Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XV/24 - 30 Mei 1975
   
Desa

Piagam & Air

Desa cimaung, kab. bandung, pernah jadi juara lomba desa, tak menerima piagam dari mendagri karena piagam itu hilang di perjalanan. desa ini juga kesulitan air karena damnya rusak.(ds)

TAHUN 1969, desa Cimaung telah terpilih sebagai juara ketiga
dalam lomba desa sekabupaten Bandung. Tentu atas prestasinya
pembangunan. Untuk itu, ia berhak atas hadiah dan piagam
penghargaan dari Mendagri seperti yang dijanjikan dalam SK
Gubernur Jabar waktu itu. Tapi malang desa yang terletak
kira-kira 20 kilometer di selatan kota Bandung itu, sampai hari
ini harus tetap menunggu. Sebab piagam yang diharapkan tidak
tahu nyangkut di mana. "Bagi kami", kata Toha yang jadi Kepala
Desa, "piagam itu sangat penting, dan nilainya tidak bisa
diganti dengan uang". Oleh karena itu, ia pernah sengaja
menanyakan ke kantor Pemda di Bandung. Sayang, jawaban dari
Pemda hanya: "piagam itu hilang di jalan". Bagi rakyat Cimaung,
kalau benar-benar piagam itu hilang, tidak ada keberatan
seandainya diganti. Dari pada tidak sama sekali. "Sebab tanpa
piagam itu, kami kehilangan bukti penghargaan prestasi
masyarakat desa Cimaung" kata Toha lagi. Apalagi bagi masyarakat
Cimaung yang dari dulu sudah beken andilnya dalam perjuangan
kemerdekaan. Walaupun sekarang ini Cimaung tercatat sebagai desa
yang kurang subur, tapi di sana berdiam tidak kurang dari 60
orang perintis kemerdekaan. Tidak mustahil sebanyak itu, sebab
menurut catatan, di jaman penjajahan itu Bung Karno pernah
secara gelap-gelapan mendidik kader di sana.

Masih ada lagi soal lain yang menyebabkan Kepala Desa Cimaung
angkat bicara. Di desa ini ada sebuah sungai, Cipinang namanya.
Lebarnya hanya 5 meter dengan sebuah bendungan Lamping yang
mampu mengairi 300 ha sawah bukan saja di Cimaung, tapi juga di
Cipinang dan Jagabaya. Bendungan tersebut dibuat tahun 150,
hasil gotong royong masyarakat setempat, baik modal maupun
'tehnisinya'. Duapuluh tahun kemudian, dam itu jebol. Bukan
bencana, tapi karena sudah lumayan tuanya. Akibatnya, sawah dan
manusia sama-sama kesulitan air. Sejak tahun 1971, dam tersebut
diperbaiki oleh pemborong. Sial, ketimbang selesai, nasib dam
yang cukup vital ini malah beberapa kali berpindah tangan.
"Sampai tahun ini sudah tiga pemborong yang mengerjakannya",
kata Toha sang kepala desa. Sedangkan dam masih tetap juga belum
selesai, sementara biaya sudah habis 7 juta lebih. Soalnya,
hasil pekerjaan para pemhorong ini entah bagaimana, tidak mampu
menahan air. Mungkin karena tidak sabar, pernah terjadi
serombongan rakyat mendatangi tempat tinggal Kepala Desa yang
dianggap sebagai biang kerok. Mereka tidak bertanggung jawab
sepenuhnya atas kecerobohan si pemborong, selanjutnya Toha
melapor ke kabupaten. Itu terjad tahun 1973. Dan baru pada awal
1975 ada serombongan anggota DPRD yang kalau saja diijinkan",
kata Toha, "kami sanggup memperbaikinya sendiri". Dan ia
menunjukkan contoh, buatan maarakat bisa bertahan 20 tahun
lamanya. Mengapa pemborong selalu gagal'? Kepala Desa ini ada
menyebut, masyarakat banyak yang tidak sabar lagi. Tentu karena
air adalah masalah yang sangat penting.

Tapi agaknya, kabupatenpun tidak sampai hati kalau begitu saja
menyerah kan kembali persoalan ini kepada masyarakat. Sehingga
akhirnya, kecemasan penduduk Cimaung ada mendapat tanggapan. PU
Kabupaten ada memberikan keterangan ala kadarnya. "Dalam waktu
dekat, akan segera mengadakan penelitian untuk menentukan
langkah-langkah lebih lanjut" begitu menurut seorang pejabat PU.
Entah langkah apa yang akan diambil.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data