Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/V/03 - 9 Mei 1975
   
Kesehatan

Mencegah Demam Berdarah

Pencegahan demam berdarah dengan membersihkan benda-benda yang dapat menjadi sarang nyamuk. yang biasa menyerang anak umur 2-4 th, pada pagi hari pukul 9.00 dan pukul 17.00. (ksh)

SEBENARNYA kita sudah memasuki musim kemarau, namun sesekali
hujan turun juga. Keadaan yang tidak menentu ini membawa
konsekwensi pada kesehatan. Nyamuk Aedes Aegypti binatang
pembawa virus penyakit demam-berdarah dengan begitu memperoleh
peluang untuk berkembang-biak. Sebab sudah menjadi cara hidup
mereka untuk bertelor dan beranak-pinak dalam genangan air di
kaleng, ban-ban sak atau batok kelapa yang dibuang sembarangan.
Andaikan curah hujan lebih deras dan lebih teratur, telor mereka
tentu akan turut terbuang dalam luapan air di bejana-bejana tak
berguna tadi. Nyamuk ini, berbeda dengan nyamuk biasa tak bisa
hidup pada air yang mengalir. Dengan mengenal ciri hidup mereka
maka boleh dikatakan agak gampanglah untuk mencegah penularan
virus penyakit tersebut. Caranya singkat aja, yaitu dengan
membersihkan pekarangan dari barang-barang berongga yang bisa
dijadikan sarang nyamuk.

Cuaca yang tidak menentu sekarang ini ditambah pula dengan
catatan yang pernah dibuat oleh para dokter dari Rumah Sakit
Sumber Waras, Jakarta, beberapa tahun yang lalu mengajak orang
agak berhati-hati dalam menghadapi awal tahun 1976. Menurut
keterangan dr Hansa Wulur yang turut dalam penelitian penyakit
demam-berdarah yang diselenggarakan rumah sakit tersebut dalam
penelitian selama hampir 2 tahun sejak bulan Mei 1968, bahwa
penyakit tersebut diketahui beristirahat selama dua tahun
setelah melakukan serangan hebat. Korban yang paling banyak
ditemukan dalam tahun 1970. Tetapi selama dua tahun kemudian
penyakit ini menurun. Dan muncul kembali pada tahun 1972.
Serangan berkala ini kata dokter tadi ada hubungannya dengan
golongan umur yang biasanya jadi korban terbesar, yaitu
anak-anak umur 2 sampai 4 tahun.

Suplai O2

Gejala penyakit ini dimulai dengan demam, yang disusul dengan
bercak-bercak merah di bawah kulit. Karena demam plus
bercak-bercak berdarah ini pulalah mengapa penyakit tersebut
dikatakan dengan berdarah, sedangkan namanya di kalangan para
dokter disebutkan dengue haemorrhagic fever. Dalam serangan yang
lebih gawat penderita bisa pingsan, lantaran aliran darahnya
menjadi tidak beres. Ketidak beresan itu terjadi karena pecahnya
pembuluh darah. Plasma darah keluar dan tinggallah dalam
pembuluh itu darah yang kental yang sudah barang tentu sukar
dipompa oleh jantung. Dengan begitu otak dan alat-alat vital
lainnya tidak mendapat suplai O2 yang biasanya dibawa darah yang
segar. Kekurangan zat tersebut bisa mengakibatkan penderita
meninggal. Itulah makanya dalam kasus demam berdarah yang gawat,
para penderita mendapat pertolongan pula melalui transfusi
darah.

Nyamuk Aedes Aegypti hanya ditemukan di kota-kota jarak terbang
mereka sekitar lima ratus meter dari sarang mereka yang kotor.
Biasanya mereka menyerang pagi hari sekitar jam 9. Setelah itu
mereka kembali ke sarang dan ngelayap pula pada sore hari
sekitar jam 5.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data