Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/V/29 Maret - 04 April 1975
   
Kriminalitas

Darah Di Kaca Mobil

Drs p. lumban tobing menjadi buronan polisi karena disangka sebagai pelaku penganiayaan berat atas lengkam siahaan di tebet, jakarta. Motif penyiksaan belum diketahui. Tersangka dikenal sebagai penjudi. (krim)

SEJAK awal bulan lalu Drs. P. Lumban Tobing dan seorang
kawannya, dinyatakan menjadi buronan polisi. Doktorandus ekonomi
ini, bertubuh kekar dan jangkung (tinggi kira-kira 180 cm),
disangka sebagai pelaku penganiayaan berat atas Lengkam Siahaam
Elingga kini korban masih tergeletak di RS St. Carolus, untuk
perawatan luka-luka pada kepala, leher dan punggung -- semuanya
luka berat. Latar belakang peristiwa di Tebet (Jakarta) itu
belum terungkap. Banyak dugaan: mungkin perampokan. Tapi harta
korban, berupa uang kontan Rp 1,5 juta dalam kantong dan Rp 2
juta dalam tas, masih utuh. Bisa saja karena sebelum para pelaku
sempat menggeledah korban, itu si Mamat anggota Koramil setempat
sudah memergoki. D. Siahaan, kakak korban, punya perhitungan
legini: penganiayaan terhadap adiknya jelas dilakukan melalui
rencana sebelumnya. Buktinya: dalam mobil adiknya terdapat
potongan besi dan hawat, yang diduga sebagai alat penganiayaan.
Jadi bukan sekedar perkelahian mendadak. Cerita lengkapnya
kurang lebih begini:

Copacabana

Tersangka, teman korban sendiri yang sudah dikenal setahun lalu,
menawarkan sebuah mobil Mercedes Benz seharga Rp 7 juta. Harga
belum jadi, karena Lengkam hanya berani Rp 5 juta. Malam naas
itu Lengkam hendak pergi mengendarai mobilnya sendiri, merek
Fiat. Baru 400 meter dari rumahnya, Lumban Tobing mencegat
bersama seorang kawannya -- sampai sekarang belum diketahui:
siapa dia itu. Maksudnya kelihatannya biasa-biasa saja: untuk
diajak memeriksa mercy lagi sebelum harga jadi. Lengkam menolak,
karena sudah malam dan dia ada keperluan sendiri. Tidak apa-apa,
begitu kira-kira kata Lumban Tobing. Tapi ia minta Lengkam
bersedia mengantarnya ke Copacabana - itu kasino di Bina Ria.
Tentu calon korban tidak curiga? karena mereka memang sudah
biasa asyik berdua-dua main judi. Tapi sungguh di luar dugaan.
Begitu dua tersangka ini masuk mobil, langsung mereka menyerang
Lengkam yang duduk di belakang stir. Kepalanya dihantam potongan
besi dan lehernya dijirat dengan kawat, adanya juga dihajar,
hingga dua tulang rusuknya patah-patah. Darah muncrat di jok dan
di kaca mobil.

Nah. Darah yang menodai kaca mobil itulah, yang memberi petunjuk
kepada Mamat, anggota Koramil yang kebetulan lewat dengan
sepedanya: ada apa-apa yang terjadi dalam mobil Fiat itu. "Ada
orang sakit", begitu kata salah seorang tersangka dari dalam
mobil ketika disapa Mamat. Oh, Mamat tidak mudah percaya.
Dilintangkannya sepedanya di muka mobil dan terus diperiksa
keadaan dalamnya. Sikap Mamat ini kurang menguntungkan bagi
tersangka. Mereka melompat dan lari secara terpisah. Salah
seorang entah yang mana panggil tadi dan terus kabur. Yang
seorang lagi tidak terkenal jahat Mamat yang tak tanggung-jawab
ini, lebih penting cuma menyelamatkan Lengkam. Maka korban
dibonceng sepeda pulang ke rumah keluarga Siahaan dan peristiwa
tanggal 4 Pebruari ini sudah dilaporkan kepada Siaga Metro Jaya.
Meskipun polisi boleh juga beruntung membekuk P. Lumta Tobing
dan kawannya.

Masih dugaan D. Siahaan seandainya penganiayaan dilakukan di
luar mobil, jiwa adiknya pasti sudah melayang. Di luar tentu
penganiyayaan dapat dilakukan ledih leluasa -- tidak terhalang
oleh dinding dan atap mobil. Hanya mungkin lebih mudah diketahui
orang. Kakak korban ini juga-menduga, tersangka sebenarnya sudah
berusaha "mengerjai", adiknya sejak tiga hari sebelum peristiwa
itu sendiri terjadi. Yaitu: ketika tersangka minta diantarkan ke
Teater MobiI (drive-in) Ancol. Untung korban yang sedang asyik
judi di Teluk Jakarta itu, enggan memenuhi permintaan temannya
itu.

Harap diketahui bahwa tersangka terkenal boros. Uangnya jelas ke
mana habisnya - di meja judi. Konon dagangan isterinya, seorang
lulusan universitas pula, pernah ikut ludes. Menurut keterangan
polisi? tersangka utama ini pernah tersangkut perkara penipuan
di wilayah Jaharta Barat. Ia karena carannya menganiaya Lengkam
juga dicurigai merampas sebuah taksi dan menganiaya sopirnya.
Sopir taksi yang malang itu luka-luka di kepalanya dan leher
terjerat tali plastik. Nantikan saja kerja polisi menangkap
buronan ini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data