Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/V/10 - 16 Mei 1975
   
Ilmu dan Teknologi

Berilah Aku Air Bersih

Umumnya sumber air diperoleh dari curah hujan, tapi di indonesia curah hujan tidak merata. air kotor dapat menyebabkan penyakit. pencemaran air di negara berkembang kebanyakan dari rumah tangga. (ilm)

MENURUT Qur'an dan falsafah Yunani, salah-satu unsur penciptaan
manusia adalah air. Sedemikian pentingnya arti air hingga tak
jarang desa-desa--misalnya di Jawa Barat--mengambil namanya dari
sumber air: seperti Ciamis, Cisalak, ci-ini atau ci-itu (ci =
air). Di kabupaten Majene Sulawesi Selatan, siapa yang hendak
menikah dipersilakan menggunakan air sebagai mas Kawin. Sebuah
desa yang makmur tidak hanya ditandai dengan kesuburan tanahnya,
tetapi juga kemampuan airnya. Itulah sebabnya desa yang punya
sumber air minum akan tumbuh dengan baik. Dan umumnya untuk
Indonesia - kecuali sebagian pulau Jawa dan Bali--orang tidak
perlu takut kekurangan sumber ini. Tapi mengapa 97 orang ahli,
usahawan, pendekar konsumen, dokter dan wartawan perlu berkumpul
membahas soal air minum di Hotel Borobudur bulan kemarin?

Menurut Ir. Satiman dari Departemen Penyehatan Teknik ITB,
"umumnya sumber air diperoleh dari curah hujan". Disambut oleh
Ir. Masduki yang juga dari ITB: "Daerah kepulauan Indonesia
mempunyai garis-garis isohyets dengan tinggi hujan rata-rata
1.000 - 3.000 mm per tahun sedang jangka hujan rata-rata 150
hari per tahun". Tapi yang menjadi persoalan menurut Ir. Satiman
M.Sc. adalah pembagian hujannya yang tidak merata menurut tempat
dan waktu. Di satu tempat curah hujan sangat tinggi, tetapi
tempat lain tandus.

Cebok, Mandi, Minum

Deras hujanpun sering tidak merata. Musim hujan kebanjiran,
sedang di musim kemarau orang boleh menelan ludah - dan bukan
air. Curah hujan rata-rata di Indonesia - sumber air utama
adalah hujan Iebih-kurang 2.000 mm setiap tahun. Dari jumlah
tersebut 40% menuap kembali. 20% berada di atas tanah sebagai
air sungai, air telaga, waduk. Sisanya yang 40% bermukim dalam
tanah sebagai air tanah. Potensi air Indonesia 2,3 trilyun m3
per tahun. Sumber terbesar ada di Kalimantan dan Irian Jaya.
Barulah menyusul Sumatera, Sulawesi dan Maluku, sedang yang
terkecil ada di Jawa dan Bali--yang justru paling padat
penduduknya dan paling sering diterpa banjir

Sebagian besar air hujan, setelah mengalami proses alami,
digunakan sebagai air minum. Harap jangan salah mengartikan air
minum di sini. Ir. Satiman M.Sc. yang berceramah dalam Lokakarya
Teknologi Air Minum itu mengatakan "air minum juga digunakan
untuk mencuci, masak dan cuci muha sehabis cebok. Sedangkan
sumber air bisa dari sumur, kincir, pompa atau saluran air PAM.
Dari hasil riset ternyata pemakaian air rata-rata tiap orang
dalam setahtm hanya 90 m3. Ini terang sangat tidak sebanding
dengan potensi air seluruh Indonesia yang banyaknya 24.555 m3
tiap orang dalam setahun.

Dan dari air ini banyak orang terkena berbagai jenis penyakit
perut karena minum air kotor. Belum lagi wabah sakit mata dan
sakit kulit. Penyebabnya, kata Ir. Satiman karena "sanitasi
lingkungan yang jelek". Cara memperbaikinya? Pengadaan air minum
yang cukup dan bermutu - khususnya untuk daerah-daerah yang
kekurangan--serta pembuangan kotoran yang baik. Jarak tempat
pembuangan sampah dan kakus dari air pompa--kalau memang tidak
pakai leding--sekitar 15 meter.

