Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/IV/08 - 14 Februari 1975
   
Nasional

Kini Siapa Yang Anti Modal Asing ?

Negara minyak Arab mengincar perusahaan-perusahaan terkemuka di jerman barat dan Amerika agar dapat membeli sahamnya. pemerintah negara industri berusaha mencegahnya. jepang merasa was-was. (nas)

KINI bukan saja negara-negara berkembang yang merasa khawatir
akan masuknya modal asing. Tapi banyak negara-negara industri
sudah pasang kuda-kuda untuk membendung serbuan petro fulus.
Rasa Was-Was bahwa kapitalis-kapitalis Arab itu akan menguasai
modal dalam negeri mereka, kini menjadi perhatian utama
pemerintah negara-negara maju.

Ketika Shah Iran berlibur di Swiss di musim dingin ini, dia
bertemu dengan Friedrich Karl Flick pemilik 39% saham
Daimler-Benz, itu perusahaan Jerman yang memprodusir mobil
Mercedez-Benz. Kabar angin segera meluas bahwa Shah Iran
berminat untuk mengambil oper saham Herr Flick, sekalipun
sebulan sebelumnya Menteri Keuangan Iran menegaskan bahwa Iran
tak berminat untuk menanam uang minyaknya ke
perusahaan-perusahaan di Jerman. Kabar ini cukup membikin panik
kalangan industri Jerman dan bahkan Perdana Menteri Helmut
Schmidt langsung turun tangan sendiri mencegah terjadinya
pengambil operan saham ini. Hasilnya adalah, bukan Iran yang
membeli, tapi Deutche Bank yang terpaksa mengambil alih saham
Herr Flick sebanyak 29% dengan harga US$ 864 juta. Sejak Kuwait
dengan diam-diam membeli 14% saham Daimler-Benz beberapa waktu
yang lalu, kalangan ekonomi Jerman Barat terutama
bankir bankirnya berusaha mati-matian untuk mencegah terulangnya
saham-saham perusahaan terkemuka Jerman lepas ke tangan
negara-negara Arab. I'erdana Menteri Schmidt sudah menyinggung
tentang perlunya pengawasan langsung atas modal asing yang masuk
ke Jerman, tapi sejauh itu pengawasan langsung belum resmi
menjadi putusan pemerintah Jerman Barat. Cara yang digunakan
sekarang untuk menyetop modal Arab adalah dengan jalan buru-buru
mencari bank Jerman sendiri yang terus membeli saham perusahaan
yang diincar oleh negara minyak, seperti yang dilakukan
Comnerzbank terhadap suatu perusahaan lat-alat besar Jerman
baru-baru ini.

Kekhawatiran juga sudah timbul di Amerika terhadap kemungkinan
adanya negara minyak yang ingin menanam modalnya dan menguasai
perusahaan-perusahaan Amerika terkemuka. Kekhawatiran ini memang
bisa dimengerti. Dollar minyak yang dimiliki negara-negara
penghasil minyak bisa digunakan dalam sekali caplok untuk
membeli 51% saja dari 10 perusahaan Amerika terbesar. Perusahaan
pesawat terbang Lockheed sesudah mendapat tekanan dari
pemerintah AS terpaksa menolak maksud Iran untuk menanam US$ 1
milyar di saham-sahamnya, sekalipun perusahaan tersebut
mengalami kesulitan likwiditas. Senat AS juga sudah mulai
memikirkan cara untuk membatasi penanaman modal asing ini
terutama dari negara-negara penghasil minyak. Senator Harrison
Williams, ketua Subkomisi Senat Urusan Bank akan mengajukan
rancangan undang-undang yang memberi kekuasaan kepada Presiden
untuk memblokir permintaan penananam modal asing yang akan
ditanam lebih dari 5% pada saham perusahaan. perusahaan yang
beraktiva lebih dari US$ I milyar. Kalau rancangan undang-undang
ini diterima, berarti perusahaan-perusahaan seperti General
Motor dan lF3M tidak boleh menjual lebih dari 5% sahamnya kepada
penanam modal asing. Dan kemungkinan rancangan undang-undang ini
disetujui Senat besar sekali, mengingat sentimerl nasionalisme
Amerika terhadap negara-negara Arab semakin tebal kelihatannya.
Ian kalau sampai AS mernpunyai UU pembatasan modal asing,
kritik akan timbul terhadap standar dobel yang dipakai AS: AS
sendiri selama ini merupakan pengkritik paling keras terhadap
negara yang punya phobi terhadap modal asing.

Kalau Amerika dan Eropa masih mempunyai kekuatan untuk
mempertahankan diri dari serangan uang minyak terhadap saham
perusahaan-perusahaannya, maka lain halnya dengan Jepang. Dengan
kebutuhan minyakuya yang 80% tergantung dari Timur Tengah,
Jepang nampaknya tak punya daya tahan terhadap satu ancanam
negara Arab yang menginginkan membeli saham
pcru.sahaan-perusahaan Jepang. Orang Jepang merasa lebih baik,
tak memikirkan kemungkinan ini, dan nampaknya mereka tak punya
keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit ini. Perdana Menteri
Takeo Miki dalam suatu konperensi pers minggu lalu ketika
ditanya bagaimana kebijaksanaan pemerintah Jepang dalam
menghadapi negara-negara Arab yang ingin menanam modahlya di
Jepang, hanya bisa mengelakkan pertanyaan tersebut. Seorang
penjabat Kementerian Keuangan Jepang menyatakan bahwa uang
minyak sebagian sudah didepositokan di bank-bank Jepang. Dan
kalau uang tersebut hendak ditanam sebagai penanaman port-folio
(sekedar menanam modal tapi tak ikut campur manajemen) akan
disambut dengan gembira. Sementara itu para pejabat bursa saham
Jepang sadar bahwa dengan surplus uang minyaknya yang besar itu,
waktunya akan tiba di mana negara-negara minyak akan minta
Jepang supaya memperkenankan uang mereka ditanam pada saham
perusahaan-perusahaan Jepang. Terhadap kemungkinan ini, orang
Jepang rupanya tak sanggup membayangkannya. Dus tinggal satu
pertanyaan yang tak terjawab: apa yang akan dilakukan Jepang,
bila tibatiba beberapa negara Arab memaksa untuk membeli
saham-saham perusahaan mobil -- dan muncul kemudian perusahaan,
misalnya, "Al-Toyota"?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data