Fosil Peking Yang Hilang Fosil tengkorak manusia purba peking, pithecantro-pus
pekinensis, sampai sekarang hilang. Fosil tersebut hilang ketika diselundupkan dari cina pada waktu jepang menyerang cina. (ilm) |
DI tempat terbuka yang disebut Observatory Deck tingkat 86
gedung Empire State New York suatu senja tahun 1972, seorang
laki-laki tinggi berambut keperak-perakan, tampak gelisah
menunggu sendirian. Ia telah berjanji di tempat itu, untuk
bertemu dengan seorang yang belum pernah dikenalnya. Tiba-tiba
seorang wanita setengah baya yang masih cukup menarik, tetapi
kelihatan gugup, muncul mendekati. Seperti terburu-buru si
wanita terus menjabat tangan laki-iaki itu tanpa mengenalkan
dirinya. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan selembar foto.
Ketika laki-laki itu tengah mengamat-amati foto tersebut, muncul
orang lain yang seperti tak sengaja membidikkan kameranya ke
arah mereka. Wanita itu menjadi panik. Merebut foto itu kembali,
dan lari menuju lift. Terus menghilang .
Itulah saat terakhir Christopher Janus --jutawan dari Chicago
yang juga seorang antropolog amatir -- melihat wanita misterius
yang ia sendiri belum tahu namanya. Padahal tadinya, dari wanita
ini diharapkan terbongkarnya sebuah misteri yang sejak lama
menjadi teka-teki di kalangan ahli antropologi. Yang dibawa
wanita itu, adalah foto dari kotak berisi tulang-tulang, di
antaranya sebuah tengkorak manusia. Itulah tengkorak manusia
Peking, yang dalam pelajaran antropologi sering dibatal sehagai
Pzthecantropus Pekinensis. Fosil itu telah hilang sejak perang
dunia kedua, ketika tentara Jepang menyerbu daratan China.
14 Kerangka
Kisahnya dimulai tahun 1941, ketika Prof. Weidenrich, seorang
sarjana bangsa Jerman yang sejak mahasiswa tekun mempelajari
manusia Peking, berusaha menyelundupkan fosil miliknya itu
keluar daratan China, karena takut dengan hahaya penyerbuan
tentara Jepang. Semula, fosil itu disimpan di Sekolah Tinggi
Kedokteran di Peking. Sebelum di singkirkan, Weidenreich telah
lebih dalulu membikin tiruannya dari dempul. Yang asli,
terbungkus dalam dua buah kotak, ia kirimkan dengan kereta api
menuju Camp Holcomb, sebuah pelahuhan dekat kota Chingwangtao.
Di sana telah menunggu pelaut-pelaut Amerika yang siap
meneruskan pengirimannya ke Amerika. Tetapi di tengah-tengah
kecamuk peperangan dengan tentara Jepang, paket berisi
tulang-tulang manusia itu tak pernah sampai ke alamat. Juga
tidak jelas ke mana nyasarnya, hingga sekarang.
Fosil itu, merupakan contoh dari tengkorak manusia yang hidup di
kawasan Asia pada kurang lebih setengah juta tahun yang lalu.
Digali tahun 1926 di dekat Peking. Aslinya semua ada 14
tengkorak, atau kumpulan tulang-tulang rangka. Di antaranya
milik Prof. Weidenreich yang hilang itu. Duplikat yang dibuat
Weidenreich, kini tersimpan di Museum Sejarah Amerika (American
Musum of Nantral History) New York. Janda profesor Weidenreich
sendiri yang menyerahkan kepada Dr. Shapiro, Kepala Bagian
Manusia Peking museum tersebut setelah perang usai. Tentu saja
Dr. Shapiro sangat kepingin melihat dan menyimpan fosil yang
asli itu. Tetapi keadaan hubungan antara Amerika dengan China
setelah perang. tidak gampang bagi Shapiro untuk berusaha
memenuhi keinginannya itu.
