Awal Krisis Ronde Kedua Sejak bulan maret harga kayu anjlok. penyebabnya belum
diketahui. tapi krisis energi dan rendahnya daya beli
masyarakat jepang dianggap penyebab utama. ada usaha
memasarkan kayu di dalam negeri. (eb) |
DUNIA kayu berkabung lagi. Harga kayu yang baru tiga bulan
terakhir ini merangkak naik, sejak Medio Maret lalu anjlok lagi.
Kalau harga kayu awal Maret masih sekitar 48 dollar AS/m3, akhir
April silam tinggal sekitar 33 dollar AS/m3. Bahkan kayu kapur
dan meranti kuning tinggal 28 dollar AS/m3 dan 30 dollar AS/m3.
Keadaan begini mengingatkan orang pada kejadian tahun lampau di
mana krisis kayu melanda dengan hebatnya. Waktu itu harga yang
sebelumnya mencapai 70 dollar AS/m3 mendadak melorot tinggal 28
dollar AS/m3 di bulan Oktober 74. Saat itu lebih separo
perusahaan kayu menghentikan produksi sama sekali sedang sisanya
melakukan penurunan poduksi. Beribu-ribu buruh kehilangan mata
pencaharian dan ratusan tenaga asing kembali ke negeri asalnya.
Saking seriusnya tak ayal lagi Bina Graha ikut tergoncang pula.
Perlahan-lahan keadaan pulih kembali. Dimulai bulan Desember,
pasaran kayu di dunia internasional merangkak naik hingga 40
dollar AS/m3 di bulan Pebruari 1975. Bahkan angka itu masih
membengkak lagi menjadi 48 dollar AS/ m3 di bulan Maret.
Mendengar harga yang terus membubung itu para pengusaha yang
telah beberapa bulan istirahat bagaikan terbangun oleh mimpi
indah. Awal Maret lalu semua perusahaan sudah buka kamp. Karena
bayangan hitam masib terus menghantui umumnya mereka membatasi
produksi hanya sekitar 3.000 m3/bulan. Beberapa perusahaan yang
telah merobohkan pohon-pohon dollar itu kabarnya ada yang
menumpuk hasilnya sembari menunggu harga yang terus membubung.
Namun malang baginya. Belum lagi kayu sempat diekspor, kabar
buruk telah datang lebih dahulu. Baru beberapa perusahaan yang
berhasil mengecap kenaikan harga yang hanya berlangsung tiga
bulan itu. Sebagian besar masih dalam keadaan siap-siap
berproduksi dan membuka kamp. Tetapi apa mau dikata "kami tetap
akan berproduksi" kata seorang pengusaha di Samarinda. Mengapa?
"Supaya tak ada masalah dengan bank. Sebab kami telah terlanjur
membuka kamp dengan biaya dari bank" tambahnya. Pengusaha itu
belum mempunyai kepastian akan diapakan kayunya. "Keadaan kacau
tidak menentu" ujarnya.
Merosotnya harga kayu di tahun 1975 ini memang sudah diramalkan
sebelumnya. Tetapi sungguh di luar du gaan mereka bahwa krisis
itu datang begitu terburu-buru. "Perhitungan kita harga kayu
baru turun pada bulan Juli" kata pengusaha lain "tidak tahu baru
bulan Maret sudah begini". Sebagaimana krisis kayu tahun lalu,
penyebab melorotnya harga kayu belakangan ini juga kurang
diketahui benar sebabnya. Krisis energi tetap menduduki tempat
teratas sebagai biang kemerosotan kemudian disebut-sebut pula
rendahnya daya beli masyarakat Jepang akhir-akhir ini. "Padahal
sebagian besar kayu masak Jepang dipakai konsumsi dalam negeri"
kata pengusaha tersebut.
Dari segi pengaruh terhadap kehidupan sosial, krisis kayu ronde
ke II ini memang kurang terasa. Sebab belum begitu banyak
masyarakat yang terlibat. Tidak seperti krisis tahun lampau di
mana beribu-ribu buruh terpaksa meninggalkan hutan. Tetapi bagi
pengusaha krisis ronde ke II ini justru lebih menyakitkan. Sebab
setelah armada penebang kayu mereka istirahat berbulan-bulan
kemarin, kini lebih banyak makan onderdil.
Melihat pasaran yang tidak menentu itu, tak ayal lagi timbul ide
untuk melempar kayu mereka ke pasaran dalam negeri, seperti
dilakukan CV Telen Samarinda yang telah teken kontrak dengan
perusahaan plywood di Probolinggo. PT Kutai Timber Indonesia
(KTI) sudah agak lama mendirikan sendiri pabrik plywoodnya di
Jawa Timur. Hitung-hitung, kini memang semakin banyak perusahaan
yang haluan berfikirnya dirubah: kedalam negeri. Meskipun
pasaran kayu masak dalam negeri dikabarkan juga ikut-ikutan
turun dari Rp 25.000/m3 menjadi Rp 20.000/m3. Ini catatan yang
berasal dari pasaran Surabaya. Anehnya tak seorangpun juga yang
dapat memastikan sampai kapan krisis ini berakhir. "Yang pasti
akan berlangsung lama" komentar seorang pengusaha lain. Dan
kalau benar begitu, maka giliran berikutnya akan menimpa
perusahaan-perusahaan pelayaran khusus yang baru saja
diproklamirkan Menteri Perhubungan 9 Pebruari lalu. "Jelas kami
turut berduka cita" ujar A. Hamid Tharip pimpinan Bhineka Line
Samarinda.
|