Drama Tetanus: Sebuah Riwayat Ratusan Romusha di klender tewas setelah mendapat suntikan vaksin tifus, kolera dan disentri. Diduga karena vaksinnya tercampur toksin tetanus yang terbuang di lembaga pasteur di bandung. (ksh) |
SETELAH ditemukannya vaksin titus, kolera dan disentri, para
ahli mencoba untuk mencampurkan tetanus anatoksin ke dalamnya.
Dengan demikian empat jenis penyakit dapat dicegah hanya dengan
sekali suntik. Sebelum Perang Dunia II, Lembaga Pasteur di
Bandung (sekarang Bio Farma) pernah menyelidiki dan mengadakan
serangkaian percobaan terhadap binatang. Namun harapan untuk
menemukan faksin baru dan serba guna ketika itu menjadi buntu
karena matinya semua kelinci percobaan. Bahan-bahan penelitian
tadi dilemparkan ke pojok dan ditinggalkan begitu saja. Ketika
balatentara Jepang masuk dan menduduki Indonesia dokter dan ahli
kimia mereka pun menyerbu ke dalam lembaga tersebut dan
memanfaatkan pasilitas yang ada di sana untuk memenuhi kebutuhan
obat-obatan. Memasukkan obat dari luar sudah tak mungkin karena
ketatnya blokade tentara sekutu.
Bahan-bahan kimia yang terletak di gedung itu agaknya telah
dijamah oleh ahli-ahli Jepang tadi. Dan besar kemungkinan dari
sinilah pangkal malapetaka keracunan yang telah membunuh ratusan
romusha dulu di Klender - dalam penyuntikan masal untuk mencegah
penyakit tifus, kolera dan disentri di kampung yang terletak di
pinggir kota Jakarta itu. Maka inilah sebuah riwayat.
Botol-Botol Kosong
Hari Minggu pagi jam sembilan pada pertengahan tahun 1944,
telepon berdering di Rumah Sakit Umum Pusat, Jalan Diponegoro.
Perkampungan romusha di Klender minta tenaga dokter segera ke
sana untuk memeriksa berpuluh-puluh orang yang mengerang,
diperkirakan terserang penyakit meningitis atau radang selaput
otak. Dokter Bahder Djohan segera berkemas berangkat bersama dua
orang laboran. Di gerbang rumah-sakit dia bertemu dengan dr.
Aulia dan seorang kapten dokter Jepang. Keduanya bergbung dengan
Bahder Djohan karena keinginan mereka untuk menyaksikan
peristiwa infeksi masal tersebut. Sesampainya di kanlp CIender,
mereka jadi kaget dan tercengang melihat berpuluh-puluh
penderita yang merintih. Ada yang di bawah pohon, ada pula yang
di dalam rumah atau di tengah padang. Kesemuanya dalam gerakan
tubuh yang aneh-aneh. "Ada yang begini dan macam-macam lagi",
urai Bahdel Djohan seraya menirukan gerak mulut, kaki serta
tangan yang ganjil-ganjil, di rumahnya sekarang ini di Jalan
Kimia, Jakarta.
Melihat gelagat para romusha itu, ketiga dokter berpendapat
bahwa mereka tidak berhadapan dengan penderita meningitis. Untuk
menguatkan perkiraan mereka segera melakukan tusukah untuk
memperoleh cairan dari tulang punggung. Namun hasilnya negatif.
Artinya mereka semua tidak menderita meningitis. Lalu apa? Dalam
perembukan segitiga, Bahder Djohan memperkirakan bahwa yang
mereka derita adalah tetanus. Mondar-mandir di dalam kamp itu
akhirnya mereka memperoleh keterangan dari seorang penjaga:
bahwa satu minggu sebelumnya para romusha mengelah mendapat
suntikan vaksin tifus, kolera dan disentri, bikinan Institut.
Pasteur Bandung. Botol-botol kosong dengan merek yang masih
tertera di luarnya disodorkan kepada ketiga dokter. Keterangan
penjaga ini memperkuat dugaan mereka. Sebab masa tunas atau
inkubasi dari hama tetanus memang sekitar seminggu.
90 orang penderita romusha itu dikirim ke Jakarta. Sesampainya
di sini mereka menunjukkan gejala-gejala klasik dari serangan
tetanus: mulut terus terkatup, umpamanya. Penyuntikan serum anti
tetanus pun dimulailah. Namun tak seorang dari mereka yang
berhasil ditolong. Secepat kilat kampung Klender ditelepon agar
mengirimkan semua penderita yang merintih di situ, berikut
botol-botol kosong bermerek vaksin tifus, kolera, disentri.
