Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/V/26 April - 02 Mei 1975
   
Kota

Tertib Hewan, dll

Jabatan wali kota Bengkulu Z. Thabri Hamzah berakhir, digantikan Syafiuddin. Semasa menjabat, Thabri telah memperbaiki jalan dan menyediakan tanah perkantoran seluas 50 hektar di pasar minggu. (kt)

PENDUDUK kota Bengkulu hanya 30.000 jiwa. Nampaknya memang
pantas menjadi ibukota Kabupaten. Tetapi karena terlanjur harus
menjadi ibukota propinsi, apa boleh buat wajahnya harus
cepat-cepat dibenahi. Karena inilah rupanya banyak juga warganya
yang mencoba menilai hasil kerja Walikota Z. Thabri Hamzah SH
yang telah menyerahkan jabatannya kepada Drs. Syafiuddin
pertengahan Maret baru lalu. Thabri sendiri sempat menduduki
kursi jabatannya lebih dari 5 tahun. Cukup lama juga. Tak sulit
kalau sementara fihak dapat mengemukakan hasil-hasil yang telah
dikerjakannya, meskipun tak kurang juga yang menonjolkan
kelambatannya. "Saya telah berusaha dan itulah maksimalnya" ujar
eks walikota beberapa saat sebelum menyerahkan jabatannya kepada
penggantinya.

Satu-satunya hasil yang dapat dicatat dari masa jabatan Thabri
tentulah dalam hal melicinkan beberapa bagian jalan dalam kota.
Atau boleh juga ketika dia harus menyediakan tanah untuk
kompleks perkantoran seluas 50 hektar di Pasar Minggu, meskipun
duitnya harus disokong Gubernur. Tetapi perlu juga dicatat
pembangunan kompleks pasar ikan yang termasuk proyek Inpres
tahun 1972/1973 itu. Dengan biaya tak kurang dari Rp 10 juta,
proyek ini harus menerima nasib terlantar tak kunjung selesai.
Yang berdiri hanya tiang-tiang besi dan fondasi tanpa seorangpun
tahu sebab-sebab kemacetannya.

Kotoran Kuda

Mungkin bertolak dari pengalaman itu, sehingga Gubernur
Bengkulu, Drs H.A. Chalik Ali banyak meminta ketika melantik
Drs. Syafiuddin sebagai Walikota baru. "Tahap pertama bersihkan
kota dari kotoran kuda, sapi dan kerbau yang banyak berkeliaran"
ujar Chalik Ali, "dan hewan-hewan itu sendiri agar ditertibkan".
Dan selanjutnya seperti laiknya kebutuhan sebuah kota tempat
hidup orang-orang modern, sang Gubernur meminta pembenahan air
minum dan penerangan kota yang bernama listrik. "Saya terima
amanat itu" jawab Syafiuddin kepada TEMPO. Untuk itu Walikota
yang bekas Ketua Bappeda Propinsi Bengkulu ini menjanjikan juga
pembenahannya dalam hal-hal pemeliharaan ketertiban,
pengembangan dan pembangunan kota pada umumnya. Tentu banyak
harapan ditujukan kepada Walikota yang baru ini, terutama untuk
mengejar ketinggalan Bengkulu sebagai ibukota propinsi termuda
dari tetangga-tetangga terdekatnya seperti Jambi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data