Supir STM & Presiden Komisaris Penuturan dua pengemudi bis kota: romulus john edward simamora dan lasawade. Menurut yang pertama, pengemudi harus ngebut untuk mengejar setoran. Menurut yang terakhir tak suka ngebut.(sd) |
APA sih kerja yang mulia itu? Untuk menjadi sopir bis kota orang
mulanya amit-amit. Orangtua umumnya tak suka mendengar anaknya
memasang niat ke sana (lain halnya buat jadi supir kapal
terbang). Biar begitu toh lapangan kerja supir bis kota tersohor
menggiurkan - meski masuk ke sana umumnya diberi dalih dengan
alasan "terdampar". Paling tidak kenyataan ini bisa diikuti dari
pengalaman Romus (28 tahun) pengemudi bis kota Arion trayek
Banteng Priok di Jakarta. Tulen keluaran Sidikalang (Sumatera
Utara) dengan nama lengkap: Romulus John Edward Simamora, dia
turun ke Jawa bermula mengantongi niat melanjutkan sekolah.
Selepas STM di Medan, rencananya masuk Akademi Teknik Medan, Umum
di Bandung. Kurang mujur baginya, dia luput kebagian tempat.
Tapi ini bukan alasan untuk serta merta balik mudik. Konon di
kalangan perantau ada tekad sekali langkah diayunkan tentu aib
untuk berbalik surut.
Lalu apa yang bisa diperbuatnya dengan modal selembar ijazah
STM? Memang Romus sempat beroleh kerja di sebuah tempat
pemborong bangunan. Sebagai-kuli kasar. Ini jabatan konon
membikinnya gamang. Karena sejak kecil angan-angannya sudah
menyimpulkan: duit itu penting. Misalnya, pada usia 12 tahun
sudah dijalaninya kerja sebagai kenek bis di daerahnya. Bahkan
menarik becakpun pernah dilakukannya, di Medan. Namun jadi kuli
kasar toh dirasanya tak sedap. Lantas apa? Ini riwayat lima
tahun silam. Diliriknya kerja supir bis kota, sebagai satu
kemungkinan yang lebih nyaman. Tapi untuk dapat duduk di
belakang, kemudi, jelas bukan remeh. Romus menyediakan diri
sebagai kenek lebih dulu. Sampai datang gilirannya beroleh
pengakuan sebagai supir yang sah. "Kenapa mesti malu?", cetusnya
di celah kepulan asap 555 - "dibanding merampok atau menodong?"
Emosi Kita
Betul. Lagipula apa sih beban seorang pengemudi bis kota? Hanya
membawa penumpang dengan selamat sampai, tujuan - dan bukan
mengantarnya ke akhirat. Tetapi untuk tugas ini lazimnya para
supir tak diperkenankan, ngobrol segala - atau terusik fikiran
lain. Dan larangan itu ternyata cukup berat juga. Sebab, di
samping seorang supir harus mengerahkan perhatian buat
ketenteraman jalan raya (mestinya begitu, dan udak edan-edanan),
iapun perlu membagi perhatian pada kejujuran kondektur - plus
kemungkinan adanya penumpang jahil yang tak mau bayar atau
lainnya Perkara kondektur yang adakalanya culas itu, tak urung
melibatkan pengemudinya memang. Sebab bila satu ketika ternyata
setoran kecolongan 10 karcis, wasangka lazim ditimpakan
sekaligus pada supirnya pula. Akibatnya dua-duanya bisa dipecat.
Biasanya memang tak mudah menolak tuduhan bersekongkol ini.
"Padahal cari kerja susah", ujar, Romus rada gemas. Ditunjuknya
bagaimana supir cadangan melimpah-rush - dan bersorak gembira
bila ada, satu saja pengemudi yang absen.
Lantas pasal lain yang sangat populer. Soal kebut-kebutan.
Dalihnya sudah tentu mengejar setoran. Nampaknya memang ada
keyakinan di kalangan pengemudi bis kota: jika tidak ngebut,
rezeki dilalap orang. Meski itu boleh disangsikan, tapi Romus
punya pengalaman. Mulai menarik jam 14 dan bubar jam 22. Bila
tak disertai tancap gas menurut penuturannya sangat gukar
mencapai enam rit, selain itu ada semangat mencapai lebih dari
400 karcis - buat beroleh uang perangsang: Sebab konon, bila
setoran berada di bawah jumlah 400 itu, biasanya pengemudi
mendapat teguran. Romus memang tidak mati-matian membela
kebenaran rumusnya itu. Sebab diakuinya: "Emosi kita juga pegang
peranan dalam soal ngebut ini", katanya.
