Ternak Baru: Kanguru Jumlah kanguru di Australia meningkat. Terbanyak jenis warna merah dan abu-abu. Adanya curah hujan mendukung meningkatnya kanguru. |
KALAU di Indonesia ada eksplosi wereng, maka di Australia kini
ada eksplosi kanguru. Benua terkecil di dunia itu kini dihuni
jauh lebih banyak kanguru dibandingkan dengan 200 tahun yang
lalu, ketika orang Eropa yang pertama mulai menetap di Sydney.
ini disimpulkan oleh para ahli, karena dulu tidak pernah ada
laporan dari para penjelajah pedalaman Australia yang melihat
gerombolan ratusan kanguru. Selang dewasa ini, panorama kelompok
atusan kanguru yang berloncatan secepat jip safari tidak terlalu
asing di bagian-bagian tertentu Australia.
Dari sekitar 40 jenis kanguru, yang terbesar adalah yang
berwarna merah dan abu-abu. Tingginya bisa melebihi tinggi
manusia dewasa. Beratnya bisa mencapai 90 kilo--suatu berat
badan yang ideal untuk kanguru petinju, seperti yang bisa
ditonton orang di gelanggang hiburan yang mengadu kanguru dengan
manusia. Menurut para ahli populasi kanguru itu begitu pesat
meningkat, akibat usaha perbaikan tanah berupa penggalian
saluran irigasi dan sumur air, pengurangan hutan-hutan dan
meluasnya padang-padang rumput. Musuh kanguru yang utama, anjing
hutan dingo yang dibawa ke benua itu oleh penghuni kunonya,
orang-orang Aborijin, kini telah berkurang jumlahnya karena
pembantaian terus-menerus oleh para peternak & petani Australia.
Ekspor Kendor
Sementara itu banyak faktor meningkatkan jumlah "penduduk" ini.
Misalnya meningkatnya curah hujan di distrik New South Wales
barat laut, yang dulunya dikenal tandus. Juga program peternakan
& pemeliharaan kanguru oleh dinas margasatwa. Semua itu telah
membuat kanguru makin betah hidup dan berbiak di Australia.
Meski begitu, penyebarannya juga tidak terlalu merata. Ahli
ekologi Universitas Sydney, Dr Graeme Coughley yang pertama kali
mengadakan survai dari udara mencatat 7 ekor kanguru merah dalam
daerah seluas 15 ribu KmÿFD. Tapi pada penelitian kedua yang juga
dilakukan dengan pesawat terbang ringan, hanya sedikit lebih ke
selatan, dia menemukan 30 ribu kanguru merah dan abu-abu. Jadi
pukul rata hanya terdapat seekor kanguru merah dan seekor kanguru
kelabu alam setiap kilometer persegi.
Binatang yang menyusui anaknya dalam lipatan kulit perut yang
mirip kantong itu bukan hanya disenangi oleh para ahli. Tapi
juga para pedagang. Kulitnya bisa diekspor atau digunakan dalam
industri kulit kanguru. Tapi sejak April 1973 ekspor kanguru
dilarang oleh pemerintah federal karena takut asi kanguru akan
berkurang dan memburunya dengan sewenang. Namun sejak Pebruari
tahun ini, larangan ekspor dikendorkan lagi. Terutama di negara
bagian New South Wales dan Australia Selatan. Soalnya, seperti
dibenlankan oleh kepala bagian Suaka Margasatwa, Departemen
Pelestarian Lingkungan Australia, George Wil- SOII, "kanguru
telah menjadi saingan bagi binatang-binatang asli lainnya".
Saingan Petani
Sesungguhnya, bukan binatang-binatang asli yang disaingi kanguru
itu yang berteriak-teriak. Melainkan para petani & peternak.
Kanguru yang juga doyan rumput bisa menjadi hama bagi sapi &
dombanya. Makanya ada 5 negara bagian --Queensland, New South
Wales, Australia Selatan, Australia arat dan Tasmania - yang
membolehkan pengolahan kulit & daging kanguru di sana. Para
petani dan peternak juga dizinkan mem bunuh kanguru jika dia
beranggapan kanguru itu merusak ladang-ladangnya. "Tanpa
industri, kanguru itu, tutur Wilson lebih lanjut, para petani
akan merasa cemas dan akan mengurangi jumlah kanguru yang
bersaing dengan binatang piaraannya yang sama-sama butuh padang
rumput. Ini bisa betah peracunan dan penembakan kanguru yang
sewenang-wenang". Nasib ini pernah menimpa anjing hutan dingo,
ketika para petani Australia menganggapnya sebagai hama pembasmi
ternak mereka.
Seleksi Ahli
Ketika larangan ekspor produk kanguru itu diumumkan, 5 negara
bagian yang telah mengusahakan kanguru secara komersiil itu
sudah memiliki program pengawasan kanguru di sana-sini. Baru
setelah diadakan rapat antara menteri-menteri negara bagian
dengan pemerintah federal bulan Maret 1973, program regional itu
diangkat ke tingkat Nasional. Rapat itu menganjurkan pengelolaan
pelestarian kanguru. yang meliputi klasifikasi lingkungan hidup
dan penggunaan tanah untuk semua jenis kanguru, penelitian
sistim pelestarian jenis-jenis kanguru, sensus tiap jenis
kanguru, penentuan kwota tahunan untuk pemanfaatan kanguru yang
aman, serta penetapan suatu sistim dasar pengelolaan kanguru.
Termasuk pemanfaatan komersiilnya. Adapun saran yang terpenting
dari rapat itu adalah bahwa ekspor produk kanguru hanya
diizinkan bagi negara bagian yang telah melaksanakan program
pengelolaan kanguru yang terperinci.
Sibuk dengan urusan perkanguruan itu, riset tentu perlu. Badan
Riset Industri & Ilmu Pengetahuan sudah puluhan tahun
melakukannya. Kini suatu proyek penelitian di bawah pengawasan
Bill Poole sedang dilaksanakan di bagian margasatwa, Canberra.
Poole dan rekan-rekannya berusaha menemukan cara menaksir umur
kanguru yang tidak pandai ngomong itu, serta data biologi
lainnya.
Dari data biologis itu dapat diselidiki pengaruh musim kemarau
terhadap peternakan kanguru. Sedang proyek riset lainnya berada
di Warwick, sebelah selatan Brisbane, yang dipimpin oleh Dr Tom
Kirkpatrick. Menurut ahli ekologi dari Queensland itu: "Kanguru
merupakan jenis binatang yang paling banyak berbiak dan paling
sukses hidup di Australia, bersanding dengan manusia. Memang
betul, dalam pergulatannya dengan alam yang tandus di musim
kemarau banyak kanguru muda yang mati. Sehingga jumlah totalnya
berkurang. Namun jika komersialisasi binatang ini dibolehkan,
kanguru yang lebih tua dan besar dapat diambil, sedang yang
lebih tahan uji silakan hidup terus bersama alam". Semacam
"seleksi alam" yang dicampuri oleh manusia, kira-kira begitu
pendapat Dr Kirkpatrick. Cukup lihai juga.
|