Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/V/29 Maret - 04 April 1975
   
Ekonomi dan Bisnis

Membuntuti Malaysia?

Peraturan bagi pengendara sepeda motor agar memakai helm tetap dianjurkan. Pasaran di Jakarta melonjak. Pabrik helm di Malaysia kelebihan produksi, ke mungkinan beralih ke Jakarta sebagai pasaran. (eb)

PAK Hugeng sudah bukan Kapolri lagi, tapi soal helm (topi
pengaman) tetap terus. Kali ini, syukurlah, lebih bijaksana:
para pengendara sepeda motor tidak diwajibkan untuk memakainya.
Cuma dianjurkan. Dan tak ada gara-gara. Maka pasaran topi
pengaman yang sudah hampir sepi beberapa tahun yang lalu ramai
lagi. Permintaan semakin meningkat. Di samping pembelian
pribadi, pesanan juga datang dari instansi pemerintah yang
bermaksud memperlengkapi karyawannya dengan ini helm. Waktu ini
yang banyak tersebar di pasaran adalah topi buatan Taiwan,
Jepang, Hongkong, Singapura, Malaysia dan bahkan hasil asembling
Indohero --Jakarta. Yang cap Gajah buatan Taiwan ditawarkan
sekitar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 buatan Jepang Rp 3.250 dan
buatan Hongkong Rp 4.000 hingga Rp 5.000. Sedangkan yang buatan
Indohero biasanya menyertai setiap sepeda motor Suzuki yang
dibeli.

Modelnyapun bermacam-macam. Ada yang bak topi buruh Pertamina,
konon dikhususkan untuk para wanita, ada yang seperti helm
tentara bahkan ada yang nyaris seperti helm-nya para astronout.
Memang tidak terlalu sulit untuk mencari topi pengaman ini.
Biasanya hampir tiap toko onderdil dan bengkel sepeda motor
pasti memajangnya. Nampaknya mereka sedang bersorak dilanda
rezeki akibat anjuran pihak kepolisian.

Panas Dingin

Ribut helm di Jakarta ini tampaknya menjalar dari Semenanjung
Malayia. Akibat peraturan yang mengharuskan pengendara sepeda
motor di kota-kota Penang, Ipoh, Kuala Lumpur dan Petaling Jaya
memakai helm, para pengusaha berebutan mendirikan pabrik topi
pengaman. Dan topi pengamanpun membanjiri pasaran sejak 2 tahun
yang lalu. Akhirnya pengusaha pabrik helmpun mengeluh karena
lebih dari 200 ribu buah topi pengaman hasil pabrik 2 tahun yang
lalu masih saja tertumpuk di pasar. Keluhan mereka disebabkan
karena peraturan tentang penggunaan helm belum merata di seluruh
Malaysia sedangkan pabrik terus saja berproduksi. Seperti
diberitakan harian New Straits Times yang terbit di Kualalumpur,
seorang produsen saat ini hanya mampu menjual 15 buah topi
pengaman dari stok sejumlah 130 buah, dan rata-rata tercatat
penjualan sebesar 1O s/d 20' saja dari persediaan yang
menggunung.

Suasana panas dingin di Semenanjung Malaysia ini nampaknya
segera akan berakhir karena bukan tidak mungkin mereka segera
akan menjual helm ke Indonesia. Lalu siapa yang paling beruntung
dengan ribut-ribut soal topi pengaman di Jakarta ini. Mengutip
karikatur Oom Pasikom di Kompas:" sekarang ini hanya pedagang
helm yang paling untung. Tiap hari menaikan harga seenaknya!"


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data