sumur artesis yang menyodot persediaan air sumur rakyat. pemerintah akan menertibkan. (kt) |
PENDUDUK kota Bandung sudah lama gelisah. Khususnya yang berdiam
di wilayah-wilayah Cicadas, Kiaracondong, Cimuncang dan Cidurian
yang terkenal sebagai tempat berbagai pabrik tekstil. Polusi?
Bukan. Soalnya begini: pabrik-pabrik itu ternyata semuanya
mempergunakan sumur-sumur artesis. Ini mengakibatkan keringnya
sumur-sumur rakyat yang ada di sekitarnya karena semmua
persediaan air rupanya tersedot oleh sumur-sumur artesis milik
pabrik-pabrik tadi. " Untuk minum saja sudah susah" tutur
seorang penduduk Cicadas kepada TEMPO apa lagi untuk mandi?'.
Meskipun kegelisahan itu sudah lama, namun rupanya baru
akhir-akhir ini saja pemerintah kotamadya Bandung turun tangan.
Sebuah team segera dibentuk, terdiri dari ahli-ahli dari PAM
Bandung dan Direktorat Geologi. Dari penelitian pertama-tama
diketahui bahwa pada umumnya pakrik-pabrik tadi belum memiliki
izin syah untuk pembuatan sumur-sumur air mereka. Lebih-lebih
lagi, sumber-sumber air tadi dibuat tanpa memenuhi persyaratan
yang ada. Misalnya soal kedalaman, sumur-sumur tadi banyak yang
membuat galian sama dalam dengan sumber air milik rakyat.
"Bahkan ada yang hanya menggali 15 meter saja" kata seorang
anggota team. Menurut ketentuan sumur-sumur jenis ini paling
sedikit mempunyai kedalaman 25 meter dengan debit air 300 liter
per menit.
Rekomendasi
Karena itu, setelah team memberi peringatan kepada tak kurang
dari 9 buah perusahaan tekstil yang melakukan pelanggaran,
diusulkan kepada Pemerintah Daerah Jawa Barat agar dilakukan
koreksi dalam memberikan izin-izin pembuatan sumur artesis
selanjutnya. Dengan hanya mempunyai izin dari Gubernur saja
kurang lengkap. "bila tidak disertai rekomendasi dari Direktorat
Geologi dan PAM" kesimpulan team.
|