Di atas segala-galanya, lambat-laun Romus yang biasa dipanggil
si Jenggot ini toh menyadari bahwa uang bukan satu-satunya
kebutuhan. "Saya ingin melanjutkan sekolah, juga di samping
kerja", tuturnya. Kini kesempatan itu dirasanya terbuka -
setelah beristeri lebih dua tahun dan belum dikurniai anak. Dan
ia ingin sekolah, saudara.
Pengemudi big kota yang lain, dari perusahaan Solobone Agung,
barangkali tergolong agak tragis. Namanya: La Sawade, Tidak sak
lagi, pemilik wajah yang tenang ini asal-muasalnya dari Bugis.
Usianya tak muda lagi, meski juga belum terbilang lanjut. Baru
47 tahun. Dengan begitu bisa dimaklumi bila dia tak berniat
melanjutkan sekolah seperti si Jenggot. Sebab yang jadi
tanggungannya bukan sekedai seorang isteri. Melainkan sudah
tujuh orang anak, dan ada yang sudah dewasa pula. Mereka
semuanya berada di Ujungpandang, dan La Sawade baru tiga. tahun
ini di Jakarta. Hingga kini menumpang pada famili. Saat pertama
dia menginjakkan kaki di kota metropol - boleh bertaruh - tentu
bukan mimpi menjadi supir bis kota. Lagi pula di Ujungpandang La
Sawade terbilang punya kursi terpandang: sebagai presiden
komisaris sebuah perusahaan. Meski jabatan ini lazim berbau
kehormatan ketimbang prestasi, singkat cerita toh lumayan juga.
Malang tak dapat ditolak perusahaan itu jatuh pailit. La Sawade
lalu memutuskan mengadu nasib di ibukota. Hari-hari pertama
dijalaninya kantor demi kantor. Lamar sana lamar sini, tak
dinyana tapak, sepatu malah kian penyok: dan itu sempat makan
tempo dua tahun. "Kerja tak dapat, uang pun habis", ujarnya
sambil menarik nafas. La Sawade memang tak seluruhnya sial.
Selama hari yang terbilang pahit itu masih terselip kesempatan
ngobyek meski serba kecil-kecilan. Walhasil datang saatnya La
Sawade memutuskan: masuk sebagai, supir bis kota.
Kata orang, umur membawa peranan dalam sikap hidup. Buktinya La
Sawade nampak jauh lebih tertib mengemudikan bis. Sambil
menghunus sebatang Dunhill dan tersenyum sedikit, La Sawade
berkata: "Saya tak suka ngebut, rejeki toh tak bisa dikejar".
Nah: Bila di kalangan pengemudi bis kota yang jumlahnya paling
tidak empat ribuan ini (dihitung dari 2000 bis @ 2 supir) ada
kesepakatan. begitu, tentu boleh, dijamin jalan raya ibukota tak
bakal rusuh. Soalnya La Sawade bisa membuktikan bahwa gaji yang
diperoleh (meliputi, nyaris Rp 50 ribu) "merupakan penghasilan
yang cukup". Bahkan menurut pengakuannya "sedikit-sedikit saya
menabung juga". Ini memajukkan bahwa yang penting ada kemampuan
mengatur diri: Perkara butuh duit, berapa sih orang bakal puas
dengan duit?
Cuma La Sawade merriang tak seluruhnya mengandalkan hasil dari
gaji. Sebab untuk ibunya anak-anak yang di seberang, harus ada
nafkah wajib. "Sambil menanti tugas jam 14, saya ngobyek juga",
tuturnya. Tapi adakah La Sawade merasa mapan dengan mata
pencahariannya sekarang? Termenung sejenak, dia menggeleng.
"Kalau ada kesempatan yang lebih baik, saya akan beralih
"tugas". Apa kerja yang sedang diincarnya, kiranya masih
rahasia. Orang yang berwajah bersih dengan perawakan kekar ini
kemudian tersenyum lagi. Matanya lucu bila sudah begitu. Kakinya
lantas menekan pedal kopling dengan kombinasi gas. Gigipun
masuk. Maka bis itupun berlalu, hanyut di tengah hiruk-pikuk
jalan raya ibukota yang tak pernah tidur.
|