Serbuan Transmigran Banjarmasin semakin dipenuhi gelandangan. Mereka berasal dari daerah transmigran. Penyebabnya tidak hanya faktor ekonomis saja. Razia sering dilakukan tapi jalan keluarnya belum siap.(kt) |
PROFESI gelandangan dan sejenisnya ternyata bukan monopoli
kota-kota besar di Jawa. Dengan penduduk belum sampai setengah
juta Banjarmasin kini telah ketularan pula. Mulai anak-anak
kecil yang baru pandai merangkak sampai nenek-nenek tua berwajah
keriput. Gelandangan ini ibarat prajurit tanpa bedil, dengan
baju compang camping bagai jubah pendeta, berjalan
tersaruk-saruk di tengah hingar-bingarnya kota. Pemandangan yang
memilukan atau juga memalukan. "Saya dulu punya sawah dan rumah,
sekarang sudah terjual", ucap seorang penghuni yang tinggal
menggelantung di bawah jembatan Antasari. Kekayaannya kini
tinggal tikar buruk, sebiji buntelan dan sebuah periuk nasi.
Manusia golongan ini mengaku bekerja sebagai pendorong gerobak
milik pedagang Pasar Blauran yang biasa buka malam hari. Berapa
jumlah mereka? Menurut Salman Sidik, Kepala Kesra Kotamadya
Banjarmasin tahun 1974 kemaren angkanya sudah naik 35%. "Dan
harap dicatat", katanya pula, "itu angka khusus untuk
gelandangan jenis anak-anak usia antara 5 sampai 15 tahun".
Sebab di samping itu tercatat pula tuna karya sebanyak 229 orang
dan tuna wisma 39 orang.
Makin meluapnya gelandangan, menurut versi seorang Pejabat di
Kantor Gubernur Kalimantan Selatan (yang tak mau disebut
namanya), tidak hanya lantaran faktor sosial ekonomi saja. ra
memberi contoh: ada beberapa orang transmigran hijrah ke kota.
Tampaknya penyebabnya bukan semata-mata panggilan perut dan
tiadanya hiburan di pedalaman. Sebab menurut sementara pengamat
bagian terbesar dari anak-anah gelandangan ini justru anak-anak
transmigran. Beberapa daerah transmigrasi seperti Tamban,
Tambarangan dan Barabai memang ada menyimpan beberapa gelintir
gelandangan ini. Apalagi di daerah Transad Binuang yang
petaninya semata-mata hidup dari bertanam palawija.
Belum Punya Uang
Agak memilukan juga, bahwa pada saat-saat tertentu sehabis
menunaikan tugas membantu orang tua mereka bekerja di tanah
pertanian, anak-anak tadi beramai-ramai meninggalkan desa ke
kota. Tujuannya sudah tentu, bekerja sebagai peminta-minta
sekaligus hidup di kaki lima atau di mana saja. Ini berlangsung
sampai datang kabar dari pedalaman, bahwa sang bapak dan sang
ibu sudah panen. Dan pada hari-hari tertentu, kedua orang tua
ini menyusul pula ke kota, turut meramaikan barisan para
pengemis. Biasariya antara si anak dan orang tua mengadakan
pertemuan di bawah jembatan Coen, di samping jembatan 10
Nopember di Pasar lama atau jembatan Antasari di Pasar Baru.
Tentu saja terhadap mereka sudah seringkali dilakukan razia oleh
pihak Kotamadya dan Dinas Sosial. Dan ini artinya hanya terbatas
pada melokalisir dan mengumpulkan data belaka. Anak-anak
dikembalikan ke kampung atau bagi yang. dianggap kurang sehat
diboyong sebentar ke R.S. Ulin. Sesudah itu? "Apa boleh buat
kalau mereka mengulangi pekerjaan semula" ujar Salman Sidik, "
soalnya Dinas Sosial dan Kesra sampai kini masih belum punya
uang dan wadah penampungan. Lebih-lebih lagi, tambah pejabat
itu, ' kantor kami bukan semacam proyek yang bisa memberikan
pekerjaan bagi ratusan orang, sebab karni tahu ribuan lagi warga
kota yang masih nganggur tak punya pekerjaan". Jadi? Begitulah.
|