Dari Trenggalek Jadi Gubernur Bupati trenggalek, sutran, akan disumpah sebagai gubernur
irian jaya. masalah pangan menjadi perhatian utamanya dan ubi
rambat penduduk asli akan diversi fikasikan dengan
cengkeh, pala, turi, panili. (nas) |
BUPATI Trenggalek Sutran akhir bulan Maret akan disumpah sebagai
guhernur Irian Jaya menggantikan Brigjen Acub Zainal yang belum
sempat menyelesaikan masa tugasnya. Dia adalah satudi antara
sedikit bupati yang memperoleh anugerah "Parasamya Purnakarya
Nugraha" tujuh bulan yang lalu. Di dalam tangannya Kabupaten
Trenggalek - daerah yang liat -- maju pesat. Turi, cengkeh dan
padi dari satu musim panen ke musim panen berikutnya bertambah
banyak saja produksinya. Modal yang masuk ke daerah itu,
sebagaimana dikatakannya beberapa saat setelah menerima pataka
dari Menteri Ekuin Wijoyo Nitisastro, bukan saja mengalir dari
para pemilik modal di Jawa Timur. Orang-orang berduit dari
Jakarta pun melemparkan modal ke sana. Khusus dalam perkebunan
cengkeh. Dalam masa jabatannya pulalah harga tanah perkebunan
meloncat cepat. Tanah yang semula tak lebih mahal dari harga
tanah kuburan mendadak jadi Rp 1 juta tiap hektar.
Pribadi kolonel yang sebentar lagi jadi Brigjen ini cukup
menarik. Sikapnya kasar, namun hatinya pemurah. Bima adalah
tokoh wayang yang memang dia kagumi. Pegawai-pegaAai yang kurang
becus dalam kursinya dia berikan pekerjaan yang lebih cocok.
Bahkan 100 kepala desa yang pernah diberhentikan dia hadiahi
setengah bau tanah. Nampaknya Sutran memang kurang gemar
menghukum terhadap bawahan. Sebaliknya ke atas dia kuat sekali
dalam menghormat. Ketika hadir di stadion 10 Nopember dalam
upacara penyerahan "PPN" kepada Gubernur Noer, Sutran mencium
tangan Presiden Suharto.
Sebelum berangkat ke Jayapura, jauh-jauh hari Sutran sudah
memasang niat untuk menanam lima batang cengkeh (ingat
Pancasila) yang khusus diboyong dari Trenggalek, beberapa detik
setelah dia dilantik sebagai gubernur nanti. Di samping itu dia
juga akan membawa bibit pala, ketela mukibat, turi, bulgul dan
panili. Ini semua sekedar lambang dari keinginannya untuk
menyuburkan Irian Jaya di mana makanan pokok penduduk aslinya
ubi rambat. Dia juga berniat membawa transmigran, sebagai "bibit
unggul" tenaga kerja yang akan dia sebarkan di Digul Atas. Satu
daerah miskin dan bekas pembuangan yang sudah dia kenal betul.
Bukan sebagai buangan, melainkan sebagai Komandan Distrik
Militer dan Residen Koordinator di sana dari tahun 1963 sampai
1966.
Acub Zainal berhasil meningkatkan martabal penduduk yang baru
dibebaskan dari koteka itu antara lain melalui speakbola.
Sementara Sutran nampaknya kurang berselera dengan permainan
itu. Di Trenggalek pun kegiatan olahraga kurang menarik
perhatiannya. "Yang penting rakyat tidak lapar", ujarnya satu
ketika.
Bukah dari gaplek ke Bulgur, pak, tapi dari Trenggalek jadi
Gubernur. Selamat.
|