Tahun 171, ketika ramai dibicarakan normalisasi hubungan antara
Washigton dengan Peking, 2 orang bekas pelaut yang pernah
bertugas di Camp Holcomb, menceritakan kepada Dr. Shapiro bahwa
merekalah yang menerima kiriman kotak fosil itu di Camp Holcomb.
Tetapi karena suasana keruh dan takut ditangkap Jepang ia
menyerahkan kotak itu kepada orang lain entah siapa - di
Tientsin. Berdasarkan cerita tersebut, Dr. Shapiro menduga bahwa
kotak kiriman itu tentu masih berada di sekitar kota Tientsin.
Tetapi seorang pengusaha China di New York menceritakan lain
lagi. Dia yakin bahwa kotak yang dicari itu tentu terbawa
pasukan Jenderal Chiang Kai-shek. Dan bersama-sama ribuan kotak
kiriman lain, kini tersimpan sebagai harta karun di sebuah gua
di Taiwan.
Bingung bagaimana usaha pencarian harus dilakukan, Dr. Shapiro
menulis suatu artikel dalam majalah yang diterbitkan oleh
museumnya. Jutawan Christopher Janus, adalah salah seorang yang
tertarik dengan usaha Dr. Shapiro itu. Sebagai pengusaha, konon
Janus beruntung termasuk salah seorang yang mendapat kesempatan
melancong ke Peking, tidak lama setelah kunjungan Nixon yang
terkenal itu ke sana. Janus tentu tidak menyia-nyiakan
kesempatan. Ia berusaha menemui beberapa pejabat dan orang-orang
di China yang mungkin bisa menunjukkan jejak-jejak larinya bekas
manusia yang sudah terbungkus dalam kotak itu. Pulang dari
Peking. Janus memasang iklan di New York Times dan menyediakan
hadiah bagi barang siapa yang bisa menemukan kotak yang hilang
ajaib itu. Mula-mlla disediakan 50 ribu dollar dan kemudian naik
menjadi 150 ribu dollar. Hingga akhirnya Janus ketemu dengan
wanita yang mengaku janda pelaut tetapi tidak mau menyebutkan
namanya.
Hak Siapa?
Wanita misterius itu memang tidak sama-sekali menghilang. Ia
masih berusaha menghubungi Janus melalui seorang perantara.
Konon pengacaranya. Dan foto yang diperlihatkan di puncak gedung
Empire State itu kini malah sudah di tangah Christopher Janus.
Hanya untuk kotak beserta isinya, wanita itu minta uang tebusan
sebesar « juta dollar. Ditambah dengan jalan tidak akan ditahan
oleh pemerintah Amerika maupun pemerintah China, karena pernah
menyimpan fosil tersebut. Bagi Janus, uang itu sendiri tidak
jadi soal. Tetapi mengapa wanita itu merahasiakan dirinya
seperti itu, menjadikan teka-teki baru muncul. Apakah wanita itu
tidak bermaksud menipu dan apakah fosil seperti yang terlihat
dalam foto itu benar-benar fosil tulen yang sedang dicari atau
hanya fosil palsu?
Teka-teki itu sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan.
Untuk menyelidiki siapa wanita itu, FBI telah turun tangan
meneliti dan mengecek pelaut-pelaut yang pernah bertugas di Camp
Holcomb. Tetapi hasilnya sia-sia. Akan halnya foto yang sekarang
di tangan Janus, berbagai pendapat muncul. Ada yang yakin bahwa
foto itu tentu diambil dari fosil asli yang sedang dicari.
Pendapat seperti itu misalnya dari Profesor Williams Howellls
dari Universitas Harvard. Sedang yang ragu-ragu di antaranya Dr.
Shapiro sendiri.
Toh andaikata fosil tulen itu ketemu masih ada persoalan lain.
Yakni siapa sebenarnya berhak memiliki sisa jenazah nenek moyang
yang sudah tidak jelas anak cucu ahli warisnya. Konon pemerintah
China juga merasa berhak memiliki.
|