Koboi naik, penyamun turun Sutradara: pietjaya burnama produksi: pt safari sinar sakti
pemain: ateng, iskak, eddy sud resensi oleh: salim, said. (fl) |
ATENG RAJA PENYAMUN
Cerita: Kwartet Jaya
Skenario: Kwartet Jaya & Pietjaya Burnama.
Sutradara: Pietjaya Burnama
***
MINUS almarhum Bing Slamet Kwartet Jaya tampil kembali. Pada
tontonan terbaru produksi PT Safari Sinar Sakti ini Ateng muncul
dalam pakaian raja-raja Bagdad, meskipun ia memainkan peran
penyamun. Karena itu filmya bernama A teng Raja Penyamun. Maka
dalam film yang nyaris hanya mengulangi kisah Ali Baba dengan 40
penyamun ini, para penonton memang bakal dibawa ke suatu
kehidupan campuran India, Arab dan negeri Melayu. Tentu saja hal
semacam ini ada memancing kelucuan. Alhamdulillah, sempat juga
membuat ketawa ala kadarnya.
Tapi bibit ketawa macam itu, sayangnya cuma bertebaran di
pematang cerita. Kisahnya sendiri adalah kisah perampokan biasa
dan sedikit sekali usaha Piet - sebagai sutradara maupun penulis
skenario--untuk menuai ketawa lewat batang tubuh cerita.
Barangkali Piet memang tidak sedang membuat parodi macam yang
dilakukan Nya' Abbas Akup ketika menangani Bing Slamet Koboi
Cengeng. Tapi apapun jenisnya, kekuatan utama film terakhir Bing
Slamet itu adalah justru karena bentuknya: parodi. Lewat bentuk
itulah Abbas bersama Kwartet Jaya berhasil mengejek koboi yang
sebenarnya. Ejekan dan cara mengejeknya amat mengasyikkan karena
itu Koboi Cengeng amat berkesan.
Mengerjakannya sebagai cerita perampokan biasa, Piet akhirnya
menghasilkan komedi terutama lantaran yang main adalah pelawak.
Diharapkan lucu adegan ini: Iskak yang bagaikan gerilyawan
Palestina yang kepanasan tiba-tiba merajuk kepada Eddy Sud (Ali
Baba): "Tak usyah, ya". Dan meskipun bentuk tubuh Ateng tidak
secara langsung diperalat, tapi tingkah lakunya terpaksa harus
dibuat-buat untuk memancing ketawa (Ateng berteriak tak
berketentuan dalam gua). Dan adegan-adegan macam ini amat sangat
mengingatkan kita pada film-film Kwartet Jaya pra Koboi Cengeng.
Entah lantaran kepercayaan yang berlebihan kepada Ateng Cs, atau
memang lantaran tafsiran cerita yang demikian, tapi jelas kurang
terlihat bekas tangan sutradara pada film ini. Bukan cuma
artistik, tapi juga teknik. Banyak adegan berlalu begitu saja
lantaran sutradara tidak menjatuhkan pilihan bagi suatu shot
yang lebih penting dari shot lain. Irama. Itu tidak terjaga,
sehingga timbul kesan datar miskin surprise. Musik yang mestinya
ikut membangun suasana, nyatanya juga sibuk sendiri. Bahkan
kesatuan melodi pun tidak dicapainya. Kota "Bagdad" yang
dibangun Kaisar Ali juga harus disayangkan. Ia cuma mengingatkan
kita pada set-set panggung yang lazim muncul pada film-film
Malaya di tahun lima puluhan.
Memang sulit untuk menyebut Ateng Raja Penyamun sebagai tontonan
yang tidak lucu. Tapi bagi kwartet Jaya yang pernah muncul dalam
Koboi Cengeng, film mereka yang terbaru ini sungguh bukan
tontonn yang patut dibanggakan.
|