Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/V/26 April - 02 Mei 1975
   
Kriminalitas

Meningkat: Kejahatan Dan Anggaran

Akhir-akhir ini kejahatan di Indonesia meningkat. Yang paling tinggi adalah pencurian, disusul penganiayaan, banditisme dan penipuan. penyalahgunaan narkotik naik 40%. dan gaji polri juga naik. (krim)

BELAKANGAN ini, menurut angka kejahatan di negeri ini meningkat.
Untung "belum sampai pada taraf mempengaruhi stabilitas
keamanan", kata Kapolri Drs Widodo Budidarmo. Angka kejahatan
itu dikumpulkan oleh Operasi Mawar, yang mengadakan razia
serentak di tujuh Komdak. Operasi ini giat menangkapi para
tersangka, baik yang ketangkap basah maupun yang cuma atas dasar
syak wasangka polisi. Yaitu mereka yang diduga terlibat dalam
soal-soal pencurian, penjambretan sampai penodongan. Khusus
untuk mengamankan jaringan kawat telepon, Operasi Melati laritas
bekerja serentak di delapan Komdak. Menurut Letjen Widodo, hasil
operasi kawat ini lumayan. Tidak kurang 186 orang tersangka,
ditangani. Atau: dari delapan Komdak tercatat 448 perkara
pencurian kawat telepon -- 66 di antaranya sudah beres
diperkarakan. Tengah bulan ini Widodo mengakui bahwa razia
serentak dan terarah bulan-bulan kemarin itu punya akibat yang
tidak diingini juga. Pertama: kamar tahanan jadi terlampau
padat. Karena terlampau sesak, kekisruhan dengan alasan sekecil
apapun gampang meledak. Contohnya geger pemberontakan tahanan
Komdak baru-baru ini - yang disertai penjebolan tembok segala.

Yang punya kendaraan bermotor harap hati-hati sedikit. Bandit
yang mengkhususkan diri, di bidang ini sudah mulai main
komplot-komplotan. "Walaupun komplotan itu belum terhitung
rapi", kata Kapolri, "mereka sudah cukup banyak mendapat hasil".
Jangan lagi yang sudah ada kerja-sama antar bandit. Sedang
seorang bandit, yang kini sudah tertangkap, secara sendirian
sudah berhasil menyikat tidak kurang 22 buah sepeda motor. Honda
rupanya yang paling enak disikat, entah apa sebabnya. Jalan
malam-malam di tempat sepi atau ramai sekalipun, juga boleh
waspada. Karena ternyata penodongan dengan senjata api juga
kelihatannya mulai diaktifkan.

Sistim Pelaporan

Satu hal positif yang memperoleh catatan dari Kapolri ialah,
angka-angka kejahatan itu diperoleh juga dari lancarnya sistim
pelaporan. "Kesadaran untuk melaporkan suatu kejahatan telah ada
pada masyarakat", kata Widodo. Ini agak istimewa, karena dapat
mengurangi apa yang disebut oleh polisi dengan dark numbers.
Dulu, artinya sebelum Widodo mengumumkan angka-angka ini, banyak
orang enggan melapor kepada polisi. Banyak alasannya. Mungkin
menganggap tidak perlu, karena cuma perkara "sepele". Tidak
jarang orang memang sengaja menggelapkan angka yang mestinya
masuk ke buku polisi, dengan tidak melaporkan sesuatu kejadian.
Misalnya yang anaknya terlibat soal narkotik tentu merasa malu
berurusan dengan hamba hukum itu. Tapi ada juga yang memang
enggan berurusan dengan polisi karena takut buntut perkaranya
akan menyusahkan diri saja. Dan lain-lain. Mudah-mudahan
kesadaran melapor masyarakat itu dapat diimbangi pelayanan
polisi yang baik.

Tahun 1974 tercatat kejahatan melonjak sampai 235.843
perkara--dibanding tahun sebelumnya yang hanya 172.054.
Rata-rata di atas 50% sudah selesai diperkarakan. Jumlah
kerugian dalam rupiah lumayan juga: Rp 12,4 milyar untuk
berbagai jenis kasus. Jakarta Raya ternyata bukan termasuk angka
tergawat. Hanya ketiga tingkatnya sesudah Komdak X Jawa Timur
dan Komdak IX Jawa Tengah. (Jakarta ada 29.276 perkara, Jawa
Timur 58.881 perkara dan Jawa Tengah 46.021 perkara). Modus
operandi kejahatan tidak ada yang istimewa - itu-itu saja, dari
tahun ke tahun. Pencurian masih jenis kejahatan yang paling
banyak, lalu disusul penganiayaan, banditisme dan penipuan.
Karena Jakarta paling banyak dipadati kendaraan bermotor, maka
angka kejahatan yang menyangkut jenis ini juga paling menonjol.
Angka perkara yang menyangkut soal disiplin polisi juga
meningkat. Ini karena tekad kepolisian yang akan menindak tegas
setiap penyalah-gunaan jabatan yang dilakukan anggotanya.
Tercatat ada 102 perkara, dan yang sudah dibereskan 66 buah.

Di Muangthai

Narkotik ternyata ikut serta menaikkan angka kejahatan. Menurut
Direktur Reserse Narkotika Koserse Polri, Brigjen Taslim
Ibrahim, rata-rata penyalah-gunaan narkotik meningkat sampai
40%. Angka ini tercatat setidak-tidaknya di sebelas Komdak.
Menurut Taslim soal narkotik ini bukan soal dagang dan cari uang
belaka, tapi sudah soal keamanan negara alias subversi. "Karena
menyangkut penghancuran mental muda-mudi dan remaja kita", kata
jenderal ini. Jumlah orang yang kecanduan 'sedikit', jika
dibandingkan dengan angka dari luar negeri. Memang. Di Indonesia
"baru" ada empat atau lima ribu orang sedang di Muangthai sudah
mencapai 400 ribu orang. Bukan main di sana itu . Dengan begitu,
masuk akal juga kalau soal hukuman bagi yang terlibat 'narkotik
di Indonesia ini masih baru tingkat "pembahasan" saja. Di
Singapura, Jepang, Malaysia atau Australia, ancaman hukuman ini
cukup berat Paling rendah lima tahun penjara.

Terakhir, kabar gembira dari Widodo: uang belanja yang diterima
polri untuk tahun anggaran ini, meningkat. Berapa sayang tidak
diungkapkan terus-terang. Hanya semua orang boleh tahu: "dengan
demikian pelayanan kepada masyarakat harus semakin baik",
katanya. Syukurlah. pak.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data