Perjalanan Ke Antah Berantah Di paris diselenggarakan perundingan antara negara berkembang penghasil minyak plus non penghasil minyak dengan negara industri. amerika mengusulkan harga patokan minyak tapi ditolak oleh prancis. (eb) |
TURUT sertanya negara berkembang non-minyak dalam sidang 7 April
di Paris ternyata telah memberikan warna lain bagi jalannya
perundingan. Brazil, India dan Zaire yang mewakili "Grup 77" -
yang didirikan 10 tahun lalu dan kini beranggotakan 104 negara
berkembang -- rupanya tidak senang jika perundingan di Paris itu
lebih banyak berbincang-bincang ihwal minyak. Menurut mereka,
masalah minyak adalah sama pentingnya dengan bahan mentah
lainnya, yang kini terombang-ambing harganya di pasaran
internasional. Terutama bagi negara-negara yang ekspornya amat
tergantung dari satu atau dua bahan mentah saja (monokultur).
Itulah sebabnya, mereka beranggapan bahwa peranan minyak yang
kini lagi menonjol sebaiknya digunakan sebagai senjata untuk
ikut mengangkat derajat bahan-bahan mentah ekspor lainnya.
Mudah diduga bahwa perundingan segitiga yang dipelopori Presiden
Perancis Giscard D'Estaing akan tersendat-sendat jalannya.
Tuntutan negara-negara berkembang non-minyak yang umumnya
disambut hangat oleh rekan-rekan dari negara OPEC (Iran, Arab
Saudi, Aljazair, dan Venezuela), membuat tuan rumah Perancis
khawatir. Maka untuk menyelamatkan sidang 7 April itu, Perancis
berusaha keras mencari suatu rumusan yang diharap bisa diterima
semua fihak. Maksud Perancis adalah mencari suatu formula yang
bisa mencegah negara-negara yang monokultur itu menjadi korban
dari permainan harga di pasaran dunia. Dalam beberapa bulan ter
akhir ini bahan ekspor seperti kopi gula, temhaga, gandum dan
daging tam pak terombang-ambing harganya. Hingga bisa dimengerti
jika negara berkembang non-minyak saling berteriak minta
perlindungan. Indonesia yang beruntung bisa menutup kebutuhan
anggarannya dari hasil minyak, memang tidak berteriak sekeras
beberapa rekannya. Tapi angka-angka yang terkumpul dalam laci
Menteri Perdagangan Radius Prawiro seiak beberapa waktu
menunjukkan mundurnya ekspor bahan utama lainnya seperti karet
dan kayu. Sekalipun harga edua komoditi itu sedikit terangkat
akhir-akhir ini, keadaannya masih jauh di bawah angka ekspor
yang berhasil meraih tahun lalu. Salah satu sebab adalah nilai
dollar yang makin jatuh terhadap beberapa mata uang lainnya
(lihat TEMPO, 12 April - Ekonomi).
Pertemuan Terpisah
Adalah jatuhnya nilai dollar itulah yang membuat Perancis
beranggapan perlunya diadakan pertemuan yang terpisah dengan
negara-negara berkembang yang cuma memiliki monokultur.
Sementara tuan rumah giat mencari jalan keluar untuk
menyelamatkan perundingan, muncul berita yang membuat gembira
negara OPEC. Para ekonom Bank Dunia, setelah melakukan
perhitungan yang cukup lama, tiba pada kesimplan bahwa harga
minyak dalam waktu-waktu mendatang akan tetap mememusingkan
negara-negara industri, menurut orang-orang Bank Dunia itu
harga yang sekarang mencapai S 10,46 per barrel itu akan
merembet naik menjadi $ 14,25 per barrel selama 5 tahun ini.
Mereka bahkan meramalkan bahwa kenaikan yang 35%, dari harga
sekarang itu akan tetap bertahan hingga akhir tahun 1980.
Tentu akan timbul pendapat lain yang menyanggah pendapat itu.
Terutama, dari para ahli, seperti futurolog Hermann Kahn, yang
belum lama berselang datang ke Jakarta dam meramalkan jatuhnya
harga minyak bila produksi tidak diturunkan. Namun pendapat para
ekonomi Bank Dunia itu agaknya sejalan dengan perhitungan yang
pernah disodorkan Stanford Research Institute (SRI). Dalam
sebuah laporannya ditahun 1971. SRI memperlihatkan betapa
sulitnya mencari pengganti bahan bakar minyak. Menurut mereka
ketergantungan akan bahan bakar itu malah akan tetap dirasakan
sampai tahun 2000. Namun berbeda dengan pendapat SRI yang
memproyektir perhitungannya dari jumlah persediaan dan
pediakaian -minyak, para ekonom Bank Dunia juga mengkaitkan
kemungkinan naiknya harga minyak itu dengan inflasi. Sekalipun
belakangan ini ada tanda mulai membaiknya tingkat inflasi di AS,
masih terlampau banyak persoalan lain yang belum mampu mereka
atasi hingga dikhawatirkan akan menelan upaya perbaikan di
bidang mometer itu. Makin banyaknya barisan penganggur di AS,
agaknya menitipakan faktor yang membuat nilai dollar masih tetap
merosot dibandingkan dengan mata uang beberapa negara industri
lainnya. Dalam tiga bulan terakhir ini saja. nilai dollar
terhadap Mark Jerman merosot dengan 7,5% dam kursnya terhadap
Membalikan merosot dengan 18%.
Barangkali ada sebab lain mengapa negara industri Perancis
mencoba berlaku sebagai wasit dalam "konperensi minyak" di Paris
itu. Selain tetap berambisi menjadi tuan-rumah dalam perundingan
berikutnya di bulan Juli nanti, Perancis yang juga menjadi
korban harga minyak agaknya tidak begitu senang untuk menyambut
usul AS agar negara-negara konsumen besar itu menciptakan suatu
harga patokan minimal bagi minyak. Sebelumnya, dalam sidang
International Energy Agency (IEA) di Paris - yang diikuti 18
negara industri - adalah Menlu AS Henry Kissinger yang mendesak
agar sidang menerima suatu harga patokan minimal (floor price)
setinggi 8 dollar 'untuk' setiap barrel- minyak. Maksud utama
untuk memasang "harga pengaman minimal" itu adalah supaya
negara-negara industri itu bisa membeli minyak dengan harga
tertentu itu. Tapi untuk konsumsi dalam negeri, mereka boleh
menjual lebih tinggi. Sekalipun bisa menguntungkan, dari
kacamata politik, Perancis agaknya tidak begitu senang menerima
usul itu, yang maksudnya adalah untuk memberi angin pada kaum
pengusaha di AS mencari bahan-bahan pengganti minyak. Dengan
kata lain, Perancis yang sejak zaman De Gaulle berusaha
melepaskan ketergantungan mereka terhadap AS, lebih senang untuk
berbaik-baik dengan negara-negara minyak Arab. Tidak salah jika
beberapa pengamat di Paris menilai perundingan 7 April itu bak
suatu perjalanan ke entah berantah.
|