Tertib Hewan, dll Jabatan wali kota Bengkulu Z. Thabri Hamzah berakhir,
digantikan Syafiuddin. Semasa menjabat, Thabri telah
memperbaiki jalan dan menyediakan tanah perkantoran seluas 50 hektar di pasar minggu. (kt) |
PENDUDUK kota Bengkulu hanya 30.000 jiwa. Nampaknya memang
pantas menjadi ibukota Kabupaten. Tetapi karena terlanjur harus
menjadi ibukota propinsi, apa boleh buat wajahnya harus
cepat-cepat dibenahi. Karena inilah rupanya banyak juga warganya
yang mencoba menilai hasil kerja Walikota Z. Thabri Hamzah SH
yang telah menyerahkan jabatannya kepada Drs. Syafiuddin
pertengahan Maret baru lalu. Thabri sendiri sempat menduduki
kursi jabatannya lebih dari 5 tahun. Cukup lama juga. Tak sulit
kalau sementara fihak dapat mengemukakan hasil-hasil yang telah
dikerjakannya, meskipun tak kurang juga yang menonjolkan
kelambatannya. "Saya telah berusaha dan itulah maksimalnya" ujar
eks walikota beberapa saat sebelum menyerahkan jabatannya kepada
penggantinya.
Satu-satunya hasil yang dapat dicatat dari masa jabatan Thabri
tentulah dalam hal melicinkan beberapa bagian jalan dalam kota.
Atau boleh juga ketika dia harus menyediakan tanah untuk
kompleks perkantoran seluas 50 hektar di Pasar Minggu, meskipun
duitnya harus disokong Gubernur. Tetapi perlu juga dicatat
pembangunan kompleks pasar ikan yang termasuk proyek Inpres
tahun 1972/1973 itu. Dengan biaya tak kurang dari Rp 10 juta,
proyek ini harus menerima nasib terlantar tak kunjung selesai.
Yang berdiri hanya tiang-tiang besi dan fondasi tanpa seorangpun
tahu sebab-sebab kemacetannya.
Kotoran Kuda
Mungkin bertolak dari pengalaman itu, sehingga Gubernur
Bengkulu, Drs H.A. Chalik Ali banyak meminta ketika melantik
Drs. Syafiuddin sebagai Walikota baru. "Tahap pertama bersihkan
kota dari kotoran kuda, sapi dan kerbau yang banyak berkeliaran"
ujar Chalik Ali, "dan hewan-hewan itu sendiri agar ditertibkan".
Dan selanjutnya seperti laiknya kebutuhan sebuah kota tempat
hidup orang-orang modern, sang Gubernur meminta pembenahan air
minum dan penerangan kota yang bernama listrik. "Saya terima
amanat itu" jawab Syafiuddin kepada TEMPO. Untuk itu Walikota
yang bekas Ketua Bappeda Propinsi Bengkulu ini menjanjikan juga
pembenahannya dalam hal-hal pemeliharaan ketertiban,
pengembangan dan pembangunan kota pada umumnya. Tentu banyak
harapan ditujukan kepada Walikota yang baru ini, terutama untuk
mengejar ketinggalan Bengkulu sebagai ibukota propinsi termuda
dari tetangga-tetangga terdekatnya seperti Jambi.
|