Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/IV/22 - 28 Februari 1975
   
Kriminalitas

Matinya Seorang Buruan

Djoko walujo, penjahat, bunuh diri ketika dikepung polisi dan massa. Ia berada di rumah djien tjien hwa alias heru wahono, tempat istrinya bekerja. Ia hukuman yang lolos dari lp surakarta. (krim)

TANGGAL 4 Pebruari Semarang geger. Biang keladinya Djoko Walujo,
penjahat yang sudah lama diincer polisi Persiapan polisi Jawa
Tengah tidak kepalang tanggung. Selain senjata yang biasa, juga
telah disiapkan bom gas air mata. Senjata otomatis yang tembak
ada pula di tebing tanggul kali Banjirkanal. Sebagai imbangannya
claim mobil patroli juga mobil ambulans. Malah tadinya akan
dipakai panser untuk mendobrak pintu rumah di Jalan Tuntang 11/7
agar Djoko bisa diringkus.

Malam itu sekitar jam 02.00 orang sedang pulas tidur, termasuk
Djoko sendiri. Ia memilih tempat di dekat pintu supaya bisa
mengawasi siapa-siapa yang keluar masuk. Biar bukan tuan rumah.
Djoko bisa mengatur segalanya karena ada senjata api pada
dirinya. Yang bisa dibilang tuan rumah hanya isterinya. Ny.
Sukarni --- itupun hanya pembantu rumah tangga Djien Tjien Hwa.
Lantaran ada teriakan "maling-maling", Djien Hwa - yang sudah
mengganti nama Heru Wahono -- cepat keluar. Tentu harus melewati
Djoko dan akibatnya ia ditembak tamunya. Untung Djoko tidak
begitu jitu. Yang disangka maling sebenarnya 2 polisi Komtabes
Semarang, sehingga makin terasa posisi Djoko terpojok.

Semua orang, 9 jumlahnya termasuk isierinya sendiri, dijadikan
sandera oleh Djoko. Siapa berani keluar akan ditembak. Dan siapa
berani masuk rumah itu juga bernasib sama. Semprotan gas air
mata oleh polisi menambah kacau suasaa dalam rumah. Anak-anak
bertangisan tetapi itu tidak mengendorkan kebandelan Djoko. Agus
Sulistyo, 4 tahun, pernah mencicipi sepakan kaki Djoko, tetapi
justru tangisnya makin keras. Mungkin merasa sudah jenuh Djoko
mulai mengijinkan anak-anak diberi makan dan ia sendiri meminta
rokok.

Hidup-hidup

Di luaran sudah berkerumun polisi dan rakyat untuk melihat
bagaimana alat negara ini meringkus pengacau masyarakat itu.
Lebih dari 6 jam polisi berusaha menangkap Djoko hidup-hidup.
Genting rumah dihancurkan supaya polisi bisa jelas nnelihat
orang-orang yang ada di dalanmya. Djoko tetap menunjukkan
kekuatannya. Dengan asal tembak saja ia muntahkan pistol FN-nya.
Salah satu peluru berhasil mengenai Pembantu Letnan Satu Herman
Djojo. Polisi ini, dia Polisi Lalu Lintas, yakin bahwahanya
dengan tembak menembak tidak mungkin Djoko menyerah.
Satu-satunya resep harus "berani mati". Dan Herman menyediakan
dirinya untuk itu. Ia sudah berhasil memasuki pagar rumah
persembunyian Dioko setelah tentu saja ia melaporkan dulu
kesediaannya itu kepada atasannya. Selesai berkonsultasi dengan
Kepala Staf Komdak IX Kolonel Polisi Mulyono Santoso polisi lalu
lintas ini segera merunduk, mendekati sasaran. Sambil berlindung
di balik tembok ia menembaki kaca jendela tetapi dari arah itu
pula datang tembakan dan mengenai lenan kirinya. Upaya lain
agar Djoko menyerah masih ada. Kali ini Heri Walangitan, kawan
Djoko satu proesi, dimanfaatkan. Ia boleh keluar dari kamar
tahanannya dan diberi senjata megafon. Heri berteriak agar
Djoko menyerah. Namun kemauan Djoko lain. Dalam kamus Djoko
tidak ada istilah menyerah. Penjahat ini hanya mengenal
"membunuh dan dibunuh". Pilihan terakhir jatuh pada "membunuh"
dengan obyek dirinya sendiri. Dan berhasil:

Polisi mengakui Djoko pintar menghindar dari kepungan. Pandai
pula ia melarikan diri dari penjara di Surakarta. Bercampur
dengan sampah dalam tong ia bisa keluar, tentu saja dengan
dibantu pegawai penjara. Dan sementara menjemput isterinya,
Djoko sudah pula meuyiapkan perampokan. Sasarannya siapa saja,
termasuk Ketua Pengadilan Negeri Salatiga yang dicomot mobilnya.
Hakim ini beruntung bisa memperoleh kembali kendaraannya,
meskipun Djoko bisa lolos. Ketika lolos dari penjara Surakarta
sebenarnya ia sedang menjalani hukuman 15 tahun. Sudah
profesionil ia mengganggu ketenangan masyarakat. Dalam mengobrak
abrik daerah Jawa Tengah ia bergabung dengan berbagai komplotan.
Sumpah tidak akan menyerah hampir saja kendor pada detik-detik
terakhir sebelum bunuh diri. Ia waktu itu bersedia menyerah asal
kawan-kawan lainnya juga ditangkap. Namun hanya sebentar
pendirian Djoko ini. Nyatanya ia lebih suka mati daripada
menyerah.

Permintaan Terakhir.

Hanya ada satu permintaan Djoko pada orang-orang yang masih
hidup: mayatnya agar dibawa ke Jalan Anggrek X/29, rumah
kakaknya. Permintaan tertulis yang cuma satu itu tidak juga
dikabulkan. Ia dibawa ke rumah sakit Dr Karyadi, tentu untuk
diperiksa, dan dikubur di Bergota. Yang agak merepotkan ialah
bahwa yang diperiksa bukan cuma mayat Djoko, tetapi juga
orangorang yang masih hidup dan jadi sandera termasuk Ny.
Sukarni, Djien Tjien Hwa, Tjin Min dan Ny. Djien Sioe Hong. Yang
juga perlu diperiksa adalah Ce Kian yang namanya disebut Djoko
pada satu dari "surat wasiat"nya. "Senjata ini pernah buat
merampok (oleh) Ce Kian", begitu bunyinya. Beberapa kali
kejahatan memang pernah dilakukan Ce Kian dan ia sempat mendekam
di kantor polisi.

Djien Tjien Hwa tentu menghindari di-sangkut-sangkutkan dengan
Djoko. Katanya baru 2 kali Djoko datang ke rumahnya. Heru tahu
Djoko membawa senjata dan Heru berusaha melaporkan kepada yang
berwajib sehingga di antara mereka timbul cekcok. Katanya Djoko
mengancam keselamatan keluarga Heru. Karena ancaman itu Heru
merasa tidak menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Sampai saat
tamunya tewas.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data