Permintaan ini tidak digubris, lantaran tentara Jepang menutup
kampung itu bagi orang-orang sipil. Tak ada orang lain boleh
mengutak-atik isi perkampungan kerja paksa itu. Menurut taksiran
Bahder Djohan, 1000 orang atau lebih mati dalam peristiwa
tersebut.
Penangkapan Dokter-Dokter
Keesokan harinya, Bahder Djohan yang bekerja pada bagian
penyakit dalam minta pada bagian Pathologi Anatomik yang
dipimpin dr. Soetomo Tjokronegoro, mengadakan penyayatan pada
bagian badan yang disuntik. Tiap sayatan kulit dan sedikit
daging itu dikirim kepada Prof dr. Achmad Mochtar yang
mengepalai Laboratorium Eijkman (terletak di sebelah barat RSTM
sekarang ini dan memperoleh nama dari Cristian Eijkman, sarjana
Belanda yang dalam tahun 1929 memperoleh Hadiah Nobel untuk
penemuan vitamin B). 90 sayatan lebih masuk laboratorium
tersebut. Dari analis bakteriologi Jatman, yang melakukan
pemeriksaan, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang
mengakibatkan kematian masal itu adalah keracunan yang
diakibatkan oleh tetanus toxin. Kalau ditarik lebih jauh lagi,
kematian itu diakibatkan oleh tercampurnya racun tetanus ke
dalam vaksin tifus kolera dan disentri. "Semuanya saya kerjakan
secara sistimatik seperti biasa, yaitu secara culturil dan
percobaan terhadap binatang", tulis Jatman dalam catatannya.
Apa yang terjadi kemudian bukanlah terciptanya jalan menuju
kejelasan tentang malapetaka yang menimpa rakyat yang tak
dikenal nama masing-masingnya itu. Beberapa hari berselang malah
dilakukan penangkapan besar-besaran terhadap dokter-dokter
Indonesia di Rumah Sakit Jalan Diponegoro tersebut. Yang
mula-mula dijebloskan ke dalam kerangkeng Ken Pei Tai di Jalan
Merdeka Barat adalah Prof. dr. Achmad Mochtar, yang mengepalai
Laboratorium Eijkman. Tanggal 7 Oktober 1944, menyusul pula
wakil kepala Laboratorium Eijkman dr. Djoehana Wiradikarta,
Kepala Bagian Bakteorologi dr. Hanafiah. Analis Soebekti,
Jatman. Nona Ko Kiap Nio, Nona Nanlly Kusumasudjana, Mantri
Laboran Sadio, Kepala Dapur, Mantri Laboran Mochtar dan seorang
pembantu laboratorium.
"Berhari-hari dan berminggu-minggu saya diperiksa terus-menerus
dengan ancaman-ancaman seperti tamparan, pukulan dan lain-lain
siksaan", kata Jatman melalui catatannya yang dia tulis tahun
1970 dalam keadaan lumpuh dan beberapa tahun kemudian meninggal
dunia. Pertanyaan-pertanyaan, tulis Jatman, penuh dengan tipu
muslihat, dilancarkan bertubi-tubi. Saya sering di
sudut-sudutkan dengan tujuan supaya masuk perangkap dan terpaksa
mengakui apa yang disodorkan oleh Ken Pei Tai.
Tandatangan Paksa
Menurut team pemeriksa. Prof dr. Mochtar telah mengakui
kesalahannya. Yaitu mencuri tabung cultur tetanus yang kemudian
dimasukkan ke dalam botol-botol berisi vaksin TKD. Surat
pengakuan sudah disiapkan, dan saya diminta supaya
menandatangani. Pernyataan itu bertentangna dengan hasil
pemeriksaan yang saya dilakukan tempo hari. Dan yang paling
berat, kalau saya tandatangani berarti saya mendorong Achmad
Mochtar ke liang kubur. Perdebatan seru terjadi. Saya
mengemukakan pendapat bahwa yang mengakibatkan kematian itu
adalah tetanus toksin. "Dengan panjang lebar saya terangkan
tentang tetanus baksil, tetanus toksin dan pembikinannya.
Untunglah dalam perdebatan itu seorang penasehat dan dokter
Jepang berada di situ, sehingga dia dapat membenarkan atau
paling sedikit menenangkan suasana. Penandatanganan tersebut
tidak jadi", kata Jatman.
Alasan untuk menangkap dan menghukum mati Achmad Mochtar tanggal
13 Juli 1945 memang nonsens. Satu-satunya lembaga yang membuat
vaksin. toksin dan anatoksin adalah Institut Pasteur di Bandung.
