Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/V/31 Mei - 06 Juni 1975
   
Kota

Tertib Sumur

Penduduk bandung di sekitar pabrik tekstil kekurangan air. ini disebabkan pabrik-pabrik tekstil telah membuat sumur artesis yang menyodot persediaan air sumur rakyat. pemerintah akan menertibkan. (kt)

PENDUDUK kota Bandung sudah lama gelisah. Khususnya yang berdiam
di wilayah-wilayah Cicadas, Kiaracondong, Cimuncang dan Cidurian
yang terkenal sebagai tempat berbagai pabrik tekstil. Polusi?
Bukan. Soalnya begini: pabrik-pabrik itu ternyata semuanya
mempergunakan sumur-sumur artesis. Ini mengakibatkan keringnya
sumur-sumur rakyat yang ada di sekitarnya karena semmua
persediaan air rupanya tersedot oleh sumur-sumur artesis milik
pabrik-pabrik tadi. " Untuk minum saja sudah susah" tutur
seorang penduduk Cicadas kepada TEMPO apa lagi untuk mandi?'.

Meskipun kegelisahan itu sudah lama, namun rupanya baru
akhir-akhir ini saja pemerintah kotamadya Bandung turun tangan.
Sebuah team segera dibentuk, terdiri dari ahli-ahli dari PAM
Bandung dan Direktorat Geologi. Dari penelitian pertama-tama
diketahui bahwa pada umumnya pakrik-pabrik tadi belum memiliki
izin syah untuk pembuatan sumur-sumur air mereka. Lebih-lebih
lagi, sumber-sumber air tadi dibuat tanpa memenuhi persyaratan
yang ada. Misalnya soal kedalaman, sumur-sumur tadi banyak yang
membuat galian sama dalam dengan sumber air milik rakyat.
"Bahkan ada yang hanya menggali 15 meter saja" kata seorang
anggota team. Menurut ketentuan sumur-sumur jenis ini paling
sedikit mempunyai kedalaman 25 meter dengan debit air 300 liter
per menit.

Rekomendasi

Karena itu, setelah team memberi peringatan kepada tak kurang
dari 9 buah perusahaan tekstil yang melakukan pelanggaran,
diusulkan kepada Pemerintah Daerah Jawa Barat agar dilakukan
koreksi dalam memberikan izin-izin pembuatan sumur artesis
selanjutnya. Dengan hanya mempunyai izin dari Gubernur saja
kurang lengkap. "bila tidak disertai rekomendasi dari Direktorat
Geologi dan PAM" kesimpulan team.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data