Warna, Bau, Rasa

Memang bisa timbul rasa was-was pada waktu hendak menggunakan
sesuatu jenis air. Apabila warnanya, bau dan rasanya tidak
semestinya. Terhadap air jernih sekalipun bisa saja timbul
keragu-raguan bila jenis airnya berasal dari satu sumber yang
dikotori. Menurut Ir. Haryoko M.Sc. "air yang mengandung lebih
dari 250 mg/liter chlorida masih dapat digunakan kalau
terpaksa". Yakni bila daerahnya jauh dari sumber air asin.
Sebaliknya kalau kadar chloridanya lebih rendah dari 250
mg/liter bisa menjadi alasan untuk tidak menyarankan penggunaan
sesuatu jenis air--bila daerahnya di pedalaman.

Warna air bisa juga menjadi masalah di beberapa daerah. Air
tanah di Jakarta misalnya diwarnai oleh kandungan zat organisnya
yang tak dapat diturunkan sampai ke batas maksimum sebagaimana
disyaratkan pemerintah. Meskipun sudah tidak berbahaya. Tapi
ketentuan mengenal batas kekeruhan air yang sudah diolah dapat
menjadi masalah, bila kekeruhan itu disebabkan oleh zat-zat yang
sukar diikat karena komposisi airnya. Jadi air yang bersih itu
yang bagaimana? Sampai saat ini Indonesia belum mempunyai
standar air minum yang sudah disahkan, sehingga dalam menilai
kwalitas suatu jenis air industri atau air minum bersih
digunakan standar air minum internasional (WHO), standar
Amerika, atau Eropa. Tapi boleh saja malah diharap sangat --
menggunakan standar kwalitas air minum untuk Indonesia yang
sudah disusun ahli-ahli PUTL meskipun belum disahkan DPR.

Tahi Orang dan Pabrik

Adapun bab pencemaran air memang terbilang paling parah.
Berbagai jenis polutan, baik yang non-domestik (pabrik,
industri) atau domestik (rumah tangga) memang banyak diteliti.
Sumber polusi itu berbeda-beda. Dari data-data WHO tahun 1965,
1969, 1973, ternyata di negara-negara berkembang polusi air yang
datang dari domestik ada di atas 80%. Sedang sisanya dari non
domestik di bawah 20%. Berbeda dengan negara-negara yang sudah
maju alias penuh dengan industri, sumber polusi airnya sebagian
besar datang dari non domestik, yaitu di atas 85%. Perbedaan ini
menurut Drs. Unus Suriawiria dari Departemen Teknik Penyehatan
ITB, disebab kan karena kesehatan lingkungan domestik di
negara-negara berkembang masih jauh dari syarat minimal. Ambil
saja contoh. sampah, sumber utama polusi domestik. yang dari
tahun ke ahun semakin banyak. "Sampah kota", katanya, "merupakan
sumber utama polusi domestik di dalam air". Sampah yang menyerap
dalam air bisa menularkan penyakit kepada manusia dan hewan.
Kehadiran mikroorganisma, kata Drs. Unus Suriawiria pula, sudah
diketahui sejak lama. Apalagi kandungan organis dalam air cukup
tinggi untuk tempat berbiak jasad-jasad renik.

Celakanya, saat ini di Indonesia kebanyakan sampah yang terbuang
bersama air belum disaring sebagaimana mestinya. Penggunaan
detergent misalnya sebagai sabun cuci di beberapa negara Eropa
dan Amerika malah dilarang karena merusak kwalitas air (sesudah
deterjen itu kembali ke tanah dan diserap air tanah). Belum lagi
soal tahi orang dari WC atau MCK di sungai Ciliwung, yang dengan
bebas mengalir ke selokan kemudian berkumpul di sungai. "Itulah
sebabnya", kata Ir. Masduki, "dalam alam bebas ini, hampir tidak
mungkin mendapat air murni yang bebas dari berbagai jenis
pencemaran". Akibatnya timbul kelas-kelas kwalitas air minum
yang masing-masing perlu pengolahan yang berbeda kadar dan
zatnya. Tapi karena manusia berusaha mendapat air minum yang
bersih dan cukup sehat, caranya tentu banyak Air yang kotor
oleh disaring: dari cara yang tradisionil sampai yang namanya
filopur atau air dari PAM.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data