Vaksin yang dipergunakan di Klender juga berasal dari sana,
meskipun sebagian disimpan dalam kamar dingin Laboratorium
Eijkman. Tidak ada sesuatu yang nyata dalam bentuk materi maupun
keterangan aksi: bahwa Achmad Mochtar atau bawahannya telah
memasukkan toksin tetanus atau baksil ke dalam vaksin yang
disuntikkan kepada romusha di Klender. Sebaliknya, apa yang
dicoba di Institut Pasteur sebelum perang dan eksperimen yang
dilakukan Jepang di Jawa dengan percobaan membuat sendiri
anatoksin tetanus -- menimbulkan dugaan bahwa fihak Jepang
sendiri yang menimbulkan malapetaka yang terjadi" demikian Prof
MA Hanalian SM yang ikut ditangkap menuliskan kenangannya.
Prof. Hanafiah adalah ipar dari almarhum Achmad Mochtar. Jadi
sebenarnya tidak ada alasan untuk menangkap Achmad sebab dalam
laboratorium yang dipimpinnya tidak dibuat racun yang kemudian
membunuh itu. Tetapi Bahde Djohan memberikan isyarat, mengapa
dokter lulusan negeri Belanda itu ditangkap. Jepang mengenal
Acmad Mochtar sebagai seorang nasionalis yang terus menerus
mendesak supaya Indonesia selekas mungkin diberi kemerdekaan.
Dengan dalih perang racun tersebut, Jepang menangkap dia yang
dicurigai sebagai mata-mata musuh. Malahan ketika itu ada yang
mengatakan "kalau perut Achmad Mochtar dibedah akan keluarlah
bendera Amerika".
Drama Lubeck
Bahwa yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan romusha adalah
vaksin yang beracun itu, menjadi agak jelas setelah seluruh
tahanan keluar babak belur dari sel Ken Pei Tai. "Setelah kita
keluar, kakanda pernah bertemu dengan Prof Dinger. Kakanda
mendiskusikan dengan beliau soal yang hangat itu". tulis Prof.
Djoehana Wiradikarta kepada Bahder Djohan Menurut Dinger.
mungkin fihak Jepang telah melakukan eksperiman dengan anatoksin
tetanus. Toksin yang dibubuhi formalin itu menjadi "pernah",
tapi mampu melahirkan anibodies, bila diberikan kepada hewan
atau orang. "Ada kemungkinan bahwa pada pembuatan anatoksin
untuk profilaksis terjadi kelainan: orang lupa membubuhkan
formalin kepada toksin tetanus yang bersifat latihan dengan
akibat yang mengerikan", kata dokter Belanda ahli ilmu bakteri
pada Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta waktu itu, yang juga
ditahan untuk dijadikan saksi. Djoehana teringat pada "drama
Lubeck" di Jerman Barat: ketika bayi-bayi disuntik vaksinasi
anti TBC. Telah terjadi kesalahan yang memilukan karena
keteledoran: yang disuntikkan bukan Bacill Calmette Guerin yang
avirulent (tak berbisa). melainkan baksil TBC yang berbisa!
Anggota-anggota balatentara Jepang sendiri sebagian telah
mengakui keteledoran di Lembaga Pasteur tersebut Sebuah kutipan
dari Daily Telegrafh tanggal 21 Maret 1951 terbitan Sidney.
memberitakan pengakuan seorang dokter kapten Hirosato Nakamura
dalam pengadilan penjahat perang. Dia mengaku ikut ambil bagian
dalam eksperimen tetanus di Jawa. "Angkatan Laut Jepang di bekas
Jajahan Belanda tak punya serum atau vaksin untuk mencegah
tetanus dalam tahun 1942, karena blokade tentara sekutu",
katanya dalam sidang itu. Lantas dia memerintahkan laboratorium
angkatan laut untuk menyelidiki pembikinan anatoksin. Obat itu
dicobakan terhadap 17 orang yang sudah dijatuhi hukuman mati
oleh pengadilan Jepang. Hasilnya hampir semua orang yang jadi
kelinci percobaan, mati. Begitu pengakuannya.
Adakah hubungan antara pengakuan perwira angkatan laut itu
dengan bahan-bahan kimia yang ketika itu tersimpan di Lembaga
Pasteur, belum terungkapkan. "Materi persidangan dan dokumen
mengenai keracunan tetanus itu tentu ada di Australia, Jepang
maupun Belanda. Kita meminta pemerintah untuk memperoleh
bahan-bahan tersebut. Hingga dengan demikian nama Prof dr.
Achmad Mochtar dan dokter-dokter Indonesia lainnya
direhabilitir" kata Prof dr. Bahder Djohan berapi-api. Mencari
kejelasan dalam perkara ini agaknya cukup pelik, atau memang
barangkali saja sudah tak mungkin. Cuma yang jelas Presiden
Suharto dalam bulan Agustus 1972 telah menganugerahkan Bintang
Jasa Kelas III kepada Achmad Mochtar, yang sampai sekarang tak
diketahui di mana Jepang mengubur jenajahnya yang berjasa.
|