Menjangkau Dompet Rakyat Mesin jahit merk singer mulai diproduksi di waru,
surabaya. Spare-parts dan komponen lainnya masih di
import. Diharapkan pabrik ini bisa menampung tenaga
kerja dan menghasilkan mesin jahit yang murah. (eb) |
NAMA Singer sudah tak asing lagi bagi kebanyakan para ibu
rumahtangga di Indonesia. Mesin jahit itu mulai masuk kc sini
sejak 1885. Dan baru kemudian (1956) disusul dengan membuka
pabrik asembling di Surabaya. Lalu dikembangkan pada tahun 1960
dengarl membuka fasilitas pembuatan mesin dan pengecatan. Baru
pada viei tahun lalu pabrik itu berproduksi alas nama PT Singer
Industries Indonesia, Ltd. di Waru, kabupaten Sidoarjo, lebih
kurang 10 kilometer dari Surabaya. Ketua BKPM, Drs Barli Halim
yang meresmikan pabrik itu pekan lalu, tentu saja mengharapkan
agar pabrik itu bisa menampung tenaga kerja Indonesia sebanyak
mungkin. Dan menghasilkan mesin jahit dari model yang yahut,
sampai jenis yang mungkin terjangkau oleh dompet rakyat.
Mewakili Menteri Perindustrian, Mohammad Yusuf, Ketua BKPM
itupun berharap "agar Siger jangan membatasi produksinya demi
mempertahankan harga yang tinggi".
Bodi
Tentu saja tidak setiap rumahtangga dalam waktu yang singkat
lantas bisa memiliki mesin jahit -- apakah itu namanya Singer
ataupun Fatma yang tube asembling sini. Tapi dari kapasitas
produksi yang 50.000 buah setahun, PT Singer itu juga
menghasilkan jenis yang sedangan dengan harga Rp 35.000 sebuah
Dan boleh dicicil. Kini dalam sehari pabrik di Waru itu baru
menghasilka 80 mesin jahit sehari. Sekalipun yan betul-betul
keluaran kecamatan itu hru berbentuk bodinya. Adapun bodi badan
mesin secara lengkap termasuh kabinetnya - dari enam jenis,
yaitu model 15 N, 27, 289, 224 U, 179 N dan 690 U. Sedang yang
namanya spareparts dan komponen-komponen lainny, semuanya masih
harus dimasukkan dari luar negeri. Bahkan biang besi untuk
pengecoran juga masih perlu diimpor dari luar. "Singer
membutuhkan jenis besi tertentu untuk menjaga standar muunya",
kata Otto H. Ionker. Tapi keterangan direktur PT Singer
Indonesia di lapangan terbang Juanda itu lebih masuk akal lagi
ketika dia berkata "harga yang diimpor itu lebih murah daripada
yang ada di sini".
Sebagaimana juga industri PMA atau semi asing lainnya, mereka
tentu lebih suka memasukkan sebanyak mungkin komponen dan
alat-alat di negeri asalnya. Soalnya, di samping barangkali
soal kwalitet, fasilitas pajak masuk selama masih dirasa
menguntungkan pasti akan dimanfaatkan. Lain halnya jika ada
ketentuan tegas dari Pemerintah bahwa hagaimanapun juga harus
mengambil sekian persen komponennya dari lndonesia. Bicara soal
berapa besar andil dalam negeri (local content) dalam membnat
sesuatu barang produksi memang bisa menimbulkan debat yang
panjang. Tapi untuk sekedar bahan bandingan, konon industri
asembling Singer di Malaysia punya local content yang cukup
tinggi. Tapi di Indonesia masalah itu agaknya masih merupakan
soal nanti. Kini yang lebih banyak dipersoalkan baru menyangkut
berapa banyak buruh dan pegawai Indonesia yang bisa ditampung
di samping harga yang relatif murah seperti diharapkan arti
Halim.
|